10.1.14

Sekelumit Tentang Blangkon

Siapa yang tak mengenal blangkon? Tutup kepala yang banyak digunakan oleh suku Jawa dan juga Sunda ini (di Sunda kerap disebut bendo) masih memiliki cukup banyak penggemar. Sayang, tak ada catatan tertulis yang menjelaskan secara jelas mengenai asal-muasal penutup kepala tersebut.

Sejumlah teori mengatakan bahwa penggunaan blangkon terpengaruh oleh budaya Islam dan Hindu yang memang mengakar sangat kuat di tengah masyarakat di pulau Jawa. Pedagang asal Gujarat pada masa lampau yang seringkali singgah dan menggunakan sorban sebagai penutup kepala ditengarai sebagai salah satu pemicu lahirnya sorban di tengah masyarakat pribumi. 


Teori yang lain mengatakan bahwa pada masa dahulu, terjadi krisis ekonomi sehingga kain menjadi barang mahal. Hal ini mendorong terjadinya modifikasi pada sorban agar tak terlalu menggunakan banyak kain dalam pembuatannya. Dari sana, sudah dapat ditebak, lahirkah blangkon.

Membuat blangkon sendiri bukanlah perkara mudah. Selain memberi lapisan dalam pada kain blangkon untuk memberikan bentuk yang diinginkan, diperlukan keahlian khusus yang disebut dengan mewiru, yakni melipat-lipat kain bolak-balik dalam ukuran yang sama. Sesungguhnya, pelipatan ini tidaklah boleh harus sembarangan karena blangkon yang baik harus memiliki lipatan sesuai dengan tanggal hari sang pemakainya. Pakem-pakem ini pada dasarnya menentukan standar cita rasa baik para pemakainya maupun para pembuat blangkon.

(Nugraha Sugiarta)


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails