15.2.13

Menelusuri Gedung Merdeka



Jika melintas jalan Asia Afrika, mungkin yang terlintas di kepala adalah sebuah museum ternama yang dahulu pernah menjadi tempat berlangsungnya konferensi Asia Afrika (KAA). Ya, bangunan yang kini dikenal dengan nama Gedung Merdeka ini memang memiliki nilai sejarah yang panjang, bahkan jauh sebelum ia dikenal sebagai tempat terselenggaranya KAA. Gedung Merdeka sendiri merupakan bangunan gedung besar pertama yang dibangun di Kota Bandung. Gedung yang berdiri sejak tahun 1895 ini pada awalnya difungsikan sebagai tempat berkumpulnya para bangsawan Eropa. Gedung Socitet Concordia, demikian ia dahulu dinamai. Biasanya, pada malam hari, gedung ini ramai dikunjungi. Aktivitas-aktivitas “menak” seperti pesta dansa,pertunjukan kesenian, atau jamuan makan malam menjadi peristiwa rutin yang ada di tempat ini.

Perjalanan Gedung Socitet Concordia lalu berlanjut pada tahun 1926. Pada tahun ini, gedung tersebut direnovasi oleh arsitek kenamaan Belanda Van Galen Last dan C.P Wolff Schoemaker. Berdiri di atas lahan seluas 7200 m persegi, hasil renovasi ini menonjolkan corak art deco yang sangat kental. Kemegahan lalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Socitet Concordia. Lantainya beralaskan marmer Italia, ruangan tempat bersantai terbuat dari kayu cikenhout, dan lampu-lampu hias nan gemerlap menghiasi tiap langit-langitnya.

Meletusnya perang dunia ke-2 menyebabkan terjadinya peralihan kekuasaan di Indonesia. Jepang yang tengah melebarkan sayapnya ke seluruh penjuru Asia menggantikan Belanda sebagai penjajah. Pada masa ini, gedung bersejarah tersebut beralih fungsi menjadi pusat kebudayaan. Memang, salah satu cara yang dilakukan oleh Jepang untuk menarik simpati kaum pribumi di kala itu adalah melalui kebudayaan dan kesenian.


Kekuasaan Jepang tak berlangsung lama di Indonesia. Kemerdekaan Indonesia melahirkan perang revolusi. Untuk kesekian kalinya, sang gedung beralih fungsi. Kali ini, ia menjadi markas tentara Indonesia dalam menghadapi pasukan sekutu yang hendak mencengkramkan kembali cakarnya di bumi Indonesia.

Akhirnya, pada tahun 1954, melalui keputusan pemerintah yang menetapkan bahwa Bandung menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika, gedung yang telah berubah nama menjadi Gedung Merdeka ini mengalami pemugaran besar-besaran dengan fasilitas yang sangat lengkap di masanya. Usai penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika, Gedung Merdeka berganti-ganti fungsi. Mulai dari gedung konstituante, gedung MPRS, sampai Konferensi Islam Asia Afrika di tahun 1965. Pada akhirnya, di tahun 1980, dilaksanakan peringatan 25 tahun Konferensi Asia Afrika. Bersamaan dengan peringatan tersebut, Gedung Merdeka diresmikan sebagai Museum Konferensi Asia Afrika, museum yang hingga hari ini masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu landmark bersejarah di Kota Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails