21.6.13

Menjadi Backpacker yang Baik

Pengalaman buruk itu masih membayang di benak Stevie. Petualangannya menjumpai belahan dunia lain tak seindah yang ia bayangkan. Padahal, menjadi backpacker, istilah keren untuk para pelancong yang melanglangbuana bak seorang pengembara, adalah cita-cita yang telah lama ia idamkan. Oleh karenanya, beberapa tahun lalu, berbekal tekad dan sedikit nekad, ia pun menyusun rencana untuk menjelajah. Daratan Eropa adalah pilihan Stevie. Italia lalu menjadi negara tujuan pertamanya. Kesalahan terbesar Stevie sebenarnya satu. Dalam bayangannya, backpacker adalah seorang petualang yang berjalan dengan kondisi apa adanya. Ia pun tak begitu memedulikan beragam informasi tentang daerah-daerah yang dikunjunginya. Sesampai di Italia, Stevie tak mengira bahwa saat itu sedang musim panas dengan suhu nyaris 40oC! Dua baju hangat dan satu mantel yang dibawanya pun menjadi bencana yang menyiksa punggung selama perjalanan. Belum lagi ia tak hapal tempat-tempat makan serta penginapan murah yang ada pada setiap persinggahannya. Hasilnya? Dapat ditebak. Liburan Stevie berubah menjadi neraka dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Sebenarnya, Stevie tak akan sesial itu jika ia merencanakan semuanya dengan tepat. Lalu, sebenarnya apa, sih, yang harus dipersiapkan ketika hasrat ber-backpacking ria menggebu dan apa sebenarnya pengertian dari backpacker itu sendiri? Backpacking telah lama diidentikkan dengan sebutan wisatawan kere. Hal ini harus diakui karena konsep awal backpacking memang dirancang demikian. Akan tetapi, pemahaman itu kini sudah mulai bergeser. Backpacking telah menjadi gaya hidup. Peminatnya sekarang tidak hanya orang yang berkantong tipis, tetapi juga orang-orang kaya yang tidak pernah memikirkan persoalan biaya dalam melakukan perjalanan wisata. Seorang backpacker umumnya memiliki mobilitas yang tinggi, yaitu sering berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain dan dari suatu daerah ke daerah lain. Karena kebiasaan berpindah-pindah itulah maka ransel dipilih sebagai teman perjalanan yang sangat praktis. Selain itu, backpacker juga sering menggunakan hotel atau penginapan yang sederhana. Mereka jarang sekali menggunakan jasa agen perjalanan wisata. Hal tersebut sangat kontras perbedaannya dengan wisatawan lain yang terbiasa menginap di hotel berkelas dan menghabiskan waktu di sana tanpa berpindah hotel.

Mengenai persiapannya, saat backpacking, bawa barang yang benar-benar diperlukan. Buatlah daftar barang apa yang perlu dibawa. Pikirkan bagaimana supaya bisa seefisien mungkin. Jangan memindahkan isi rumah ke dalam ransel. Tentukan pual opsi tujuan secara mendetail. Lakukan penggalian data tentang tempat-tempat itu, baik lewat buku, internet, ataupun print magazine. Jangan terlalu percaya dengan perjalanan orang lain, karena travelling adalah bersifat personal. Sesuatu yang sesuai dengan kepribadian kita.

Lantas, aktivitas apa yang hendak kita lakukan setelah sampai di tempat tujuan? Mau shopping atau tracking? mau chill out atau suffering? Kadang kita tergoda untuk melakukan banyak aktivitas disana. Bisa jadi tubuh malah kolaps karena kehabisan tenaga. Pertimbangkan faktor cuaca, kondisi tubuh dan waktu yang tersedia. Transportasi juga menjadi bagian penting yang harus dipikirkan. Ini agaknya yang penting bagi independen traveller karena jelas harus mengatur perpindahan dari lokasi satu ke lainnya. Jangan ragu memakai publik transportasi seperti bis atau perahu. Temukan keasyikan berjejalan didalam bis atau menikmati pemandangan sepanjang sungai.

Satu hal yang harus diingat, bahaya selalu mengintai setiap manusia. Bahaya seperti virus dan teroris merupakan ancaman terkini bagi traveller. Kalau kamu tipe “die hard traveller” pastikan untuk mengetahui musuh sebelum menghadapinya. Selain itu, travel dokumen pun harus sangat mendapat perhatian. Para backpackers dan setelannya yg lusuh umumnya agak dicurigai oleh aparat-aparat keimigrasian suatu negara. Oleh karenanya, cermatilah, apakah kamu membutuhkan paspor baru atau memerlukan visa. Negara Asean seperti Laos dan Kamboja tetap meminta visa bagi orang Indonesia. Visa bisa diperoleh on arrival (biasa di bandara/pintu masuk utama) atau di kedutaan negara yang bersangkutan. Beberapa negara Asia mensyaratkan paspor minimal berumur tiga bulan, sedang negara-negara Amerika dan Eropa mensyaratkan enam bulan. Jangan lupa membawa paspor lama, bila perlu jadikan satu dengan yang baru. Last but not the least, jangan berharap mendapat kenyamanan yang besar dalam perjalanan ini. Nikmati apa adanya. Pelajari kehidupan lokal dan temukan sensasi ala backpackers. Have a nice trip!

1 komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails