8.3.13

Bermain di Taman Bacaan

Taman bacaan, perpustakaan. rumah baca, atau apapun namanya, semua berkaitan dengan buku dan kegiatan membaca. Sebenarnya, Apa yang melintas sekiranya jika seseorang mendengar kata taman bacaan? Semua orang tentu mahfum benar jika mendengarnya, namun tak semua orang pernah mengunjungi sebuah taman bacaan. Tak terkecuali pula halnya dengan anak-anak. Taman bacaan menjadi hal yang asing dan tertindas oleh perkembangan teknologi yang semakin banyak sekaligus membuai. Padahal, taman bacaan adalah sebuah sarana murah meriah sekaligus berguna untuk menambah khazanah pengetahuan bagi siapapun yang rajin mengunjunginya.

Paradigma berpikir masyarakat Indonesia yang cenderung menganggap membaca bukanlah satu bentuk hiburan dijamin akan luntur sedikit demi sedikit jika kita “bermain” ke taman bacaan. Pasalnya, ketika seseorang membaca, daya imajinasinya akan bertambah seiring larutnya ia ke dalam bacaan yang tengah ditekuninya. Di samping itu, dengan mendatangi taman bacaan, maka sang anak akan lebih dapat berinteraksi dengan rekan sebayanya dan mendapat sahabat baru.

Taman bacaan sendiri sebenarnya merupakan salah satu program riil (meski terlihat semu) dari Direktorat Pembinaan Budaya Baca, Direktorat Jenderal Pendidikan Luas Sekolah (PLS), Depdiknas. Menurut data resmi, sampai kini, ada sekitar 5000 Taman Bacaan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.  Masih kurang memang, jauh dari harapan.

Keberadaan taman bacaan sendiri kini telah cukup menjamur di Bandung dan kota-kota besar lainnya. Dengan harga sewa mulai dari seribu rupiah per buku, ratusan buku dapat dipinjam dengan mudah. Walau sebagian besar minat yang ditunjukkan baru sebatas buku hiburan seperti komik dan novel, ini menjadi sebuah indikasi pertumbuhan minat baca masyarakat. Tengok saja aktivitas gadis kecil bernama Vera yang tak sengaja saya temui di sebuah taman bacaan mungil yang terletak di salah satu sudut kota Kembang. Murid kelas enam SD ini mengaku tak memerlukan waktu dan jarak tempuh yang lama untuk mencapai sebuah taman bacaan yang terletak tak jauh dari rumahnya. Awalnya, ia mendatangi taman bacaan karena ingin membaca komik, namun lama kelamaan, bacaan yang dibacanya pun kian berbobot. Seri-seri buku seperti “Sepuluh Tokoh Dunia“ atau “Kisah Para Nabi” kini seolah menjadi kebutuhannya sehari-hari, apalagi ketika waktu libur menjelang.

“Aku emang senang membaca, makanya sering main ke taman bacaan ini. Lagian di sini aku juga bisa ketemu banyak teman-teman baru yang sama-sama punya hobi membaca,” ucap Vera lincah menerangkan mengapa ia begitu rajin mendatangi taman bacaan.

Seorang perempuan manis berkerudung yang sedari tadi memerhatikan obrolan kami kemudian menyapa ramah. Pemilik nama Diana Novita mengaku telah satu tahun menjalankan roda taman bacaan tersebut. “Ya, saya melihat rendahnya minat baca masyarakat. Oleh karenanya, saya kemudian mendirikan taman bacaan ini, ungkapnya ramah. Diana mengakui bahwa untuk saat ini, taman bacaan miliknya memang hanya menyediakan buku-buku bacaan untuk usia SD dan SMP. “Mereka masih memiliki usia yang panjang. Proses pemupukan kesadaran membaca sedari dini inilah yang membuat saya memilih membuka taman bacaan untuk usia 10-15 tahun ini. Sebagai generasi muda, mereka akan menyebarkan budaya senang membaca dengan rentang waktu yang cukup panjang. Saya yakin, jika taman bacaan semakin banyak, maka 20 atau 30 tahun lagi Indonesia akan dipenuhi oleh orang-orang yang gemar membaca,” ungkap Diana menjelaskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails