30.8.13

Bambu dan Masyarakat Sunda

Ada sebuah kisah terdengar perihal mengapa kerajaan Padjadjaran tak memiliki bekas peninggalan. Pendapat-pendapat bermunculan. Ada yang mengatakan bahwa pusat kerajaan dahulu berada di Bogor, Garut, Sumedang, dan tempat-tempat lainnya. Semua memaparkan argumen. Lalu sebuah mitos yang mungkin belum teruji kebenarannya hadir. Konon, budaya bambu di tengah masyarakat Sunda adalah penyebabnya. Pun demikian pula bangunan kerajaan yang sebagian besar terbuat dari bambu sehingga tidak dapat lagi ditemukan. Lepas dari kebenarannya, kisah tersebut setidaknya menggambarkan bagaimana bambu memiliki peran dan posisi vital dalam sejarah kebudayaan Sunda.

Sebutlah beberapa kerajinan alat musik sunda seperti angklung atau calung yang kesemuanya berbahan dasar bambu. Bahkan, tradisi Sunda masa lalu menyebutkan bahwa angklung memiliki fungsi dalam ritual keagamaan yaitu untuk mengundang Dewi Sri agar turun ke bumi dan memberikan kesuburan tanaman padi. Hingga saat ini di beberapa desa masih dijumpai upacara yang mempergunakan angklung buhun untuk kegiatan tradisional seperti pesta panen, ngaseuk pare, nginebkeun pare, ngampihkeun pare, seren taun, nadran, dan helaran. 

Lebih jauh lagi, ada pula karinding yang dahulu berfungsi sebagai pengusir hama di sawah dan beberapa tahun terakhir tengah hip dan dianggap sebagai alat musik sunda  yang konon bermutu tinggi meski hanya menghasilkan sebuah nada tanpa tangga yang jelas. Di samping itu, bambu dalam masyarakat Sunda juga memiliki beragam fungsi seperti untuk memotong ar-ari bayi yang baru lahir, pembungkus makanan seperti bacang, alat permainan, sampai  perkakas rumah tangga.

Bambu sendiri, dalam masyarakat Sunda kerap dianggap sebagai hal yang sulit dilepaskan dari keseharian. Memang, pada masanya, kebudayaan bambu ini pada masanya dianggap sebagai pengiring yang selalu ada semenjak lahir sampai kematian menjemput. Dengan kata lain, dalam masyarakat di barat pulau Jawa ini, bambu adalah sebuah benda yang diciptakan oleh alam untuk mengatasi berbagai permasalahan di dalam hidup. Dengan bambu, masyarakat Sunda menyadari bagaimana ruh alam dan ruh jiwa menyatu menjadi satu, membentuk dunia yang kini terus berkembang dengan segala kearifan yang tumbuh di dalamnya.
(Nugraha Sugiarta)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails