12.4.13

Perjalanan Rajut



Merajut kini telah menjadi salah satu aktivitas handmade yang sangat umum ditemui. Popularitas merajut memang semakin meroket semenjak banyak dari kaum muda perkotaan yang mulai tertarik dengan teknik dan cara merajut. Para knitter bermunculan, bahkan tak hanya kaum hawa, kaum adam tak mau ketinggalan. Lahirnya kelompok The Man Who Knit (meski kini sepertinya kelompok yang satu ini tengah vakum) merupakan salah satu representasi dari mulai menyebarnya kegiatan rajut merajut ke berbagai gender dan kalangan.

Meski sudah berumur sangat panjang dan sangat populer, ternyata masa lalu dari dunia merajut sendiri masih simpang siur. Tak ada yang mengetahui persis darimana teknik dan budaya merajut sebenarnya berasal. Adapun rajutan paling tua yang pernah ditemui adalah sebuah rajutan kaus kaki dari mesir pada tahun 1000 Masehi. Ditengarai, teknik yang digunakan pada rajutan tersebut berasal dari wilayah Arab. Teknik inilah kemudian yang menyebar di Spanyol dan dalam waktu yang tidak terlalu lama mulai menjadi trend di Eropa.

Pada masanya, kegiatan merajut merupakan kegiatan mewah yang dilakukan oleh kaum bangsawan. Awalnya, teknik merajut permadani yang dimiliki oleh bangsa-bangsa di Timur Tengahlah yang membuat para penduduk Eropa terpesona dengan rajutan. Perihal asal-usul rajutan yang kemungkinan berasal dari Timur Tengah ini dapat dipahami jika menilik alasan yang dikemukakan oleh Julie Theaker (penulis buku tentang sejarah rajutan). Dalam bukunya ia menyebutkan, setidaknya ada dua alasan yang membuat rajutan berasal dari Arab. Pertama adalah bahan yang digunakan. Penggunaan katun atau kain sutra alih-alih kain wol membuktikan bahwa rajut memang berasal dari Arab. Kedua, pola rajutan masa itu yang alurnya mengalir dari kanan ke kiri sesuai dengan kultur menulis masyarakat Arab yang penulisan bahasanya dari kanan ke kiri.

Satu hal yang sangat mengejutkan, pada masa perkembangannya di Eropa, ternyata perajut sebagian besar berjenis kelamin laki-laki. Para perajut pemula umumnya berguru pada seorang perajut terkenal. Dalam prosesnya, mereka kemudian harus pula mengikuti semacam ujian kelulusan agar bisa dianggap sebagai ahli rajut. Segala jenis rajutan pada masa itu memiliki standar tinggi. Lebih ekstrem lagi, seorang perajut yang membuat rajutan dengan mutu rendah akan dicabut gelar keahlian merajutnya.

Perubahan besar terjadi ketika revolusi industri hadir. Para perajut handmade mulai tersisihkan. Kualitas rajutan yang dihasilkan oleh mesin-mesin pun, meski tidak buruk, tetapi mengenyampingkan standar kualitas yang telah ditetapkan oleh para ahli rajut. Jaman lalu berubah. Satu demi satu, banyak pecinta rajut yang mengembalikan fitrah rajutan seperti dahulu. Membuatnya secara handmade dan memperhatikan detail-detail yang membuat keekslusifan rajutan tetap terjaga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails