1.2.13

Ulin ka Baksil

Tiga minggu terakhir ini, Tuhan sepertinya memang menakdirkan saya untuk Menemui Babakan Siliwangi (Baksil), satu-satunya hutan kota yang tersisa di belantara Kota Bandung. Tiga kali dalam tempo hanya tiga minggu. Bukankah ini sesuatu yang tidak biasa? Pertama, saya mengunjungi sebuah acara penutupan pameran yang mengambil tempat di salah satu sudut Baksil, kedua saya asyik berfoto-foto ria untuk keperluan buku yang saya tulis (ahiwww promosi), dan terakhir terjadi beberapa hari yang lalu karena hendak menemui seorang kawan lama. Ah, segala sesuatu memang sudah barang tentu memiliki maksud tertentu yang terkadang justru kita tidak menyadarinya.

Hal pertama yang menempel kuat di kepala manakala berada di Baksil adalah kusam. Sampah tertebar di segala penjuru. Kurang terawat. Meski demikian, tempat yang satu ini memang selalu menjadi primadona bagi banyak kalangan. Seksis. Posisinya yang strategis di tengah jantung kota membuat ia diperebutkan banyak pihak. Aroma ekonomi jelas mengental jika berbicara Baksil. Belum lagi jika berbicara politik. Mendengungkan nama Baksil di jagat politik berarti pula memiliki peluang untuk merengkuh massa yang tengah habis-habisan mempertahankan baksil agar tetap menjadi hutan kota. Isu yang dimilikinya memang sangat menarik untuk terus dieksploitasi.

Adapun Baksil sendiri, sebagai satu-satunya hutan dalam kota yang masih tersisa di Bandung, sebenarnya berfungsi sebagai pengendali kelembaban, penjaga iklim mikro, daerah resapan air, penghasil oksigen, penyerap panas, dan pembangkit hujan. Selain itu, Baksil sebagai kawasan lindung sudah dikukuhkan oleh banyak sekali peraturan. Dari segi perencanaan, Baksil memang diperuntukkan sebagai ruang terbuka hijau yang tidak boleh dibangun, kalaupun dibangun hanya ada toleransi 2%, itupun diperbolehkan hanya untuk pembangunan infrastruktur saja. 

Baksil kemudian menjadi ramai dibicarakan ketika Pemkot Bandung mengeluarkan IMB untuk pembangunan di wilayah yang terletak tepat di belakang Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) tersebut. Reaksi pro dan kontra lalu bermunculan. Pemkot Bandung sendiri beralasan bahwa pembangunan di Baksil tak akan merusak hutan yang ada, sedang elemen masyarakat yang menolak pembangunan di daerah tersebut khawatir tentang kelangsungan RTH yang dimiliki oleh Bandung.   
 
Melihat Baksil lalu membuat saya teringat percakapan dengan sang kawan lama. Daripada meributkan apa dan bagaimana Baksil. Mengapa tidak kita yang bukan siapa-siapa ini melepas segala atribut kepentingan lalu ringan meluncur ke Baksil. Ya, bermain ke Baksil tanpa perlu pusing dengan keributan di dalamnya. Dengan baksil yang dipenuhi masyarakat, ia menjadi penting. Dengan ia yang telah menjadi penting, Baksil akan benar-benar menjadi hutan kota dalam arti sesungguhnya tanpa ada pemerkosaan terhadap keseksian yang dimilikinya. Jadi, yuk, kita "ulin ka baksil"!
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails