24.5.13

Kupu-Kupu Jangan Pergi


Sebuah pertanyaan sepele itu mampir begitu saja di kepala saya pada satu sore yang cukup cerah. Ketika tengah asyik melepas kepenatan di sebuah bangku taman, seekor kupu-kupu tiba-tiba tanpa permisi hinggap tepat di hadapan. Paduan warna merah jingga bercampur hitam pada sayapnya membuat saya terpesona beberapa saat sebelum akhirnya ia kembali melanjutkan perjalanan. Kedatangannya yang hanya sekejap itulah yang melahirkan pertanyaan : Kapankah saya terakhir menjumpai kupu-kupu sebelum hari ini? Entahlah, ternyata sudah lama sekali!

Kehidupan kupu-kupu menjadi sebuah fenomena yang menarik untuk diamati, Ia memang sudah sangat jarang terlihat di perkotaan, padahal mereka sangat berguna untuk membantu penyerbukan tanaman yang dapat membuat lingkungan menjadi lebih asri. Tanaman yang telah diserbuki oleh kupu-kupu itu sendiri kemudian akan berbunga dan memasok oksigen penyegar udara yang sangat dibutuhkan oleh seluruh makhluk hidup di seluruh penjuru bumi. Di samping itu, kupu-kupu pun dapat berguna sebagai indikator alami untuk mengetahui apakah udara disekitar kita bersih atau justru berpolusi. Hal ini dimungkinkan karena kupu-kupu hanya mau bertelur di tempat yang berudara bersih. Polusi sendiri disebabkan karena terlalu padatnya lalu lalang kendaraan bermotor tanpa adanya kesempatan pertukaran udara pada pagi, siang, atau malam. Oleh karenanya, ketika kupu-kupu tak terlihat, kita sebenarnya harus waspada, jangan-jangan udara yang kita hirup hanyalah oksigen yang telah bercampur dengan racun belaka!

Apa sebenarnya yang membuat si cantik mungil ini pergi? kawasan-kawasan hijau yang berganti menjadi berbagai infrastruktur kota serta perumahan adalah penyebab kepergian kupu-kupu. Walaupun kemudian manusia menanam berbagai jenis tetumbuhan baru, ternyata membutuhkan waktu yang lama agar kupu-kupu mau kembali. Umumnya, kompleks pertokoan, perkantoran, maupun perumahan hanya menanam rumput dan tanaman hias rendah. Tumbuhan semacam ini ternyata tidak memberikan kesempatan sama sekali kepada kupu-kupu untuk menempelkan telur dan menetaskannya menjadi ulat sembari melakukan penyerbukan pada tanaman yang digunakan untuk proses penetasan tersebut. Mengapa demikian? Selesai menyerbuki bunga, kupu-kupu biasanya kawin dan bertelur pada daun tanaman yang diserbukinya, namun ia tentu saja memilih daun yang dapat dijadikan oleh makanan bagi sang jabang bayinya kelak. Kebanyakan daun perdu, pohon, dan semak berbunga yang dimiliki oleh tumbuhan seperti lantana, soka, kembang kuning, bungur, dan pohon hias lainnya yang akan diserbuki serta dijadikan tempat menetaskan si jabang bayi kupu-kupu kelak.

Idealnya, tetumbuhan jenis ini memang ditanam di taman kota. Namun vegetasi taman-taman kota kini cenderung menyedihkan karena kurangnya perawatan baik dari dinas pertamanan maupun masyarakat yang tinggal di wilayah sekitarnya. Namun, sebenarnya perdu, semak, dan pohon hias tersebut sebenarnya tak hanya harus mengandalkan taman kota. Tumbuhan ini dapat ditanam di halaman rumah untuk mempercantik pekarangan. Gerak gerilya tiap individu inilah yang sebenarnya akan sangat berguna jika ingin melihat kembali indahnya kepak kupu-kupu. Selain di halaman rumah sendiri, kitapun dapat pula bekerja sama dengan para warga lainnya untuk menanam di sekitar kompleks tempat tinggal. Ibarat kata pepatah, sambil menyelam minum air: memiliki lingkungan yang asri sekaligus melihat kecantikan kupu-kupu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails