5.7.13

Secuplik tentang Outdoor Fashion



Sandal gunung berwarna hitam, kemeja flanel dengan kancing yang dibuka sebagian dipadu dengan celana gunung berwarna coklat mengiringi langkah beratnya sore itu. Di pundaknya, sebuah ransel hitam dikenakan. Jangan bayangkan bahwa pemandangan di atas tengah terjadi di sebuah puncak gunung. Hal itu tersaji di sebuah mall yang cukup terkenal di Bandung. Memang, saat ini, pakaian yang jika dahulu hanya dikenakan oleh manusia-manusia pendaki  gunung atau yang kerap dikenal dengan sapaan para pecinta alam ketika hendak melakukan ekspedisi, telah menjadi trend di tengah masyarakat luas. Hal ini pula sebenarnya yang kemudian membuat toko-toko penjual pernak-pernik kegiatan alam bebas tak pernah sepi dari pengunjung. Pengunjung yang datang pun kini sangat beragam, mulai dari usia dewasa bahkan remaja.

Sebenarnya, sisi fungsi dari busana itu sendiri menjadi nomor sekian bagi para pecinta gaya busana khas pecinta alam. Hal ini pula yang diamini oleh Trihasdianto, seorang desainer muda yang juga jebolan sebuah kampus negeri yang cukup terkemuka di Bandung. Ditemui di sebuah café di bilangan Hasanuddin, sarjana kriya tekstil yang telah cukup lama berkecimpung di dunia fashion dan desain ini mengakui bahwa busana ala pecinta alam saat ini sudah mengikuti pangsa pasar.

“Tengok saja dari desainnya. Sandal gunung, misalnya. Dari segi warna dan desain motifnya, mengikuti selera masyarakat luas walaupun masih ada kekhasan yang mencirikan bahwa sandal tersebut adalah sandal gunung. Tak hanya sandal, begitu juga dengan yang lainnya. Contohnya saja backpack yang mengikuti model-model sesuai kebutuhan orang kota. Merk-merk yang selama ini dikenal sebagai penyedia backpack untuk ekspedisi ke gunung bahkan telah ada pula yang membuat produk backpack dengan spesifikasi yang disesuaikan untuk keperluan sehari-hari para penghuni kota, seperti ransel khusus pengguna laptop atau para fotografer, dan lain sebagainya,’ jabar Tri dengan panjang lebar, “tentu saja bukan hanya sekadar sandal dan ransel, tapi juga termasuk produk-produk outdoor lainnya seperti celana atau baju. Semuanya sudah tidak ada lagi batasan,” tambahnya sejurus kemudian.

Apa yang membuat ia begitu digemari? Lelaki lajang ini kemudian mengatakan bahwa peralatan tersebut menjadi trend dan cukup digemari karena selain desainnya yang tetap menonjolkan segi kenyaman, terdapat pula unsur praktis dan tetap bisa dipakai untuk pergaulan alias hangout bersama rekan atau sahabat.

“Tentu saja, ada kelebihan lain dari cara berpakaian outdoor seperti ini, yakni ia bisa dipakai oleh siapa saja tanpa ada batasan yang berkenaan dengan bentukan fisik pemakainya. Meskipun demikian, tak bisa dipungkiri, selain kaum muda, pakaian jenis ini, jika kita berbicara dalam konteks penggunanya di perkotaan, lebih banyak dikenakan oleh orang-orang yang memang kesehariannya lebih banyak dihabiskan di lapangan, seperti para reporter, teknisi yang mengurusi jaringan, atau aktivis lingkungan hidup. Hal ini karena kenyamanan dan juga unsur fungsional yang dimiliki oleh ciri berbusana tersebut,” ujar Tri.

Yang jelas, jika dilihat dari segi bisnis, Tri perbendapat bahwa bisnis outdoor equipment adalah bisnis yang tak ada matinya karena selain segmentasi penggunanya yang cukup jelas, ia juga tidak masuk dalam kancah trend yang hanya sesaat. Apalagi ditunjang dari segi ekonomi, produk-produk outdoor ini telah pula merambah ke berbagai lapisan masyarakat.

“Yang pasti, busana ini terlihat sangat casual dan fleksibel  karena ia tidak menganut sistem mix ‘n’ match sebagaimana layaknya model-model fashion lainnya. Sangat bebas dan plural,” ungkap Tri di akhir pembicaraan sambil menikmati segelas kopi hangat di hadapannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails