3.1.14

bando Sang Penghias Kepala

Pernah membaca komik Asterix dan Obelix yang pada setiap kisahnya selalu saja membuat kesal Julius Caesar sang penguasa Romawi? Tentu tulisan ini bukan hendak membahas tentang pertempuran tanpa henti antara Desa Galia dengan Kekaisaran Romawi. Adalah susunan daun yang kerap nangkring di kepala sang kaisarlah yang justru membuat saya iseng menulis kali ini. Apa yang dipakai oleh Julius Caesar itulah sebenarnya cikal bakal dari hiasan kepala yang kini disebut Bando.

Bando atau yang juga sering disebut headband memang pertama kali mulai digunakan pada masa Romawi dan Yunani kuno sekitar tahun 400 SM. Tentu saja, pada masa itu, bando yang masih terbuat dari cabang pohon zaitun yang dibuat dengan hiasan bunga-bunga bukanlah sekadar hiasan kepala belaka. Pada masa tersebut, bando diberikan kepada para juara, pemenang olimpiade kuno.

Selanjutnya, mudah ditebak, masyarakat yang melihat hal tersebut lambat laun mulai jatuh hati dan memodifikasi lengkungan daun zaitun tersebut untuk menambah gaya penampilan. Ornamen kayu mulai diberikan di dalamnya, bahkan tak tanggung-tanggung, ada pula yang memberikan hiasan-hiasan dari perak dan emas untuk memperlihatkan kelasnya dalam menggunakan bando.

Memasuki abad pertengahan, bando dengan hiasan logam mulia mulai surut popularitasnya. Sebagai gantinya, ibarat roda yang selalu berputar, bando dengan hiasan natural bunga-bunga kembali mendapat tempat. Ada pula yang menambahkan dengan bulu-bulu yang dipadupadankan dengan perhiasan. Dekade 60-an, saat budaya hippie melanda, muda-mudi pada masa itu kerap menggunakan bando dengan hiasan bunga-bunga liar atau pun kain sutra. Seiring perkembangan waktu, bando tak pernah barang sedetik pun kehilangan penggemar, pun pada masa sekarang dengan penggemar terbesar kaum anak-anak dan remaja.
(Nugraha Sugiarta)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails