22.2.13

Mengitari Ronggeng Gunung



Beberapa penari berlenggak-lenggok berjalan mengitar, satu-persatu, penonton tanpa mengenal usia turun ke gelanggang. Turut larut dalam aroma bernuansa sedikit mistis nan khidmat. Semakin lama, kitaran itu semakin ramai. Semakin besar membentuk lingkaran Semua larut dalam alunan suara penyanyi yang tak putus bersuara. Malam kian larut, segala semarak tak menampakkan tanda-tanda akan berhenti.

Inilah sebuah seni tari yang kerap disandingkan dengan “maut”. Ya, ronggeng gunung konon lahir dan bermula dari sebuah peristiwa berdarah. Terdapat beberapa versi tentang kisah kelahirannya. Namun, Kisah Dewi Samboja, puteri ke-38 dari Prabu Siliwangi yang bersuamikan Angkalarang, adalah versi yang paling populer.  Dikisahkan suami Dewi Samboja mati terbunuh oleh seorang pemimpin bajak laut bernama Kalasamudra. Demi membalaskan dendam, Dewi Samboja lalu dengan tekun berlatih tari ronggeng. Pucuk dicinta ulam tiba, sebuah pagelaran tari digelar oleh Kalasamudra. Dewi Samboja pun menyusup menjadi salah satu penari. Kala pertunjukan tengah berlangsung, dibunuhlah Kalasamudra untuk menuntaskan dendam. Tari yang digunakan oleh sang Dewi untuk mengelabui Kalasamudra inilah yang kemudian berkembang menjadi kesenian ronggeng gunung.

Ronggeng gunung sendiri berkembang di wilayah pesisir Pangandaran, tepatnya di Ciamis Selatan. Tahun 1970-1980an adalah masa keemasan tari ini. Lalu, sama seperti halnya kebanyakan seni tradisional, grup tari ronggeng gunung yang dahulu cukup mudah ditemukan, satu persatu mulai menghilang tak lagi mendapat panggilan mentas. Meski demikian, di tempat asalnya, ronggeng gunung masih cukup populer dan kerap digelar baik dalam keperluan adat maupun keperluan hiburan. Untuk keperluan adat, biasanya ronggeng gunung dibawakan dengan pakem tertentu, utamanya berkaitan dengan tata urutan lagu. Adapun untuk keperluan hiburan, ronggeng gunung jauh lebih fleksibel karena tidak adanya pakem-pakem urutan lagu dalam tampilannya.

Memang, jika mendengar kata ronggeng, kerap konotasi negatif datang menghampiri. Pun demikian halnya dengan ronggeng gunung. Dahulu, ia sempat pula mengalami pergeseran nilai dan digunakan sebagai ajang bagi para penari untuk menggoda kaum Adam, bahkan untuk merajut cinta kilat. Demi menghilangkan citra negatif tersebut, saat ini terdapat banyak peraturan yang dimiliki oleh kesenian ronggeng gunung. Beberapa adegan yang dapat menjurus kepada perbuatan negatif seperti mencium atau memegang penari, dilarang sama sekali. Peraturan ini merupakan suatu cara untuk menghilangkan pandangan dan anggapan masyarakat bahwa ronggeng identik dengan perempuan yang senang menggoda laki-laki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails