Jumat, 31 Agustus 2012

Gembira Ria Ber-scrapbook Bersama Happy Scrap

Bergelut dengan dunia scrapbook sedari masa sekolah, Dewie Rha bersama dengan Happy Scrap-nya kemudian secara intens menggeluti seni berkreasi dengan kertas ini dengan tak mengenal henti. Bermula dari sekadar hobi menulis buku diary yang kerap ditempel-tempel dengan beragam gambar, ia lalu menyadari bahwa scrapbook adalah bagian yang tak bisa terpisahkan dari hidupnya.

Sejak kapan nih Happy Scrap berjibaku dengan scrapbook, gimana, nih kisahnya..?
Sebenernya kegemaran terhadap scrapbook sudah ada sejak dini,  Dulu waktu jaman rikiplik SMP SMA, kan suka tulas-tulis di diary trus bikin guntingan gambar, ditempel dan dikasih kata-kata indah. Nah, pada jaman itu belum tahu kalau itu yang namanya scrapbook. Perkenalan beneran dengan Scrapbook itu sejak pertengahan tahun 2008, secara tidak sengaja menemukan suatu majalah keluaran Australia yg isinya tentang scrapbook dan langsung “klik” dan  semakin di telisiki semakin jatuh cinta. Ini dia nih “passion”ku.  Dan terus terang pada tahun itu pun kegiatan atau istilah Scrapbooking itu belum begitu dikenal. Saya ingat toko yang jual perlengkapannya pun cuman ada satu toko dan yang di jual pun belum begitu variatif. Jadi waktu itu saya beli langsung dari USA untuk item-item yang enggak dijual di Indo dan kadang titip temen. Oh, ya. Di tahun itu pula saya berkenalan dengan Ria Nirwana, orang yg super kreatif dan termasuk salah seorang pioneer scrapbook di Indonesia. Dari beliau saya banyak belajar teknik-teknik scrapbooking dengan mengikuti workshop yang diadakan ama Mba Ria Nirwana. 


Apa, sih, sebenarnya yang menarik dari scrapbook itu sendiri?
Scrapbooking itu menurut saya  Fun, Art and Creativity. Semakin kita suka dan kreatif maka layout yang kita bikin itu semakin menarik dan eyecatching. Suatu foto atau gambar yang biasa-biasa saja akan menjadi luar biasa apabila kita bikin layout yang kita hias dan atur sedemikian rupa. Itu yang bikin saya suka dan enjoy banget pada saat membuatnya.  Scrapbook bisa di pelajari tapi tidak semua orang INTO scrapbooking. Ada yang memang suka bangeeet, ada yang cuma penikmat aja, ada juga yang suka beli pernak pernik nya tapi cuman jadi benda collectible saja, dan ada yang seperti  saya yang hobi, scrap addict, hobi beli juga, hehehe… Dan sekaligus jualan juga di facebook. 

Rada-rada melankolis, nih, pertanyaannya hehehe… Scrapbook itu kan biasanya digunakan untuk catatan tentang kenangan gitu… Happy Scrap sendiri melihat keterkaitan antara scrapbook dan kenangan seperti apa?
Kalau selama ini kita, kan, taruh foto hanya diselipin aja di album. Polos gitu aja, kan. Nah, dengan adanya scrapbooking, foto atau gambar favorit kita bisa menjadi semakin hidup. Foto yang biasa saja apabila kita kasih hiasan kemudian kita kasih title atau history behind the photo, kita taruh memento atau memorabilia, maka hasilnya menjadi luar biasa efeknya. Dan suatu saat nanti kalau anak cucu kita membuka album itu, kita akan teringat akan kenangan tersebut dan bisa bikin tersenyum. Bagusnya lagi kita juga bisa menghadiahkan kepada orang-orang yang kita cintai  hasil scrapbooking tersebut supaya mereka ingat kenangan tersebut. 


Apa hal utama yang harus diperhatikan ketika seseorang berminat hendak membuat scrapbook?
Yang esensial sih harus ada  foto atau gambar favorit kita. Foto yang mau dibikinkan scrapbook itu lagi bertema apa, apakah tema liburan, shopping, makan-makan, family photo,  dan lain-lain. Setelah foto siap, baru lah kita mencari perlengkapan yang menunjang untuk di jadikan layout. Mulai dari kertas bermotif (pattern paper), Kertas warna solid, hiasan untuk foto,  bisa pita-pita lucu, button,washi tape, metal embelishement. Bergantung selera.

Berkaitan dengan material, nih… bahan-bahan kertas seperti apa, sih, sebenarnya yang cocok untuk dibuat menjadi scrapbook?
Hmm... Kertas atau cardstock yang tebel, yah, yang Acid Free supaya gak kuning biarpun disimpen bertahun-tahun. Selain itu, bisa bikin scrapbook di atas Corragurated Paper, itu lho, seperti bahan karton yang tebel buat kardus dan sekarang pun ada yang dijual khusus yang Acid Free. Terus bisa di atas canvas, jadi bisa di mix antara foto, cat acrylic dan berbagai medium di atas canvas. Scrapbook juga tidak mesti dibuat di kertas ukuran 12”x12”,8”x8” atau 6”x6”, tapi bisa juga di bikin seperti Mini Album dengan bentuk album yang bisa bermacam-macam juga. Dalam bentuk album kreatifitas kita malah semakin terasah dan foto yang kita ikutkan bisa semakin banyak. Selain itu, jika kita bosan dengan ready made album kita juga bisa bikin sendiri albumnya dan itu semua bisa di pelajari di Youtube atau di Blogger-nya para pakar scrapbook.


Oh, ya. Apa, nih, hal palinggggg menarik dan tidak biasa yang dimiliki oleh Happy Scrap dibandingkan scrapbook yang lain…
Setiap individu tuh punya ciri khas dan feel beda-beda. Ada yang suka hiasan rame, ada yang sukanya simpel. Kalau saya  suka bikin layout vintage dan bikin Alter Project, misalnya menghias bentuk kotak atau kaleng dengan macam-macam hiasan dan aku suka banget yang namanya mix media art, gabungan lukisan, foto, dan collage. Selain itu saya juga bisa bikin aksesoris yang beberapa embellishement  scrapbook-nya, terutama yang emtal dijadikan ornamen kalung atau hiasan gantungan kunci. Seru banget, deh, jadi enggak berhenti di scrapbook aja.

Apa, nih, harapan terbesar yang dimiliki oleh Happy Scrap melalui karya-karyanya?
Saya pengen scrapbook semakin berkembang dan di kenal oleh masyarakat di sini. Jangan hanya popular di USA atau Eropa. Saya ingin scrapbook juga diajarkan di sekolah-sekolah sebagai salah satu ekskul atau kegiatan bulanan, deh, soalnya ini FUN banget. Mimpi saya kalau bisa, sih, ada gitu perusahaan lokal yang memproduksi materialnya supaya harganya gak terlalu mahal. Soalnya bisa dibilang hobi scrapbook ini hobi mahal, secara semua materialnya import dan bikin menguras dompet buangeed. Jadi karena bahannya mahal tidak semua orang bisa dan mampu untuk belanja produk-produknya.  Saya juga seneng banget kalo ada temen-temen yang mau belajar scrapbook, akan dengan senang hati diajarin. Pokoknya saya paling semangat banget, deh, kalau sharing ilmu. 

Google Twitter FaceBook

Mengenal Tenun -Menenun

Beberapa waktu lalu, ketika lebaran hendak menjelang, seorang kawan meminta saya untuk menemaninya menjadi bagian dari budaya popular lokal khas negeri ini, berbelanja baju lebaran! Jadilah kami yang selalu merasa muda ini iseng menelusuri pertokoan dan distro yang berserak di tengah kota Bandung. Perburuan yang melelahkan plus sulitnya menemukan baju idaman memaksa kami terdiam di emperan trotoar dan mulai ngalor-ngidul bercakap-cakap untuk sekadar mengumpulkan energi. Saya yang awam mengenai dunia perbajuan lalu mencoba menelisik dunia kain dan perbajuan kepada sang kawan yang kebetulan lulusan desain tekstil tersebut. Mulai dari batik sampai sablon ia jelaskan dengan panjang lebar dan cukup ilmiah sampai percakapan itu berhenti di dunia tenun menenun. Sayang, ia tak terlalu banyak mengerti tentang dunia yang satu ini meski sempat mendalaminya di bangku kuliah. Apa itu sebenarnya menenun? Pertanyaan itu mengawang sampai kaki menjejak ke rumah dan memaksa saya untuk kembali mencari tahu mengenai makhluk tersebut.

taken from http://id.wikipedia.org
Setelah oprak-oprek ke sana kemari, definisi menenun itu sendiri saya temukan. Menenun adalah proses persilangan dua kain dari helaian benang pakan dan benang lungsin yang sebelumnya diikat dan dicelupkan kedalam zat pewarna alami. Menenun sendiri ditengarai telah ada dari masa berabad-abad lampau, bahkan sejak jaman paleolitikum alias jaman batu. Pada masa itu, karya-karya tenunan yang dibuat banyak terinspirasi dari bentuk jaring laba-laba dan juga sarang burung. Pada perkembangannya, di masa masehi, kebutuhan manusia akan sandang membuat tenun-menenun pun tersebar luas, mulai dari dataran Eropa sampai menelusup ke wilayah Asia dan tentu saja masuk pula ke pulau-pulau yang kini dikenal dengan nama Indonesia.

Mesin Tenun Power Loom
Tentu saja kegiatan menenun ini sangat mengandalkan tangan nan terampil dalam pengerjaannya, sehingga pada masa-masa awal perkembangannya, ia hanya dapat diproduksi dalam jumlah yang sangat terbatas. Perubahan besar kemudian terjadi pada abad ke-18. Lahirnya berbagai penemuan baru mendorong terjadinya revolusi industri di berbagai wilayah di Eropa yang dimulai dari London,Inggris. Pada tahun 1733 John Kay menemukan mesin tenun bertenaga manusia yang dinamainya dengan flying shuttle. Permasalahan baru kemudian muncul, kecepatan menenun dengan mesin tersebut tak berimbang dengan kemampuan memintal benang sampai kemudian pada tahun 1764 menemukan mesin pintal yang dinamai spinning jenny. Penemuan ini kemudian disusul pula dengan ditemukannya mesin pintal bertenaga air pada tahun 1769 oleh Richard Right. Kondisi kemudian berbalik, gulungan benang menjadi banyak sehingga terjadi kekurangan tenaga penenun. Pada akhirnya, Edmun Cartwright menemukan mesin tenun bertenaga uap yang dinamai power loom. Karyanya ini menyeimbangkan antara jumlah penenun dan pemintal. Mesin tenun kemudian terus bergerak maju, salah satu yang cukup spektakuler di masa modern adalah mesin tenun sistem otomatis bernama Jidoka yang dibuat oleh Sachiki Toyoda dari Jepang.

Lalu bagaimana dengan ranah tenun menenun di tanah air? Karya-karya tenun di Indonesia, utamanya tenunan buatan tangan seperti kain ulos atau songket sangat terkenal hingga saat ini. Bahkan, tenun ikat dari Sumba kini tengah diusulkan kepada Unesco untuk menjadi warisan dunia. Di samping itu, karya tenun-menenun ini banyak pula berkembang di daerah-daerah lainnya seperti Kalimantan dengan tenun sambas dan tenun doyo serta di Sulawesi dengan tenun buton dan tenun donggala.
Google Twitter FaceBook

Kamis, 16 Agustus 2012

Percakapan Singkat nan Unik Bersama Buku Unik

Singkat, padat, jelas. Demikian percakapan Tobucilhandmade kali ini bersama Selvia sang penggagas Buku Unik. Pun demikian, melalui karya-karya buku yang dibuatnya, kekaguman para pelihatnya terhadap kreativitas yang dimilikinya tak akan pernah bisa berhenti. Seperti apa, sih, Buku Unik? Langsung saja di cekidot!

Haloo Selvia… Buku Unik lagi sibuk ngapain aja, nih, sekarang…?
Lagi sibuk cari reseller dan tempat untuk supply product bukuunik… hahaha. Ya, sibuk produksi juga, sih…

Sebenarnya, buku-buku seperti apa, sih, yang dibuat oleh Buku Unik?
Diary handmade dengan cover-cover yang unik, lucu, dan imut. Buku Unik juga mengangkat berbagai tema seperti  birthday, love, memory, school , friendship, dan lain sebagainya. Bukunya pun bisa untuk dijadikan scrapbook juga.


Hal paling inspiratif apakah yang membuat Selvia dengan Buku Uniknya bisa menjadi seperti sekarang?
Ingin exsis aja, hehe…
 
Buku Unik, kan, ada karya-karya yang dibuat dari bahan recyle… Ceritain dong tentang proses kreatif Buku Unik ampe bisa nyulap barang yang sudah tidak terpakai itu jadi karya-karya yang cantik?
Awalnya itu bermula dari majalah-majalah yang numpuk, mau di buang juga sayang, akhirnya di manfaatin deh . Di gunting bagian yang mau di ambil dari majalahnya, dirakit jadi satu, kemudian di press menjadi cover.


Darimana, tuh, belajarnya ?
Ga ada belajar di mana-mana. Berdasarkan hobi dan autodidak saja. Sebenarnya saya hobinya scrapbooking, jadi buku-buku yang saya buat juga dengan konsep scrapbooking.

Buku Unik sendiri, kan, menggunakan strategi offline dan online dalam memasarkan produknya. Apa, nih, tips dan triks yang paling utama sebenarnya bagi seorang crafter ketika hendak memasarkan karya-karyanya?
Well, mungkin bisa bermula dari online, karena paling irit biaya dan bisa diakses siapa saja…

Apa, sih, target utama yang menjadi bidikan Buku Unik di masa depan…?
Mempunyai workshop dan bisa memasukkan produk  sampai ke luar negeri… 

Google Twitter FaceBook

Ini bukan Sekadar Permainan

17 Agustus tiba, hari kemerdekaan Indonesia ini selalu dirayakan dengan meriah. Setiap negara tentu memiliki kebiasaan yang berbeda ketika merayakan hari kemerdekaannya, demikian pula halnya dengan Indonesia. Beragam permainan seru yang sangat “Indonesia” kerap digelar di seluruh pelosok negeri. Permainan tersebut bahkan menembus segala kelas masyarakat. Meski kini 17-an bertepatan dengan bulan puasa, tentu saja hal-hal unik yang dimilikinya tak akan menepi begitu saja. Nah, mari kita mengingat beberapa di antaranya...

Siapa yang tak kenal panjat pinang. Ini adalah satu dari sekian banyak permainan yang paling populer ketika 17 Agustus tiba. Permainan tradisional yang melibatkan tim ini menggunakan batang pohon pinang yang telah dilumuri oleh pelicin. Setiap tim kemudian berlomba-lomba untuk mencapai puncak. Tim yang berhasil mencapai puncak terlebih dahulu dinyatakan sebagai pemenang. permainan tersebut seolah menyiratkan makna kebersamaan dalam satu tim untuk meraih kemerdekaan di ujung batang pinang. Jalan menuju kemerdekaan melalui perjuangan berat dan sulit. Dan tentu saja, hadiah-hadiah yang diikatkan di puncak pinang menjadi hak sang pemenang. Siap-siap saja mandi seusai mengikuti panjat pinang, karena tubuh pasti kotor belepotan oli dan macam-macam bahan pelicin lainnya!

Lomba balap karung kemudian menjadi lomba legendaris lainnya yang diadakan setiap 17-an. Mirip lomba lari, peserta harus menempuh jarak tertentu, dan siapa yang mencapai finish terlebih dahulu, dialah pemenangnya. Serunya permainan ini adalah, setiap peserta harus menggunakan karung goni ketika bertanding. Walhasil, mereka pun akan meloncat-loncat dan terkadang sampai terjatuh karena terlalu bersemangat sehingga kakinya tersangkut di karung yang tengah dikenakannya. Dari sisi filosofis, bisa jadi pertandingan ini dimaksudkan untuk mengenang betapa penjajah dahulu begitu kejam sehingga rakyat harus menggunakan karung goni sebagai bahan pakaian. Setelah merdeka, simbolisasi kemerdekaan itu mungkin diwujudkan dengan cara menginjak-injak karung goni sekaligus mengajarkan betapa tidak enaknya berlari dan melompat ketika kaki terbungkus dan jangan sampai hal itu dialami kembali oleh bangsa kita di masa depan.


Lalu ada lagi permainan gebuk bantal yang memertemukan dua petarung untuk saling bertukar pukulan dengan menggunakan bantal dengan duduk di atas sebuah batang pinang atau batang lainnya. Siapa yang jatuh, ia yang kalah. Pecinta damai memang tak suka peperangan. Dengan gebuk bantal ini, setidaknya sebuah pertempuran tanpa korban jiwa dan mengundang keriaan dapat mengajarkan agar kita terus berdamai dan bersatu padu mengisi kemerdekaan. 

Nah, yang satu ini nyaris tak pernah terlewat. Mungkin pedagang bendera menanggung untung besar setiap bulan Agustus tiba, namun bisa jadi, penjual kerupuk adalah pedagang yang paling panen rezeki ketika hari kemerdekaan. Pasalnya, pertandingan makan kerupuk  adalah sebuah pertandingan wajib yang diselenggarakan pada tiap 17-an. Dengan tangan terikat. Tiap peserta harus dulu-duluan menghabiskan kerupuk yang tergantung di hadapannya. Melalui permainan ini, kita dapat bersyukur bahwa saat ini kita tak seperti masa lalu yang serba kekurangan termasuk kekurangan bahan pangan. Hmm... bagi yang berminat mengikuti pertandingan ini, sebaiknya mengisi perut terlebih dahulu di rumah. Mengapa? Jawabannya hanya satu, tak pernah ada dalam sejarah kuliner, kerupuk bisa mengenyangkan perut!

Hanya itu saja? Tentu masih banyak lagi. Hari kemerdekaan di negeri ini memang selalu dirayakan dengan pertandingan-pertandingan unik. Punya ide pertandingan unik? Coba saja wujudkan ide tersebut ketika 17-an, siapa tahu menjadi legenda dan masuk ke dalam catatan sejarah!
Google Twitter FaceBook

Jumat, 10 Agustus 2012

Dililit Karya Cherry Eve

Mendengar kata kabel mungkin yang terlintas di benak adalah PLN yang kerap byar pet itu atau sekawanan kabel dengan berbagai perkakas teknisi listrik di sebelahnya. Namun, Tobucilhandmade kali ini tentu saja bukan hendak berkisah tentang seorang teknisi listrik apalagi dirut PLN, ini adalah cerita seorang crafter bernama Jane Pranata dengan Cherry Eve-nya yang dengan gilang gemilang memuntir melilit kawat menjadi perhiasaan yang unik.

Karyanya unik banget, nih dan kayak ada kawat-kawatnya/kabel-kabelnya gitu (bingung nyebut materialnya, hehehe). Aksesoris seperti apa, sih, yang sebenarnya dibuat oleh Cherry Eve?
Hehe, aksesoris yang kubuat itu sebenarnya menggunakan wire alias kawat. Kawatnya itu dipuntir, diuntel, digulung. Bahasa gaulnya diuwer sampai menjadi sebuah perhiasan yang oke. Bisa berupa pendant, kalung, gelang, cincin dan bros.

Ketika berkarya, apa target terbesar yang ada di benak Jane dengan Cherry Eve-nya?
Targetku pas berkarya sebenarnya sederhana aja, aku kepingin aksesoris yang kubuat bisa berguna dan disukai sama pembelinya. Karena setiap karyaku itu handmade dan dibuat dengan penuh cinta, jadi rasanya senenggggggg banget kalo denger salah satu customerku bilang kalo dia suka sama aksesori yang kubuat. Melayang-layang gitu deh, hehe

Kayak layangan dong, hehehe. Oh, ya. Darimana, nih, Jane awalnya dapet ide untuk bikin-bikin aksesoris unik itu?
Sebenarnya aku mulai tertarik sama dunia aksesoris kawat sejak aku SMA. Aku pernah melihat salah satu buku aksesoris impor, dan di dalamnya ada aksesoris yang terbuat dari kawat. Sayangnya karena banyak kegiatan, hal itu jadi terlupakan. Sampai kebetulan akhir tahun lalu, bulan Desember pas aku browsing, aku melihat tawaran untuk kursus wire jewelry. Akhirnya karena penasaran, aku ikut kursus wire basic itu. Nah, sejak saat itu aku jadi semakin jatuh cinta dengan perhiasan wire, aku sering eksplor-eksplor, hunting buku berbagai wire jewelry lokal dan import. Aku juga sering membeli tutorial online berupa pdf dari para master wire. Malam-malam ketika anakku sudah tidur, aku mengendap-ngendap dan coba membuat perhiasan wire. Lambat laun, tehnik yang kupunya semakin bertambah, aku mulai berani mencoba membuat sketsa-sketsa perhiasan seperti apa yang ingin kuwujudkan. Dari sketsa-sketsa yang ada, aku buat jadi perhiasan jadi. Kadang hasil akhir memang tidak terlalu sesuai dengan sketsanya, tapi dengan membuat sketsa ide-ideku jadi lebih ‘keluar’ dan banyak detail yang tak terlupakan.


Apa, nih, cara paling ampuh menurut Jane bagi seorang crafter agar kepalanya selalu dipenuhi dengan ide-ide dan enggak nge-blank?
Menurutku cara yang paling ampuh buat seorang crafter supaya ide-ide tetap bermunculan adalah dengan menyeimbangkan kegiatan craftingnya. Jadi kalau idenya sudah mandeg, ya, sebaiknya refreshing dulu, jangan langsung dipaksakan. Aku pernah sampai vakum tiga minggu enggak nguwer kawat sama sekali, tapi habis itu aku berhasil membuat sebuah karya yang oke, hehe... Selain itu, bisa juga dengan browsing, buka-buka buku crafting atau melihat karya-karya masterwire jewelry. Ttapi terinspirasi aja ya, jangan meniru, hihi…


Cherry Eve sendiri sudah melanglang buana kemana aja, nih? Ceritain dong tentang perjuangannya biar eksis di kalangan penggemar handmade dan aksesoris…
Jujur aku slama ini belum pernah ikutan bazaar atau kegiatan apapun, hehehe... Selama ini Cherry Eve hanya sebatas online shop saja karena keterbatasanku harus ngurus anak, kerja, dan sebagainya, hehehe... Eh tapi rencananya akhir tahun ini, CherryEve akan sebuah pameran lho, doakan semuanya berjalan lancar ya

Aminnnn…. Nah, Menurut Jane, apa, sih, sebenarnya tantangan terbesar yang harus dihadapi oleh pelaku handmade?
Tantangan terbesarnya menurutku adalah banyaknya plagiaters, alias orang yang suka meniru tanpa mau capek-capek memikirkan idenya sendiri. Menurutku hal ini adalah a BIG NO NO, hal ini juga yang membuat beberapa talented crafters kehilangan minatnya untuk terus berkarya. Gimana engga sedih kalo karya yang dibuat dengan susah payah ditiru dan disebarluaskan tanpa ijin, atau lebih parah lagi di mass-product atau dibuat dengan jumlah yang sangat banyak dengan harga yang relatif lebih murah. Sayangnya, banyak plagiaters yang enggak mengerti dan tetap bandel. Jadi, please please hargailah crafter yang sudah susah payah mencari ide. Aku yakin banget karya mereka (para plagiaters) pasti lebih original dan enggak akan kalah bersinar kalau aja mereka mau meluangkan sedikit waktunya untuk mencari ide.


Apa mimpi terbesar yang dimiliki Cherry Eve di masa depan?
Mimpi terbesar Cherry Eve saat ini adalah mengembangkan terus karyanya agar bisa tembus sampai ke pasar internasional, hehe... Cherry Eve juga ingin bisa terus berkiprah di dunia crafter dan terus eksplor dunia per-kawatan.



Google Twitter FaceBook

Percakapan Penjaja Bendera

Debu dari beberapa kendaraan yang lewat sesekali mengepul menerpa wajahnya. Sorot matahari siang itu memancar dengan cukup terik, membuat wajahnya yang legam sedikit berkeringat. Satu hal yang pasti, pancaran semangat untuk terus menjalani kehidupan begitu terlihat dari wajahnya. Tak jauh dari tempatnya duduk, seutas tali darurat memajang bendera merah putih dalam beberapa ukuran. Lelaki paruh baya itu bernama Mang Ujang. Acap mendekati peringatan kemerdekaan Indonesia, ia pun beralih profesi menjadi penjual bendera. Rutinitas ini telah dilakukan Mang Ujang lima tahun lamanya. 

Perkenalan kami siang itu sebenarnya tak disengaja, hanya karena saya hendak membeli koran di seorang penjaja yang kebetulan mangkal tepat di sebelah Mang Ujang berjualan bendera. “ Benderanya, Kang, untuk di motor,” tawar Mang Ujang ramah sambil mendekati saya, senyumnya lalu mengembang. Di tangannya, sang saka merah putih dalam ukuran mini tergenggam. Tak berapa lama, bendera mungil seharga dua ribu rupiah yang ditawarkannya pun berpindah tangan dan percakapan kami lalu berlanjut.

Sehari-hari Mang Ujang sebenarnya bekerja sebagai buruh bangunan, namun ia selalu meliburkan diri dari profesinya tersebut ketika tujuhbelasan tiba. “ Ya, bandingkan saja, dengan menjadi buruh bangunan saya hanya mendapat uang sekitar lima puluh ribu rupiah sehari, itu juga tak menentu, bergantung ada tidaknya proyek. Nah, di saat-saat sekarang, dengan menjajakan bendera selama sebulan, saya bisa mendapat untung bersih sampai tiga juta rupiah,” terang Mang Ujang.

Mang Ujang mengaku bahwa ia mendapatkan bendera-bendera dagangannya dari seorang juragan yang memang telah dikenalnya sebagai distributor bendera. Tak kurang dari empat juta rupiah ia keluarkan dari kocek pribadinya sebagai modal awal. Harga bendera yang dijajakannya pun bervariasi, bergantung dari ukurannya. Mulai dari yang kecil seharga dua ribu rupiah sampai bendera berukuran besar yang biasa digunakan di perkantoran dan dihargai puluhan ribu rupiah. 

“ Ah, saya mah begini saja. Nyari rejeki sambil merayakan kemerdekaan. Lumayan untuk modal anak-anak sekolah,” seloroh Mang Ujang sambil tertawa kecil. “ Saya hanya rakyat kecil yang cari makan,” lanjutnya kemudian.

Di tengah kemeriahan dirgahayu negara ini, Mang Ujang seolah merayakan kemeriahan tersebut dengan caranya sendiri. Kemeriahan itu dimaknainya dengan memanfaatkan euphoria masyarakat dalam menyambut hari kemerdekaan atau mungkin lebih tepatnya rutinitas masyarakat setiap 17 Agustus: memasang bendera di depan rumah. “ Saya bukan orang yang senang mengeluh, apalagi menuntut,” terang Mang Ujang. Ia lalu bertutur bahwa dengan kehidupannya sekarang ia telah cukup bahagia meskipun dapat dikatakan sangat pas-pasan apalagi ia harus menghidupi seorang istri dan empat orang anaknya yang kini telah beranjak remaja. 


“Merdeka itu bagi saya minimal saya bisa berjualan dengan bebas tanpa harus takut dengan apapun. Saya bisa bebas nyari duit, meski hanya menjadi buruh bangunan atau jualan bendera. Ya, kemampuan saya mungkin memang hanya baru sebatas itu saja. Doa saya sih, semoga anak-anak saya tidak mengulang apa yang saya lakukan. Semoga saja kehidupan mereka di masa depan jauh lebih baik dan memiliki profesi yang lebih dihormati,” tutur Mang Ujang panjang lebar.

Di tengah obrolan hangat kami, sebuah mobil menepi, membeli dua buah bendera berukuran besar. Dengan cekatan ia layani sang pembeli. Senyum Mang Ujang kembali mengembang demi melihat rupiah yang disodorkan oleh pembeli tersebut. Adegan itu tersaji hanya dalam hitungan detik di depan mata saya, namun ia begitu dalam menyentuh. Bendera itu bukanlah hanya sekadar barang dagangan yang dijajakan oleh Mang Ujang, namun ia adalah sebuah simbol kebanggaan. Entah bagaimana isi hati para pembeli yang mampir ke kios dadakan Mang Ujang, namun setidaknya saya yakin, ada yang terselip di hati Mang Ujang sebagai penjaja bendera, hidup di bumi Indonesia dengan tidak hanya berpangku tangan. Merdeka!
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails