3.5.13

Gelora Idealisme dalam Karya Ledidak



Mengarungi karya-karya Ledidak adalah bersentuhan dengan karya-karya yang menyadarkan tentang hidup. Ada kedamaian, kematian, dan kehidupan. Dibalut dengan konsep etnik serta konsumerisme masyarakat modern saat sekarang, Ledidak mungkin satu dari sedikit crafter yang mampu menerjemahkan idealisme ke dalam gejolak budaya pop yang berkembang di tengah kehidupan manusia di muka muka bumi. Siap menemui sisi lain dari kehidupanmu? Mari simak Ledidak!

Karya-karyanya tampak beraura mistis hihihi… Aksesoris-aksesoris seperti apa, nih, yang dibuat oleh Nuri dengan Ledidaknya?
Tahun 2008 saya membuat aksesoris untuk memenuhi hasrat anak muda yg segmentasinya SMP dan SMA. Saya jual di distro-distro, kemudian saya kelelahan untuk mengadopsi keinginan pasar dan saya lelah dengan pasar yang menuntut saya. Belajar dari pelajaran“ buatlah pasarmu sendiri”, saya membuat jati diri baru. Tahun 2009 aksesoris yang saya buat lebih memenuhi hasrat dan keinginan saya, memasukkan beberapa unsur etnik, gypsy, hippie dan beberapa elemen kultur budaya yg ada di dunia luar. Kenapa terlihat mistis itu persepsi masing-masing customer dan orang yg melihat produk ini. Kadang mereka bahagia dengan beberapa desain yang saya buat karena memenuhi keinginan jiwa mereka tentang kematian dan kehidupan, kadang mereka takut “ ih sereem “, tapi saya tetap bahagia karena persepsi mereka yang bebas.


Baca di blognya ada kata-kata “postmodern gypsy”. Apa sebenarnya yang menarik dari gypsy itu sendiri sampai Nuri menjadikannya trademark dari Ledidak?
Sebetulnya saya mengerucutkan desain, etnik dan gypsy, tribal dan lain-lain. Kedamaian, kehidupan, kematian dijadikan satu ide dalam membuat desain saya. Kultur gypsy, misalnya. mereka hidup dengan mistis dan magis, sedang postmodern lebih pada pembaharuan dari pola perpikir dan pola berbelanja konsumsi pada kaum modern.


Nuri sendiri semenjak kapan, nih, tertarik dengan dunia handmade? Kok, bisa tertarik?
Sejak kecil saya mencintai dunia seni. Dulu saya memualainya dari 2008, membuat sesuatu untuk hadiah dari clay diunduh diblog dan beberapa social media. Kemudian saya mengelutinya terus menerus. Kadang vakum karena kesibukan saya, tapi pada akhirnya saya tetep menjalankan Ledidak.

Ngomongin handmade berarti ngomongin tentang ketekunan. Menurut Nuri, gimana cara paling manjur untuk menjaga intensitas berkarya biar terus cespleng dan enggak mandek?
Ini pola budaya Indonesia. Kadang kita dituntut untuk maju semaju mungkin dengan segala aspek strategi yang dibangun, baik atau buruk , originalitas, dan sebagainya. Pada akhirnya, tuntutan pasar membuat kita lelah walaupun kebutuhan pasar tidak dipungkuri menjadi keharusan untuk memenuhi finansial. Hal yang paling relevan bagi saya adalah menghidupi bisnis kecil saya sefleksibel mungkin. Pasar Ledidak tidak menuntut banyak. Mereka hanya menunggu desain apa yang saya buat. Itu yang dapat memacu pikiran saya untuk membuat hal yang baru.

Nah, terus terpikir bikin Ledidak gimana, tuh, kisah serunya, hihihi…
Dulu saya punya nama di deviantartm nama saya gadisgelap. Saya sedikit narsis untuk menaruh GADISGELAP didalam nama produk , kemudian saya plesetkan menjadi LADY DARK dengan spelling Indonesia LEDIDAK. 


Sebutin lima kata yang paling mewakili Ledidak…
Bebas, brutal, kehidupan, absurd, aneh.


Tanggapan paling maknyus dari Nuri tentang Crafty Days?
Saya senang sekali dan curious soal crafty days. Saya baru submit craftday ke 7 ini dan terimakasih untuk tobucil.   kami di Yogyakarta dua tahun lalu membuat komunitas Magic Finger Syndicate dan masih jalan sampai sekarang. Jadi apa pun sebetulnya yang berhubungan dengan pernik-pernik dan dibuat festival bazar atau apa pun itu saya sangat senang. 
FB Fan Page: Ledidak

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails