25.1.13

Menabuh (Kembali) Celempung

Jika diminta menyebutkan alat musik atau pertunjukan musik yang ada di tatar Sunda, sudah pasti kita akan menyebutkan angklung, calung, atau degung. Ya, tiga nama tersebut memang sudah teramat sangat populer sebagai seni musik sunda yang telah mengalami perkembangan pesat. Namun, tak banyak yang mengetahui celempung, sebuah seni musik yang telah pula berusia tua dan cukup dikenal di kalangan pecinta seni tradisional. 

Celempung merupakan alat musik yang terbuat dari bambu dan berasal dari Sumedang. Ia dimainkan dengan cara dipukul dengan memanfaatkan gelombang resonansi yang ada di dalam ruas batang bambu. Adapun pemukulnya terbuat dari bambu atau kayu yang pada ujungnya diberi kain tipis sehingga menghasilkan bunyi nyaring. Sebenarnya, alat musik ini telah ada semenjak jaman dahulu kala  sebagai seni warisan nenek moyang. Namun, ia sempat menghilang dari peredaran dan baru mulai dipopulerkan kembali pada medio 70-an.

Pada perkembangannya, alat musik celempung lalu menjelma jadi seni celempungan, yakni sebuah seni pertunjukan musik yang menggunakan celempung ditambah dengan kecapi, rebab, suling, dan goong. Lagu dan pertunjukan yang ditampilkan kemudian memang menyerupai pertunjukan gamelan atau degung. Ini pulalah yang mungkin membuat popularitas celempung berada sedikit di bawah dua pertunjukan musik tersebut. Bahkan, kini acapkali pula alat musik celempung tersebut malah digantikan dengan kendang atau kulanter.


Kembali lagi ke celempung. Celempung sendiri adalah alat musik yang dapat dikatakan tidak memiliki nada baku dalam alunan-alunan yang dibawakannya. Suara yang dihadirkan bergantung pada besar kecilnya udara yang keluar dari badan celempung. Jika menginginkan nada tinggi, lubang pada badan celempung dibuka lebih besar, sedang jika ingin menghadirkan nada rendah, maka lubang pun harus ditutup rapat. Hal ini membuat cara memainkan celempung cukup sulit karena melibatkan "perasaan seni" yang dimiliki oleh para pemainnya. 

Kini, celempung dapat dikatakan nyaris punah. Tak banyak pelaku seni celempung yang masih konsisten dan aktif bergelut bersamanya. Apalagi, konon, banyak pula para pengrajin bambu yang kurang berminat membuat celempung dikarenakan popularitasnya yang kian merosot. Tentu saja, tulisan pendek ini tidak ingin berandai-andai. Akan tetapi, tak salah kiranya jika kata demi kata yang hadir di sini setidaknya hendak menyampaikan pesan tentang keinginan celempung yang harus dan ingin terus berbunyi melintas jaman tanpa kenal lelah.
(Nugraha Sugiarta) 

     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails