19.4.13

Mengenang Guevara dalam Komik

Rintik hujan merinai buas pada malam 12 April lalu. Tapi niat saya tak mengendur. Di samping memang sedang ingin iseng berkunjung, mengamati keramaian sepertinya sedang menjadi tema hari itu. Terdamparlah saya kemudian di IFI Bandung yang tengah penuh sesak oleh kepala-kepala manusia. Kopi, rokok, dan pergosipan tergelar. Tentu, bukan hanya itu semata yang membuat saya bersusah-susah menembus hujan. Perayaan tahun ke lima Forum Komik Indonesia-Perancis yang sedang menyajikan pameran bertajuk “Ngagambar Sareng Kang Simon Geliot” adalah satu hal yang ingin saya hadiri betul sejak jauh-jauh hari.

Sekilas saya membaca tentang sang komikus. Simon Géliot lahir di Paris pada tahun 1982 dan menjadi salah satu lulusan École Nationale Supérieure des Arts Décoratifs de Paris (Sekolah Tinggi Negeri Grafis dan Seni Terapan) yang merupakan sekolah terbaik Prancis di bidang grafis dan desain. Sejak kecil ia gemar menekuni hobinya, yaitu membuat komik dan gambar ilustrasi. Berkat bakat menggambarnya, ia dipercaya oleh sebuah merk prêt à porter Prancis terkenal untuk mendesain beberapa produknya. Sepertinya menarik. Saya melangkah. Ruangan pameran masih ramai meski sebenarnya saya sedikit terlambat. Beberapa karya komik hitam putih tertempel tegas di dinding. Berbahasa Perancis, membuat saya mengerutkan kening. Pribumi macam saya tidak pernah sedetik pun mempelajari bahasa yang satu ini. Tapi baiklah, toh, jurang bahasa selalu dapat dirapatkan ketika tampilan-tampilan visual berbicara.  

Tema yang diangkat cukup sederhana. Mengangkat kisah hidup tokoh yang paling banyak disablon mukanya pada kaus: Che Guevara. Kisah sendiri diambil dari kacamata salah seorang pejuang yang selamat pada perang gerilya Kuba medio 1966-1967. Mengamati kotak demi kotak cerita itu, saya menangkap nuansa revolusioner yang cukup kental. Entah karena garis-garis tegas yang ditampilkan di dalamnya atau justru karena kekuatan hitam putih yang menjadi pilihan warnanya. Namun, jujur saja, agak susah menangkap bilamana mencoba menjiwai sosok yang digambarkan oleh Simon Geliot. Menyelami Che Guevara di tengah pusaran kota yang semakin kapitalistik di sebuah lembaga budaya negara liberal? Oh, baiklah, ini semacam romansa tak tentu arah yang sepertinya ada di kepala sang seniman. Romansa, ya romansa. Di mana lagi harus menampilkan Che Guevara jika bukan di tengah romansa. Di mana lagi mengingat gaya revolusi rakyat bersenjata jika bukan di kilas masa lalu.

Dunia berubah. Revolusi ala Che Guevara masih menjadi pujaan. Lebih jauh lagi, bahkan pengkultusan sikap yang terlalu mendewa dan terbang di langit antah berantah. Melihat pameran ini, saya seperti diingatkan sesaat pada sosok kepahlawanan sekaligus kekirian Che Guevara. Setelah itu, harga BBM yang hendak melambung plus berpikir keras menjalani hari-hari yang kian mahal terasa menari di kepala. Langit masih mendung, di motor seorang teman yang menumpang berkisah tentang segala keperluan dapur. Selamat tinggal, Che Guevara!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails