29.3.13

Pantomim Sang Isyarat



Kawasan Cikapayang tepatnya di bawah jalan layang malam itu cukup ramai. Beberapa wajah dengan make up yang sudah dapat ditebak tengah beraksi. Ya, pada Jumat 22 Maret lalu 2013 lalu, sekelompok muda-mudi yang menamakan dirinya sebagai Mime Artist Association memang tengah menampilkan pertunjukan pantomim untuk memperingati hari pantomim sedunia.

Foto by Agus Bebeng
Satu hal yang unik terasa adalah peringatan ini bersamaan pula dengan peringatan hari hutan sedunia, walhasil, pertunjukan yang ditampilkan memberikan sajian tentang refleksi manusia terhadap hutan di kota Bandung. Ya (lagi-lagi), isu mengenai Hutan Babakan Siliwangi sebagai satu-satunya hutan kota yang ada di Bandung. Lepas dari itu semua, pantomim memang dapat dikatakan sebagai salah satu cabang seni pertunjukan yang mungkin selama ini cukup populer.  Kepopuleran pantomim sendiri terletak pada cara penampilannya yang unik dan menampilkan gerak serta mimik wajah sebagai pengganti dialog. Di samping itu, make up tebal menjadi salah satu ciri yang tak bisa dilepas dari para aktor pantomim.

Sebagai salah satu genre yang cukup populer di dunia seni, pantomim telah ada semenjak jaman mesir kuno. Aristoteles, seorang filsuf terkenal, bahkan menuliskan di dalam catatannya bahwa teori tentang tuanya usia pantomim dapat dibuktikan dengan adanya relief-relief candi dan piramida yang menggambarkan seorang perempuan dan lelaki yang sedang melakukan sebuah gerakan dan diduga gerakan tersebut bukanlah tarian namun sebuah gerakan pantomim.

Pada perkembangannya, pantomim yang benar-benar menggunakan bahasa isyarat sebagai kekuatannya berkembang menjadi pertunjukan komedi tanpa kata-kata. Tentu saja, meski banyak ditampilkan dalam bentuk komedi, pantomim sendiri sebenarnya tidak membatasi diri pada pertunjukan yang sekadar mengundang tawa. Adalah industri film bisu yang marak di era 1900-an yang membuat pantomim menemui puncak ketenarannya. Charlie Chaplin yang menampilkan seni pantomim dalam sebuah film bisu berjudul The Tramps dengan cepat menyebarkan virus pantomim ke seluruh antero dunia. Pada masa itu, nyaris seluruh film-film yang menampilkan aksi teatrikal ala pantomim yang dibintangi oleh Charlie Chaplin selalu membuat penuh gedung bioskop dan mencetak box office.

Kembali lagi pada pertunjukan di Cikapayang malam itu. Dalam kapasitasnya sebagai sebuah peringatan, meski tak segegap-gempita Pemilukada Walikota Bandung yang sebentar lagi akan diselenggarakan, peringatan hari pantomim sedunia ini lalu setidaknya telah berhasil mengingatkan para pecinta seni bahwa seni ini telah sedemikian berkembang jauh. Ia telah mampu menelusup ke dalam segala ranah kehidupan. Entah itu dalam bungkus humor maupun sebagai bentuk ekspresi kritik sosial yang cukup mengena.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails