28.6.13

Kisah Kuda Ganesha



Raski, 41, tengah asyik mencangkung di atas delmannya. Sebatang rokok kretek terjepit rapat pada sela-sela jarinya yang legam. Hari itu, seperti hari-hari weekend lainnya, ia seperti biasa setia menunggu calon pelancong yang sudi menaiki delmannya. Memulai rutinitasnya sejak pukul 8 pagi sampai dengan sore menjelang, lelaki paruh baya ini mengaku bisa mengumpulkan uang sampai Rp. 50.000. “Tapi, kalau hari biasa sih, paling juga cuma Rp.20.000,” tambahnya cepat. Agar asap dapur terus mengepul, jika penumpang sedang sepi, Raski acapkali juga bekerja serabutan menjadi tukang bangunan.

Minggu cerah di seputaran jalan Ganesha, Bandung memang selalu memberikan warnanya sendiri. Wisata kuda murah meriah adalah salah satu daya tarik jalanan ini pada setiap weekend. Tak terkecuali pula cerita-cerita unik dari para pengais rezeki seperti Raski. Jika penarik delman itu hampir setiap hari berada di sekitaran Ganesha, tidak demikian halnya dengan Atang Rukmaya. Lelaki yang sudah 15 tahun menyewakan kudanya untuk para pelancong ini hanya “berdinas” pada hari sabtu dan minggu. Pada hari-hari biasa, Atang banting setir mengurus sapi peras di Lembang.

“Ah, yang senang naik kuda juga anak-anak kecil, anak SD. Kalau hari biasa, mereka sekolah, nah, kalo mereka sekolah siapa yang mau naik kuda saya? Lagian saya sudah tua, kayaknya kalau setiap hari harus lari mengikuti kuda yang sedang disewa saya nggak akan kuat, ” ujar Atang menjabarkan lebih rinci.


Pun demikian halnya dengan Syaip. Pemuda ini juga mengaku kalau pada hari-hari biasa usaha menyewakan kuda memang sepi penumpang. Oleh karenanya, setiap senin sampai jumat, Syaip lebih senang mengais rezeki dengan menjadi tukang parkir di daerah Gelap Nyawang, Bandung.

Ketika ditanya perihal kuda yang mereka gunakan, Atang dan Syaip dengan kompak mengatakan bahwa kuda-kuda itu adalah milik sendiri. ”Para penyewa kuda di sini  umumnya berasal dari Lembang (Kab. Bandung),” jelas keduanya, ”jadi memang semenjak dahulu kami sudah terbiasa memiliki dan memelihara kuda.”

Siang semakin menyengat, dengan sopan Atang dan Syaip meminta permisi kepada. ”Sudah siang, kami mau ke depan Kebun Binatang, siapa tahu rezeki lancar di sana,” Atang berujar.
                                
Atang, Syaip, dan beberapa penarik kuda lainnya lalu melangkah pelan menuju Kebun Binatang Bandung yang terletak tak jauh dari tempat mereka tadi mangkal. Matahari semakin tinggi, bayang-bayang mereka semakin pekat terlihat di aspal, dan hidup mereka akan selalu terus berlari.

2 komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails