19.1.13

The Second Jakarta Contemporary Ceramics Biennale

The Second Jakarta Contemporary Ceramics Biennale (JCCB #2) merupakan sekuel dari JCCB pertama "In Between" yang diadakan 2010 silam. Bertempat di  Museum Seni Rupa dan Keramik serta di North Art Space Gallery yang bertempat di Pasar Seni Ancol, rangkaian kegiatan pameran ini berlangsung selama satu bulan penuh, dimulai pada tanggal 21 Desember 2012 kemarin hingga tanggal 20 Januari 2013 besok. Pameran ini terbuka dan gratis untuk umum, namun untuk memasuki Museum Seni Rupa dan Keramik, diwajibkan membayar sebesar Rp 5.000,- untuk umum dan Rp 3.000,- untuk mahasiswa dan pelajar, sementara untuk memasuki kawasan Taman Impian Jaya Ancol, diwajibkan untuk membayar Rp 15.000,- perorang dan juga biaya masuk kendaraan.

Mengusung tagline "Crafting Identity", 46 seniman keramik dalam negeri maupun internasional memamerkan kemampuan craftmanshipnya dalam mengolah tanah liat hingga menjadi karya seni yang menunjukkan jati diri dan identitas mereka. Dikuratori oleh Sudjud Dartanto, pameran ini sekali lagi berusaha menunjukkan keeksisan material keramik khususnya di bidang seni kontemporer.

Salah satu karya instalasi di MSRK berjudul "Where are We?"
oleh Herra Pahlasari
Saya mengawali perjalanan menuju pameran ini dari Bandung bersama rombongan teman-teman dari jurusan Kriya Keramik ITB. Tiba di Jakarta sekitar pukul 11, kami segera menuju kawasan Museum Seni Rupa dan Keramik  (MSRK) yang berlokasi di daerah Kota, Jakarta Barat. Beberapa karya dipamerkan di hall utama museum ini, tidak terlalu banyak namun selain itu kita juga dapat melihat koleksi lain milik Museum Seni Rupa dan Keramik seperti lukisan-lukisan dan keramik kuno.

Setelah menghabiskan kurang lebih satu jam di Museum Seni Rupa dan Keramik, kami segera menuju kawasan Taman Impian Jaya Ancol dan langsung menyambangi North Art Space Gallery yang berlokasi di Pasar Seni Ancol. Dua lantai North Art Space Gallery penuh terisi karya-karya terbaik dari tangan ke-46 seniman ini. Kualitas pameran ini tak perlu diragukan, karena Jakarta Contemporary Ceramics Biennale bisa dibilang merupakan pameran keramik paling 'bergengsi' yang diadakan di tanah air.
Landscape #2+1 karya Natas Setiabudhi, Indonesia

Karya Michael J. Doolan, Australia
Karya Antonio S. Sinaga, Indonesia

Contoh hasil pembakaran raku yang kami lakukan kemarin
Selain pameran, pada tanggal 13 kemarin juga diadakan seminar bertajuk "Keramik Kontemporer dalam Kacamata Arkeologi" yang dibawakan oleh Ibu Nani Wibisono dan Pak Adi Wicaksono. Selain itu pada tanggal 13 juga diadakan workshop Ocarina-clay whistle (sejenis alat musik tiup sederhana dari keramik) oleh Geoffrey Tjakra dan workshop pembakaran keramik dengan metode Raku oleh Pak Haryo Soenggono. Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, sayapun turut berpartisipasi dalam workshop pembakaran raku. Raku ini sangat menarik, karena glasir yang dihasilkan akan memunculkan efek karat atau metalik. Hal ini dikarenakan, saat barang-barang yang masih membara panas di dalam tungku diambil secara paksa dan direduksi dengan cara dimasukkan ke dalam tumpukkan sekam atau koran.

Usai menghabiskan seharian penuh menikmati karya-karya yang luar biasa, sayapun berkesimpulan, keramik memang tidak bisa dipisahkan jauh dari kata 'craft' dan 'seni' namun seringkali masyarakat umum hanya mengenal keramik sebagai genteng atau ubin saja. Padahal, di tangan-tangan terampil para seniman, keramik bisa menjelma menjadi karya seni yang luar biasa bahkan tak terhingga nilainya. Dan itulah salah satu tujuan utama diadakannya pameran ini, untuk memperkenalkan bahwa keramik bukan cuma kendi atau celengan, bukan cuma artefak masa silam dan barang-barang tradisional saja, keramik juga bisa mengikuti jaman dan bersifat kekinian. Ya, selamat datang di era keramik kontemporer.


Lebih lengkap silakan klik http://jakartacontemporaryceramic.wordpress.com/


(Lily Meilani)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails