4.4.14

Tidur Meningkatkan Kecerdasan Anak

Selama ini, mungkin sudah banyak yang memahami jika tidur bercukupan memungkinkan otak dan organ tubuh lainnya berkembang serta bekerja optimal.  Namun, ketika berujar bahwa tidur berpengaruh terhadap kecerdasan anak, bisa jadi banyak pihak belum mengetahuinya secara pasti. 

“Memang, tidur cukup bukan berarti membuat anak menjadi pintar, akan tetapi, harus dipahami bahwa tidur cukup membuat fisik dan mental anak menjadi lebih kondusif. Hal inilah sebenarnya yang berpengaruh pada kecerdasan anak,” papar Denny Mulyadi, seorang dokter yang juga merupakan guru besar salah satu universitas ternama di Bandung.

Penyebab dari semua ini sebenarnya berasal dari produksi kortisol, salah satu hormon yang berperan membantu anak dalam menghadapi stress yang dihadapinya setiap hari. Hormon ini juga berguna untuk mengurangi kepenatan dan peradangan. Hormon ini sendiri mencapai titik tertinggi sejak tengah malam hingga pagi dini hari. Jadi, teramat wajar bila tidur malam kurang, anak kerap kelihatan loyo alias kurang vitalitas dan gampang uring-uringan. Ini karena minimnya produksi kortisol maupun rendahnya pemulihan sel-sel yang akhirnya membuat kemampuan tubuhnya jadi terbatas untuk melakukan berbagai kegiatan.
Tentu saja, kebutuhan tidur anak harus disesuaikan. Hal ini penting untuk dicermati karena porsi tidur yang berlebihan justru akan membuat tubuh malas beraktivitas dan pikiran tidak kreatif. Porsi tidur yang cukup bagi anak berbeda-beda tergantung usianya. 

Bayi
Setidaknya 75 persen dalam sehari dipakai bayi untuk tidur, yaitu sekitar 20 jam. Ini wajar karena bayi butuh waktu lebih banyak bagi proses tumbuh kembang fisiknya atau belum menjurus ke arah perkembangan psikomotorik, pengetahuan, dan sebagainya. Baru setelah berusia 6 bulan, kebutuhan tidurnya sedikit berkurang, yakni sekitar 12-15 jam per hari. Mengapa demikian? Karena di usia ini bayi mulai asyik dengan berbagai kemampuan barunya seperti memandangi obyek yang jadi pusat perhatiannya atau menggerak-gerakkan tangan dan kakinya.
Balita
Memasuki usia setahun dan seterusnya, jam tidur anak semakin berkurang atau menjadi sekitar 10-12 jam. Separuh hari si balita dihabiskan untuk menjajal kemampuan yang semakin meningkat, terutama dalam hal berinteraksi atau bersosialisasi.
Anak usia sekolah
Sesuai tahap perkembangannya, begitu menginjak usia 5 tahun, maka kebutuhan tidur anak semakin berkurang menjadi 8-10 jam per hari (usia 6 tahun butuh 10 jam, anak 12 tahun 9 jam). Di usia ini ada berbagai aktivitas yang mesti mulai dijalaninya secara teratur, seperti sekolah, les, bermain dengan teman, dan sebagainya. Selain itu, pada usia ini anak umumnya kian dituntut untuk mengembangkan kemampuannya bersosialisasi. Agar kebutuhan tidur dan beraktivitas dapat berjalan seimbang, sedari kecil latihlah anak tidur dengan jadwal teratur.
(Nugraha Sugiarta)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails