1.2.13

Meronce Kisah JerukLemonJeruk



Bermula dari kunjungan penuh penasaran ke sebuah toko, dimulailah petualangan Mega bersama JerukLemonJeruk di kancah persilatan handmade. Dengan gigih, Mega mulai mempelajari semuanya dari nol. Learning by doing. Siapa nyana, kini JerukLemonJeruk telah sedemikian hebat menyerbu para pecinta karya-karya handmade.   

Mega, kan, banyak membuat karya ronce. Apa, sih, sebenarnya yang menarik dari aktivitas meronce itu sendiri?
Saya suka sekali dengan segala jenis aksesoris, baik itu perhiasan sampai ke aksesoris unik kreasi para crafter. Rasa ingin tahu bagaimana cara membuatnya, mendorong saya untuk mampir ke beberapa toko yang menjual peralatan dan bahan-bahan untuk meronce. Lantas saya tanya ke penjaga toko, saya harus punya alat apa saja untuk pemula yang baru mau belajar. Saya memberanikan diri untuk menjual roncean-roncean pertama melalui Facebook pribadi. Saat itu mulai banyak online selling dan teman-teman handmade crafter mulai bermunculan. Karena saya masih baru dalam online selling, saya juga sempat mencoba untuk menjual produk selain karya roncean saya sebagai proses belajar mengenal dunia online selling. Saya mulai menikmati aktivitas meronce dan mulai memilah bahan-bahan apa saja yang saya gunakan, yaitu mutiara air tawar, batu alam, metal dan beads. Konsep desain yang saya buat adalah simple, abadi, nyentrik dan one of a kind. Enggak ada yang nyamain. Apalagi saya mendapat tantangan dari beberapa pembeli koleksi saya (saya menyebutnya craft lovers) untuk dibuatkan aksesoris seperti yang mereka imajinasikan. Senang sekali ketika mendengar atau membaca komentar mereka ketika aksesoris yang mereka pesan sesuai dengan keinginannya. 


Oh, ya. Selain karya ronce, apa aja, sih, sebenarnya yang dibuat oleh Mega?
Selain karya ronce, saya juga tertarik dengan syal atau kerudung, pakaian, tas, dan lain-lain. Saya suka sekali dengan motif-motif kain dan padu padannya. Saya masih harus banyak belajar. Karena latar belakang saya adalah desainer interior, saya juga punya impian untuk merambah dengan koleksi-koleksi untuk interior seperti sarung bantal (cushion cover). Satu hal yang saya pelajari ketika kuliah bahwa “A designer is not a single fighter”. Seorang desainer pasti memerlukan kreatif-kreatif  lainnya dalam mewujudkan sebuah ide desain. Perlahan saya mulai bekerja sama dengan crafter-crafter lain untuk mewujudkannya.

Agak-agak bingung, nih. Brand yang dimiliki Mega Ada Initu Tuini terus ada juga JerukLemonJeruk. Makhluk-makhluk apa gerangan, tuh, ceritain yah.. hehehe…
Setelah mencoba merambah online selling, saya mulai memikirkan tentang brand yang harus saya cantumkan untuk hasil karya ronce saya. Terlintaslah JerukLemonJeruk. Beberapa teman-teman juga sering bertanya, “Kenapa harus JerukLemonJeruk? Kenapa gak nama yang lebih manis, lebih perempuan?”. Di antara sekian banyak online seller, saya membutuhkan suatu nama yang mudah diingat, catchy, dan mudah penyebutannya. Koleksi karya ronce saya tidak selalu “girly”, beberapa desain saya juga agak nyentrik, dan kadang saya juga berpikir untuk membuat aksesoris yang bisa dipakai untuk pria juga. JerukLemonJeruk memberikan kesan fresh, segar. Selain itu, penyebutan jeruk dua kali juga untuk menghindari kemiripan nama di pasaran. Lantas apakah Initu Tuini? Initu Tuini adalah nama Facebook online shop saya atau toko didunia mayanya lah, yang didalamnya bukan hanya hasil karya ronce aksesoris saya saja, tetapi juga menyajikan koleksi handmade ini itu ini itu.


Sebenarnya, apa yang membuat Mega tertarik dengan dunia handmade?
Ketika suatu produk dibuat secara massal, mungkin produk tersebut bisa menjadi murah dan bisa dibeli oleh siapa saja. Namun karena produk tersebut massal, kita akan bertemu dengan banyak orang yang menggunakan produk yang sama. Sedangkan handmade dibuat satu satuan saja. Kalaupun ada yang kasat mata terlihat serupa, tapi pasti ada yang membedakan. Hasil karya handmade pasti special dan tidak ada yang nyamain. Oleh karena itu saya suka sekali dengan dunia handmade. Saya suka tampil beda. Saya menyukai sebuah istilah “when it’s handmade, it’s personal”. Setiap  karya handmade yang dibuat dalam bentuk apapun pasti ada sisi personal yang menjadi kekhasan dari si crafter maupun si pecinta karya tersebut.

Tantangan terbesar apa yang harus dihadapi Mega sebagai seorang crafter?
Tantangan terbesar untuk seorang crafter ketika seseorang menganggap sebelah mata sebuah hasil karya handmade tidak jarang lebih memilih produk KW yang lebih murah. Secara global, semudah apapun, se-simple, serumit apapun bahkan seindah dan semurah atau semahal apapun sebuah karya seorang crafter, akan sangat senang sekali apabila bisa dihargai meskipun bukan berarti harus membeli. Oleh karena itu, saya berusaha untuk membuat karya yang “reasonable”, memiliki alasan kenapa dan logis. Kenapa bisa mahal, kenapa bisa murah.

Balik lagi, nih, ke karya-karya yang Mega buat. Ketika berkarya, darimana, nih, Mega mendapat inspirasi dan idenya?
Ide dan inspirasi bisa datang dari mana saja. Dari koleksi aksesoris ibu, dari melihat pameran, website, youtube, film, buku, ngobrol bahkan sedang santai pun suka timbul ide. Saya suka membayangkan dipikiran saya bagaimana cara membuatnya ketika saya sedang memikirkan untuk membuat sebuah desain, atau ketika saya sedang melihat karya seorang crafter. Bertanya, memperhatikan dan trial error sebelum dijual. Bahkan dari trial error itu sendiri kadang menimbulkan ide baru.


Apa hasrat terbesar yang dimiliki Mega dengan karya-karyanya?
Hasrat terbesar adalah karya-karya crafter mulai dicintai, mengembangkan kreasi-kreasi baru, berani untuk “think outside the box” dan Insya Allah suatu hari nanti bisa membuka galeri handmade dan dikenal karena hasil karya handmade. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails