18.10.13

Syal dan Kisah Perjalanannya

Siapa yang tak mengenal syal? bahan panjang yang kerap dililitkan di leher ini memang sangat populer dan pas dipakai siapa pun, bahkan tak hanya ketika cuaca dingin menerpa. Untuk menambah gaya, syal kini dipakai tanpa mengenal musim. Entah kutukan atau tidak, vokalis Nidji yang Coldplay wanna be itu pun menggunakan syal pada saat pertama mencoba peruntungan di blantika musik. Syal kian booming. Para penggemar tak mau kalah, lilit syal berbagai corak dan warna menggemparkan Indonesia (well,maaf jika mungkin saya terlalu berlebihan). Beberapa kawan yang kadung gemar menggunakan syal menggerutu tanpa henti karena merasakan kerugian amat sangat. Bagaimana tidak, stigma Nidjiholic terpaksa diterima dengan berat hati.

Sesungguhnya, tak pernah ada yang salah dengan Nidji atau sang kawan yang menggerutu. Syal, sebagai salah satu aksesoris dalam dunia mode, memang telah cukup mendarah daging dalam kehidupan manusia. Bahkan, beberapa sejarawan dan budayawan meyakini betul bahwa syal telah ada jauh sebelum tahun masehi dimulai. Pendapat ini diperkuat dengan ditemukannya makam di Cina yang telah diperkirakan ada sebelum masehi. Sudah dapat ditebak, jasad yang ditemukan menggunakan lilitan kain di lehernya.



Syal lalu mendapat tempat terhormatnya ketika pada masa Mesir kuno syal digunakan untuk menunjukkan status sosial. bahkan Ratu Nefertiti mengenakan syal di bawah hiasan kepalanya. Selanjutnya, ada pula tersiar kabar yang harus diuji kebenarannya tentang Napoleon Bonaparte yang sangat terobsesi dengan syal sutra dari India. Pun seorang Beethoven yang dikabarkan tidak bisa lepas dari lilitan syal di leher.

Penggunaan syal yang dahulu hanya digunakan oleh kalangan bangsawan dan hartawan kemudian mulai bergeser ketika terjadi perang dunia ke-2. Para perempuan yang bekerja di pabrik amunisi menggunakan syal untuk menutupi rambutnya agar tidak tersangkut pada mesin-mesin pabrik. Jauh sebelumnya, pada awal tahun 1930-an, syal dengan menggunakan bahan rayon yang jauh lebih murah dibandingkan sutra telah mulai diproduksi secara massal untuk memenuhi kebutuhan kaum perempuan yang ingin bergaya namun tak memiliki cukup uang.

Kini, syal tidak hanya digunakan oleh kaum terbatas. Para perancang mode berlomba-lomba menyatukan syal dengan berbagai karya rancangan mereka. Hingar bingar syal telah pula mampir ke dunia olahraga. Cobalah tengok stadion, para pendukung tim sepakbola kompak menggunakan syal bertuliskan nama tim di leher. Mungkin memang harus ada pepatah baru ditelurkan; biarlah sepakbola Indonesia terus carut marut, yang penting ada syal di leher!
(Nugraha Sugiarta)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails