11.10.13

Ulos dan Kehangatan

Hampir semua daerah di Indonesia memiliki kerajinan tenun. Daerah seperti Bali, Lombok, atau Jepara adalah beberapa contohnya. Di tanah Sumatera, selain songket yang telah sangat terkenal itu, ada pula kain yang berasal dari Tapanuli dan dinamakan ulos. 

Bagi masyarakat Tapanuli sendiri, ulos tidak hanya sekadar hasil kerajinan tenun semata, lebih jauh lagi, ia adalah kain yang dianggap memiliki nilai sakral. Dalam budaya Batak, ulos memberikan makna kehangatan, keakraban yang tercipta dalam suasana kekerabatan.


Ulos sendiri memiliki beragam motif, baik motif warna maupun nama dan kegunaannya. Di Tapanuli Utara misalnya, lebih banyak kombinasi tiga war­na: putih, merah, hitam; di Tapanuli Selatan ada empat warna po­kok dengan hiasan manik-manik putih dan hitam. Warna dasar daerah Karo biru tua, Toba dan Simalungun hitam kecoklatan atau keputih-putihan.

Adapun secara jenis penggunaan, ada tiga jenis ulos yang dikenal,yakni siabithonon yang dipakai ke tubuh sebagai baju atau sarung, sihadanghonhon yang diletakkan di bahu, dan sitalitalihonhon yang digunakan sebagai pengikat kepala.

Tentu saja, jika berbicara tradisi seperti kain ulos, haruslah pula berbicara mengenai fungsi dan kegunaan tradisi tersebut di dalam masyarakat penggunanya. Sebagai kain adat ulos tidak pernah absen dalam upacara-upacara adat seperti kelahiran, perkawinan, pendirian rumah baru, penyambutan tamu. Di samping itu, ulos juga digunakan sebagai pakaian resmi. Lalu, dalam ranah kesenian, para penari tortor yang tengah menunjukkan kepiawaiannya menari diwajibkan memakai kain ulos. Hal ini dikarenakan tarian tortor yang dianggap sakral karena berfungsi untuk menghubungkan para pelaku dengan dunia arwah dalam kepentingannya untuk meminta kesejahteraan dan berkah.
(Nugraha Sugiarta)

1 komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails