18.1.13

Sekonyong Kolase yang (Tidak) Sekonyong-Konyong



Rusuh. Inilah yang tengah melanda hari saya. Setelah sesiangan berkejaran dengan mendung demi berfoto-foto asoy dengan Arum sang fotografer hebring, tujuan berikutnya adalah mengunjungi penutupan Pameran Sekonyong Kolase B//A yang telah seminggu terakhir memajang karya-karya memabukkan dari Billy Anjing. Ah, ya. Maafkan saya yang tidak sempat menemui pembukaan pameran. Namun, tentu saja di penutupan ini saya harus datang. Harus, karena konon, penutupan ini kali menyampaikan ajakan untuk berkolase bersama.  

Pukul tiga sore. Setelah sempat sedikit ngebut di jalanan, sampailah saya di ruangan berdinding kayu yang telah dipenuhi dengan kolase. Bahan-bahan untuk berkolase bersama terlambat datang, beberapa kepala menunggu pasrah. Saya masih bersemangat. Maklum, seumur hidup belum pernah sekalipun berkreasi dengan potongan-potongan gambar maupun tulisan. Dalam penantian, saya amat-amati sedikit cermat pajangan karya itu satu persatu.

Lupakan masalah komposisi maupun teknik, toh saya memang tidak ahli di bidang itu. Akan tetapi, mengamati karya-karya Billy adalah pula mengamati mata seorang manusia yang tengah bercumbu dengan ketidakpastian kondisi. Sentilan-sentilan khas pemberontak muda yang gamang dalam kehidupannya jelas terbaca pada karya-karya tersebut. Tengok saja karya berjudul Buang Gitar Kalian yang mengungkit tentang buruknya industri hiburan yang telah terlalu mengkomersilkan segala sesuatunya atau karya berjudul Jangan Pakai Esia yang berupaya mengkritisi para korporat dan bersolidaritas bersama para korban.

Apa yang disampaikan oleh Sekonyong Kolase A//B bukanlah hal-hal baru. Lebih jauh lagi, ini adalah hal umum yang telah menjadi rahasia publik. Namun, di sini justru terletak kekuatan karya-karya Billy. Pendokumentasiannya terhadap peristiwa-peristiwa sosial tidak hanya sekadar menjadi obat lupa. Dalam karya-karyanya, yang dalam pameran ini merupakan kumpulan karya semenjak tahun 2005, ia berusaha menjadi pemicu (kembali) untuk bersikap terhadap beragam carut-marut kondisi sosial budaya yang seolah tak pernah bisa berhenti berduka cita. Dalam kemampatan yang terjadi, Billy pada akhirnya sekonyong berteriak dalam ketidaksekonyong-konyongan.

Ah, sudah terlalu panjang saya sekonyong bicara. Pembawa bahan-bahan berkolase sudah tiba. Muncul tergopoh-gopoh di tengah guyur hujan. Ini sudah waktunya saya dan kawan-kawan lainnya berkolase. Sekonyong ikut-ikutan berbicara melalui cabik dan potong kertas. “Memotret” sesuatu yang mungkin akan pula membuat kamu bersikap!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails