24.1.14

Menikmati Kehangatan Terapi Matahari



Matahari adalah salah satu anugerah terbesar yang diberikan oleh Sang Penguasa Alam kepada umatnya. Tak heran jika ia, sang penerang bumi itu, acap disebut sebagai pusat dari tata surya. Di samping menjadi penerang jagad, matahari ternyata sangat diperlukan pula oleh manusia dalam koridor kesehatan. Benar, sinar matahari ternyata tidak cuma bermanfaat sebagai sumber energi dan membantu proses pembentukan vitamin D bagi tubuh. Dalam takaran sedang, paparan sinar matahari penting untuk kesehatan fisik dan psikologi. Saking pentingnya peranan yang dimilikinya, semenjak jaman Yunani pun telah dikenal sebuah terapi yang menggunakan sinar matahari sebagai mediumnya dan disebut dengan “helioterapi”.

Adalah Niels Finsen yang sukses menangani TBC kulit dengan radiasi sinar ultra violet (UV). Temuan itu membuat Finsen memperoleh hadiah Nobel tahun 1903. Tahun 1920-an, terapi matahari makin dikenal secara luas. Selama Perang Dunia I, dokter bedah militer Jerman menggunakan sinar matahari untuk melakukan disinfeksi dan penyembuhan luka para tentara di klinik terapi sinar matahari. Dalam dekade yang sama, Coco Chanel, perancang mode terkenal asal Perancis, membuat helioterapi menjadi semacam gaya hidup. Ia menggelapkan warna kulitnya setelah berpesiar di atas Kapal Duke of Westminster. Aksinya ini ternyata memberi pengaruh besar pada masyarakat di zamannya. Saat itu, penyakit TBC dan kekurangan vitamin D umum terjadi di kota-kota industri di Eropa dan Amerika Utara. Sinar matahari menjadi salah satu terapi untuk mencegah dan menyembuhkan kedua penyakit tersebut.

Dalam New England Medical Journal disebutkan, paparan sinar matahari menambah kemampuan tubuh untuk memetabolisasi kolesterol dan mengurangi kadar kolesterol darah hingga mencapai 13%. Paparan terhadap sinar UV dari matahari juga memiliki efek sama dengan olahraga, seperti menurunkan tekanan darah, serta menambah volume darah yang dipompa jantung sekitar 39%. Selain itu, terapi ini dapat meningkatkan hormon seks,  kekuatan otot, ketahanan terhadap infeksi, jumlah oksigen dalam darah, memperbaiki toleransi terhadap stres, memperbanyak adrenalin di dalam jaringan, serta menambah energi dan ketahanan. Bahkan, helioterapi sangat efektif untuk menyembuhkan stroke dan stres.

Harus diakui, sebenarnya, helioterapi menjadi begitu popular karena praktiknya yang begitu sederhana dan mudah. Cukup mencari ruang terbuka di mana sinar matahari tidak terhalangi, dan gunakan baju yang tidak terlalu tebal atau tipis. Agar lebih maksimal hasilnya, helioterapi sebaiknya dilakukan dengan sistematis, sesuaikan dengan kebutuhan. Helioterapi yang dilakukan di wajah, Bila disertai pijatan, ini bisa membuat kulit wajah, terutama di sekitar mata dan pipi, tetap kencang. Juga membuat pandangan mata menjadi lebih menarik. Sebaiknya lakukan dalam keadaan mata terpejam. Kalaupun ingin membuka mata, lakukan sebentar saja, sekadar untuk merangsang indera penglihatan.

Adapun penderita gangguan paru-paru macam asma, bronkitis, alergi pagi atau dingin, dan alergi debu dapat melakukan penyinaran pada bagian leher dan dada dengan waktu yang lebih lama. Bagi yang sering menderita masuk angin dan susah buang air besar, cobalah untuk menyinari bagian perut. Lain halnya dengan yang sering pusing, pusing separuh, atau pusing berpindah-pindah. Penderita bagian ini sebaiknya memaparkan tengkuknya di sinar matahari. Penderita rematik dapat menjemur bagian punggungnya, dan terakhir, jemurlah kaki bagian depan apabila ada gangguan pada lutut.

Proses penjemuran yang telah diterangkan di atas adalah langkah dasar dari helioterapi. ada tingkatan lebih lanjut, yakni selain memanfaatkan sinar matahari juga memanfaatkan warna aura, dari putih sampai violet. Tingkatan tertinggi adalah memanfaatkan warna emas dan unsur listriknya. Untuk bagian lebih lanjut ini, ada baiknya untuk menanyai langsung kepada ahli agar tak terjadi hal-hal yang justru dapat merugikan kesehatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails