Jumat, 27 Juli 2012

Menikmati Etnik Kalung Monte

Kalung Monte adalah penggemar hal-hal yang berbau etnik, pun demikian pula dengan karya-karya yang dihasilkan. Full etnik super Indonesia, hehe… Dimulai dari sebuah liburan di Ibukota, Sekar dan Kalung Monte-nya kemudian bersemangat menggeluti dunia perkalungan di tengah teriknya panas matahari Surabaya.

Namanya unik, nih. Kok dinamain “Sekar Kalung Monte”?
Benernya sih namanya kalung Monte... gara-gara ada rame-rame ols di blokir dgn isu enggak boleh dagangan di fb, jadi ditambahin namaku “Sekar”. Untuk nama “Kalung monte” sendiri, sih, sederhana saja, saya suka yg berbau indonesia dan biasanya kalung dibuat dari untaian monte-monte yang cantik.

Hoo, gt… Kalung-kalung seperti apa aja, sih, yang dibuat oleh Kalung Monte?
Saya suka bikin yang berbau etnik  Saat ini kalung monte lagi suka bikin kalung dengan aplikasi kain batik yang berusaha menonjolkan keindahan dari motif-motif.

Kalung Monte sendiri sudah sejak kapan, nih, terjun ke dunia perkalungan? Gimana ceritanya?
Kira-kira sekitar tahun 2003-an. Saya seneng banget sama yang namanya pernak pernik dan yang berbau etnik walaupun saya sendiri bukan org yg suka pake aksesoris kemana-mana. Ibu saya suka sekali bikin kerajinan tangan. Dari ibu sayalah, saya jadi seneng bikin-bikin kalung. Jadi awalnya waktu itu liburan ke Jakarta terus main ke pasar pagi Mangga Dua. Di sana banyak banget toko yang jual bahan buat kalung dari batu-batu alam. Seru banget. Terus ada tante yang menawarkan mau menjualkan kalung bikinanku. Dari sana saya semangat bikin-bikin kalung. Terus sempet vakum karena hamil sampai kemudian ada temen yang kerja di sekolah internasional ngasih tahu banyak bule-bule yang udah bosen sama oleh-oleh dari Surabaya. Saya jadi semangat lagi bikin-bikin kalung dari perca batik limbah tentangga yang punya usaha jahitan. Kalau untuk mulai jualan di FB sebenarnya dimulai dari keponakan-keponakan saya yang masih SD jualan aksesoris bikinanya pake FB. Saya kagum banget sama krucil-krucil itu, PD banget bisa jualan di FB. Lama-kelaman saya mengikuti jejak mereka jualan via FB hingga sekarang.

Agak-agak filosofis, nih. Kalung itu kan identik dengan jewelry yang selalu dikesankan barang berkualitas… Hal apa, sih, yang membuat Kalung Monte bisa terlihat eksklusif?
Berusaha bikin kalung ini enak dipakai dan awet, tidak gampang putus, misalnya, talinya atau ringnya tidak gampang terbuka walaupun kalung tersebut hanya berasal dari selembar perca-perca batik, hehe… Terus berusaha mempertahankan  kualitas…

 
Aku lihat karya-karya Kalung Monte unik dan beda. Gimana cara Kalung Monte untuk terus memiliki ide dan kreativitas yang banyak dalam berkarya?
Standar, sih. Cari idenya seperti yang lainnya, senang search lewat internet, baca-baca majalah, dan jalan ke toko-toko souvenir atau barang antik.


Kalung Monte, kan, dari Surabaya. Beberapa orang bilang bahwa Surabaya agak tertinggal kalau ngomongin dunia craft. Kalau menurut mbak sendiri gimana, nih?
Ada benernya. Di surabaya memang iklim kreatifnya tidak seperti di kota lain dan event yang menampung  dunia craft sendiri masih kurang, money oriented-nya masih gede dan pengaruh budaya asing dari timur masih kental karena mereka yang menguasai pangsa pasar di Surabaya. Beda banget sama Jakarta, Bandung, Yogyakarta. Malah sekarang Malang udah lebih disorot dunia kreatifnya.


Apa sebenarnya rahasia utama yang membuat Kalung Monte dapat terus bertahan dan berkembang?
Saya yakin sesuatu yang dikerjakan dengan senang dan sepenuh hati pasti akan lebih tahan lama.

Google Twitter FaceBook

Menelisik Sejarah Masjid Raya

Keberadaannya pernah begitu terpinggirkan. Di bagian belakangnya bahkan dahulu pernah menjelma menjadi sebuah tempat lokalisasi yang dapat dibilang lebih populer dibandingkan dirinya. Sempat tenggelam di antara bangunan-bangunan megah bertingkat yang dijadikan pusat perdagangan paling ramai di Kota Bandung, Masjid Raya Bandung yang lebih dikenal dengan nama Masjid Agung ini kini tampil sebagai sosok meyakinkan. Dua menaranya yang dibalut marmer dari Yunani menjulang setinggi 81 meter. Dari atas menara tersebut, semua orang dapat dengan leluasa menyaksikan kota Bandung yang kian penuh dengan bangunannya yang saling silang sengkarut.

Sebagai bangunan bersejarah, Masjid Agung pada awal keberadaannya memiliki makna  pragmatis, sintaksis, dan simbolik berdasarkan fungsi, letak dan nilai yang diwakilinya. Makna simbolik masjid ini tidak bisa dilepaskan dari posisinya sebagai masjid utama di Bandung dan karakter yang menyertai atribut “Agung” yang tidak bisa secara sederhana diartikan sebagai kemegahan tampilan semata melainkan juga dengan ikatan nilai tertentu dengan pengamatnya. Sejak awal dibangun dilakukan, Masjid Agung telah mengalami lima kali perombakan. Dalam rentang waktu tersebut lingkungan sekitar Masjid juga mengalami perubahan karena perkembangan tata kota dan pertumbuhan masyarakat. Renovasi tahun 2002 ini merupakan renovasi terbesar yang mengubah tampilan dan luas Masjid Agung. 

Masjid Agung Bandung dibangun bersama pendopo kabupaten tidak lama setelah Gubernur Jenderal Daendels memerintahkan pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung dari Krapyak ke lokasi sekarang. Krapyak terletak sekitar 11 kilometer sebelah selatan dari pusat Kota Bandung. Waktu pembangunannya sendiri sebenarnya memiliki beberapa versi. Namun beberapa sumber mengatakan bahwa masjid ini mulai dibangun pada tahun 1810. Pada awal berdirinya, Masjid Agung hanyalah masjid tradisional biasa berbentuk bangunan panggung yang terbuat dari bilik bambu dan atapnya dari rumbia dengan kolam tempat mengambil wudhu yang cukup luas dihalaman depannya.

Bila menilik dari sisi religiusitas, sebenarnya Masjid Agung merupakan cerminan dari kultur religius masyarakat Bandung pada masanya. Hal ini terlihat dari dijadikannya Masjid Agung sebagai sumber pembangunan kota di wilayah alun-alun. Masjid Agung yang berada di sebelah barat alun-alun merupakan satu kesatuan yang utuh dengan bangunan lain di sekitarnya. Di sebelah selatan terletak pendopo dan di sebelah timur terdapat bangunan Bale Bandung, yang kemudian berubah jadi bioskop dan akhirnya menjadi pusat perbelanjaan. Agak ke utara dari simpang empat Jalan Alun-alun Barat dengan Jalan Banceuy terdapat bangunan Penjara Banceuy, tempat Soekarno pernah ditahan dan mempersiapkan pembelaannya bertajuk Indonesia Menggugat.

Namun, itu semua dahulu. Kini masjid tertua di Bandung ini mungkin tak akan lagi menemui masa-masa keemasannya. Kiri kanannya telah dijelmakan lahan-lahan komersil sehingga tak menyisakan secuil pun kemegahannya. Belum lagi serakan pedagang kaki lima yang begitu semrawut tak tertata yang selalu datang dan pergi setiap saat semakin menggerus keagungannya. Jikalah harus berujar, kemegahan itu mungkin hanya tersisa dari sembulan dua menaranya yang tampak begitu kokoh memesona. Tanpa disadari, hari demi hari tampilan masjid semakin seperti tenggelam dalam lautan hiruk pikuk segala macam aktifitas tersebut di atas. Apalagi setelah dibangunnya pagar yang tinggi di sebelah timur bangunan masjid, maka Masjid Agung seperti hendak menghindar dari tekanan-tekanan dari luar yang boleh jadi memang mengganggu.

Tentu, meski kondisi kemajuan jaman terus mendesak keberadaannya, setidaknya, Masjid Agung masih berdiri di tempat yang sama dengan pada awal pendiriannya. Ia tetap menjadi salah satu ikon religius yang dimiliki oleh Bandung. Hanya saja, satu hal yang kurang mungkin adalah kurangnya daya integrasi keberadaannya dengan hiruk-pikuknya aktifitas komersial. Tentu bukan berarti digabung, tetapi diintegrasikan secara serasi, harmoni dan seirama. Apabila hal tersebut dapat tercapai, maka dapat dipastikan ciri religius dalam ruang dan bentuk arsitektur serta ruang kota di wilayah tersebut dapat semakin menonjolkan fungsinya sebagai pusat ibadah dan juga sekaligus sebagai wahana sosial penduduk Kota Kembang. Tapi satu hal yang pasti, kumandang adzan ketika sore merambat akan selalu menjadi hal terindah yang dimiliki oleh Masjid Agung. Tak pernah luntur meski tercabik masa.
Google Twitter FaceBook

Jumat, 20 Juli 2012

Kertas-Kertas Lucu LV Floper

Ketika jaman SD saya senang lipat-melipat kertas. Mulai dari kertas buku pelajaran sampai kertas dari buku cetak saya lipat-lipat sesuka hati. Nah, yang satu ini tentu saja kemampuan lipat-melipatnya bertingkat-tingkat jauh di atas saya. Amelia dengan LV Floper-nya adalah salah satu pelipat kertas paling wahid yang pernah saya temui. Penuh dengan liku-liku yang tentu teramat panjang jika saya atau Amelia ceritakan di sini plus takut disangka curhat, akhirnya LV Floper dengan selamat mampir di Tobucilhandmade meski sedikit terlambat dari rencana awal. Selamat membaca, hehe…

Hello hellooooo… apa saja, nih yang diciptakan oleh LV Floper dengan lipatan-lipatan kertasnya?
Hello jugaa.. yang diciptakan oleh LV Floper dengan lipatan kertasnya yaitu pajangan atau hiasan untuk pemanis di ruangan biar tambah manis dan cute kamar atau ruangannya, hehe Selain itu flopernya bisa juga dijadiin brooch atau bross.

Hmm... Kenapa pilihannya jatuh ke kertas? Apa,sih, sebenarnya yang menarik dengan kertas itu sendiri?
Kalau di tanya kenapa pilihannya jatuh ke kertas, jawabannya karena kertas itu sering dipakai oleh kita untuk menulis atau untuk bungkus kado. Nah, yang bikin aku tertarik sama kertas ini yaitu motifnya, terlebih aku suka banget sama motif  kertas kado yang lucu dan bagus-bagus, sampai kadang sayang kalau mau dipakai, hehe...


Genre kertas-kertasan ini, kan, banyak banget, yah. Ada paper quiling, ada amigurumi dan lain-lain. Kalau LV Floper apa, nih, genrenya?
Ehmm.. kalau di tanya genre nya LV floper apa, jujur aku bingung jawabnya. Kalau menurut aku sih mungkin lebih ke origami ya? Melipat-lipat biasa aja sih, enggak ada yang khusus genre nya apa.

Oh, ya. Perkenalan Amel sendiri dengan kertas-kertas itu sampai bisa kepikiran bikin LV Floper gimana,tuh, ceritanya?
Perkenalannya aku sama kertas-kertas ini sebenernya karena suka sama motif kertas kado yang lucu-lucu, lalu kepikiran aja, sepertinya lucu juga kalau dibikin bunga kertas atau flower paper karena, kan, masih lumayan jarang yang bikin craft dari bahan kertas kado. Sebenernya bikin flower paper ini juga iseng-iseng aja, waktu itu pengen bikin yang lucu dan unik, akhirnya dari iseng-iseng pengen bikin yang unik dan lucu  jadilah bunga kertas atau flower paper “LV floper”  ini.

Hal apa, sih, yang paling memberi pengaruh LV Floper dalam berkarya? Kenapa?
Kalau ditanya hal apa yang paling memberi pengaruh dalam LV floper berkarya, jawabannya mood-nya  karena kalau mood lagi kurang bagus, hasil flopernya jadi kurang bagus juga, tapi kalau mood-nya bagus, hasilnya juga bagus, bikin hati senang dan puas. Lalu, selain mood, biasanya ide untuk motif flower paper-nya buat kombinasi warna kertas-kertasnya karena sebisa mungkin antara floper satu dengan lainnya motifnya beda, biar unik dan gak sama.

Selain media kertas yang digunakan, hal utama apa, nih, yang menjadi ciri utama yang dimiliki LV Floper?
Selain media kertas, aku juga memakai fabric button yang di pasang di tengah si flopernya, itu ciri utama dari LV Floper.


Project terbesar dan paling diidam-idamkan oleh LV Floper apakah gerangan?
Project terbesarnya jujur belum kepikiran hehehe.. masih dipikirkan dulu. Kalau yang paling di idam-idamkan yaitu flopernya laris manis serta orang-orang yang sudah membeli floperku puas dan senang dengan hasilnya.

Google Twitter FaceBook

Mencumbu Balaikota

Minggu pagi adalah sebuah hari yang selalu saya nanti-nantikan. Entah bagaimana menurut orang lain, tapi bagi saya, ia adalah sebuah hari yang mampu memuaskan dahaga saya akan petualangan dan melihat kegiatan manusia-manusia lainnya. Dan ini adalah cerita tentang sebuah minggu ketika saya menelusuri sebuah keramaian Bandung di minggu pagi. Balaikota yang terletak di daerah Wastu Kencana menjadi tujuan saya hari itu.

Jam di tangan menunjukkan pukul sembilan pagi ketika kaki saya melangkah ke kompleks perkantoran yang sehari-harinya digunakan untuk kegiatan adminsitratif pemerintah kota Bandung tersebut. Di akhir minggu, tempat tersebut pun kerap mengubah dirinya menjadi sebuah ruang publik yang banyak digunakan oleh warga Bandung untuk sekadar mencari udara segar. Atas dasar itu pulalah kemudian hari ini saya mencoba untuk sedikit menilik sambil sekalian “cuci mata”. Balaikota (Balkot) sudah sangat ramai pagi itu. Ujaran seorang teman yang mengatakan bahwa tempat ini adalah salah satu tempat favoritnya di akhir minggu mau tak mau harus saya akui kebenarannya. 

Melihat Balkot di pagi hari sebenarnya cukup membuat saya terperangah. Bandung mungkin tidak memiliki kompleks olahraga yang lengkap seperti halnya Jakarta. Namun ternyata keterbatasan tersebut tak menjadi halangan bagi warganya yang hendak menyegarkan diri di pagi hari. Seolah tak peduli dengan lalu lalang kendaran yang begitu penuh di setiap sisi kompleks Balaikota, mereka melakukan aktifitasnya dengan begitu riang gembira.

Bagi saya sendiri, Balkot adalah sebuah tempat bersejarah. Ketika masih menginjak bangku SMP, saya acap mengunjunginya bersama teman-teman untuk sekadar bermain roller blade. Tempatnya yang cukup luas, belum lagi ditambah dengan kenyamanan yang ditawarkannya membuat saya betah berlama-lama meluncur. Usai mengeluarkan keringat bersama roller blade, saya dan teman-teman biasanya akan duduk-duduk di bawah salah satu pohon-pohon besar yang banyak terdapat di Balkot sambil melihat para skater berlatih beberapa trik skateboard. Itu dahulu, kini para skater itu tak terlihat batang hidungnya. Sebagian besar dari mereka memilih untuk berlatih di tempat lainnya.

Kembali pada kisah saya di minggu pagi. Kenangan masa lalu membuat saya memilih salah satu pojokan Balkot dengan ditemani sebotol teh kemasan. Mata saya berpendar ke seentaro Balkot. Seorang lelaki yang mengaku pengunjung setia Balkot tiba-tiba mengambil posisi duduk tepat di samping saya. Perkenalan pun dimulai, dan obrolan terjalin. “Sudah dua tahun belakangan ini saya senang main ke Balkot setiap minggu pagi,” ujarnya ringan memulai ceritanya.

Andi, demikian ia akrab disapa, bertutur bahwa kecintaannya terhadap tempat ini sebenarnya lahir karena keasrian dan juga keluasan yang dimilikinya. “Bandung adalah kota yang memiliki tingkat pembangunan cukup cepat. Ruang terbuka untuk menghirup udara segar pun jadi terus-terusan berkurang karenanya. Nah, bagi saya, Balkot adalah satu alternatif yang  pas untuk menumpahkan kerinduan terhadap ruang terbuka yang masih memiliki udara segar,” ungkapnya ringan.

Obrolan kami berlangsung cukup singkat, tak sampai 10 menit, namun dari obrolan tersebut, setidaknya saya menangkap sebuah pesan penting. Rindu akan udara bersih, kegembiraan melihat sesamanya untuk terus berusaha bugar, dan menjalin persahabatan dengan banyak orang adalah hal-hal yang mungkin menjadi alas an utama para pengunjung Balkot.

Ah, saya jadi merasa rugi jika terlalu lama duduk-duduk tanpa menjelajahinya. Usai menyeruput teh botol, saya segera kembali mengelilinginya. Sebentar saya mengamati sekelompok muda-mudi yang tengah asyik bermain voli. Senyum mereka kemudian mengembang, anggukan kecil saya berikan. Tawaran bermain voli tak saya sia-siakan. Tawa kami pun lalu berkejaran menyusuri pagi. Kini saya memiliki teman baru.
Google Twitter FaceBook

Jumat, 13 Juli 2012

Khama Khama yang Selalu Gembira Ria

Pertama kali menilik Khama Khama, saya agak bingung karena tertukar-tukar dengan nama Kiara Flisha. Usut punya usut, setelah investigasi tak bermutu dilancarkan, barulah saya tahu ternyata Kiara Flisha adalah oknum yang paling bertanggung jawab terhadap karya-karya yang ditasbihkan dengan nama Khama Khama. Mengulik-ngulik dunia buttons dan notebook, Khama Khama mungkin adalah seorang crafter paling bernas dalam hal trial and error, hehehe… Kerap melakukan berbagai eksperimen maha memabukkan, lahirlah berbagai karya yang unik dan oke punya.

 
Khama Khama lebih ke per-button-an dan notebook, ya. Apa, sih, yang membuat kamu jatuh cinta ke dua benda tersebut?
pada dasarnya saya sangat mudah jatuh cinta dengan visual design yang menarik, apapun medianya. Namun karena kain dan kertas adalah yang paling sering saya temui dalam kehidupan sehari hari, maka menjadi pencinta kedua media tersebutlah saya. Singkat cerita, sejak kecil saya suka sekali mengkoleksi notebook. Selain karena suka menulis dan journaling, saya juga berhobi mandangin  buku-buku dengan kover menarik berjejer manis di rak buku saya. Sampai di suatu ketika, saya berjumpa dengan kain dengan motif -motif yang saya sukai, serasa berlabuhlah cinta saya, hehehe… Saya merasa membuat notebook sendiri dengan kover yang saya inginkan merupakan puncak kebahagiaan, halahh... Kemudian motif di kain itu mulai memanggil manggil saya untuk dijadikan asesoris pribadi seperti cincin, bros, jepit rambut, dan juga stationary seperti magnet, pembatas buku, dan lain sebagainya. Dari sana, tertuanglah kecintaan saya itu di sebuah media 3 cm bernama button. Serunya lagi, kedua benda tersebut ketika sampai ke tangan customer, pasti akan jadi benda-benda baru yang berubah fungsi…


Khama Khama sendiri awalnya belajar darimana tuh sampai kemudian bisa bikin karya-karya super maknyus?
Otodidak. Saya lebih sering memulai dengan eksperimen sok tahu saya dan berakhir dengan teori sendiri, hahaha... Maksudnya, ketika mengerjakan sesuatu, saya bermula dari hati lalu baru pindah ke tangan. ngutak ngatik sesuatu, bongkar pasang, salah coba lagi. Kalau kepepet dan frustasi baru saya browsing dan buka buku untuk belajar. Tapi, pengalaman membuat sesuatu dari salah menjadi benar itu sebuat proses yang amat berarti.


Selain, button dan notebook, ada lagikah sebenarnya yang dibuat oleh Khama Khama?
Yang officially ada di online store memang notebook dan fabric buttons, tapi kalau lagi bazaar dan event khusus, Khama Khama juga bikin asesoris, notebook  dengan model yang lebih bervariasi seperti travelling journal dan stationaries lainnya. Sekarang ini lagi persiapan untuk kejutan  karya baru. Ditunggu aja surprisenya, hihi…

Oh, ya. Notebook dan bentuk-bentuk button, kan, dibuat oleh cukup banyak crafter, nih… Apa, sih, yang menjadi nilai spesial karya Khama Khama sehingga berbeda dengan karya-karya crafter lainnya?
saya senang memberikan value added ke produk saya, misalnya, notebook itu comes with charm di pembatasnya dan button, dimana keduanya bisa dikreasikan lagi oleh customer. Juga packaging-nya, kan, dengan box yang bisa didekor ulang utk dijadikan kotak yang multi fungsi. Sedangkan untuk buttons, motif-motifnya sangat unik dan saya sesuaikan dengan kebutuhan customer saya yang beragam. Dari accessories maker, scrapbooker, dan sebagainya. Terkadang saya pengen nangis karena harus mutilasi pattern dan buang banyak sekali kain demi ngambil sepotong motif yang menurut saya indah, hehe… Untuk buttons, teknik pembuatannya enggak ada yg nyamain. Jadi kalau dijejerin sm buttton lain, you will know which one is mine :D


Sebenarnya, apa yang menjadi ketertarikan utama dari dunia handmade buat Khama Khama sendiri?
Handmade punya nilai lebih dibanding barang-barang buatan massal. Mulai dari proses, lalu keterikatan batin sama kreatornya. Personal touch yang enggak bisa hilang dan enggak bakal pasaran. Jadi saya yakin pembuat dan penggunanya sama-sama bahagia…

Nahhh… menurut Khama Khama, mindset seperti apa. sih, yang harus dimiliki oleh seorang crafter?
Yang terutama cari dulu apa yang kita suka. Lalu explore kesukaan kita tanpa batasan, ngikutin intuisi. Then happiness and money will follow you, hahaha… Oh, iya, satu lagi yang penting, jangan pernah takut dengan kegagalan, itu awal yg penting untuk seribu langkah ke depan!

Apakah hasrat terbesar yang dimiliki Khama Khama di dalam dunia per-handmade-an?
berkarya menggunakan kain with my own design!


Google Twitter FaceBook

Catatan Kecil Pembukaan Helarfest : Lightchestra

Beberapa hari lalu, dengan gegap gempita saya dan dua orang paling absurd yang pernah saya kenal iseng-iseng mendatangi Babakan Siliwangi (Baksil), sebuah hutan kota yang tersisa di Kota Bandung. Lightchestra, demikian event yang merupakan bagian sekaligus pembukaan Helar Fest 2012 itu dinamakan. Sebuah acara yang konon hendak merespon empat hal penting : hutan, kampung, sungai, dan taman. Menengok tempat pembukaan itu diselenggarakan, sudah barang tentu di benak meluncur bayangan-bayangan segar penuh tanda tanya mengenai bagaimana hutan di respon oleh para penggiat kreatif.

Malam semakin beranjak. Kesalahpahaman bodoh membuat kami agak sedikit terlambat. Namun, tentu saja semangat masih menggebu-gebu. Memasuki kawasan Baksil, petunjuk jalan dengan lampu di tanah cukup menarik dan menambah rasa penasaran. Sayang, rasa penasaran itu berbuah sedikit kecewa. Pertunjukan laser yang dijanjikan hanyalah berupa sorotan laser yang tak terlalu ramai berwarna hijau. Beruntung, seorang teman dengan kamera murahan dan skill fotografi amatirnya mampu mengabadikan beberapa foto nan absurd yang setidaknya jauh lebih bisa dinikmati dibanding realitas yang dihadirkan oleh Lightchestra. Di tengah arena, silih berganti penampil dari berbagai band mengisi malam plus ditambah dengan kerlap-kerlip lampu dari sebuah komunitas pecinta Star Wars.

Merespon hutan pun kemudian berubah menjadi memindahkan keramaian urban ke tengah hutan. Akhirnya, hanya dua hal yang setidaknya mampu membuat saya bertahan di tengah kebingungan, menikmati dua band favorit saya, Homogenic dan Teman Sebangku. Selebihnya, sebagai awam, tak terasa sama sekali responisasi terhadap hutan dan juga “lightchestra” seperti yang saya bayangkan.

Tentu saya harus berpikir sedikit lebih positif tinimbang mendadak sakit kepala memikirkan apa sebenarnya konsep dari Lightchestra sendiri jika dikaitkan dengan proses merespon sebuah hutan. Isu penggusuran Baksil memang selama ini sudah santer terdengar. Apapun bentuknya, kegiatan yang diselenggarakan oleh Helar Fest kemudian seolah mencoba memberi pernyataan paling trengginas bahwa Baksil masih diperlukan untuk berbagai aktivitas bagi warga Bandung. Ini kota kami dan ini hutan kami, biarkan ia menjadi seperti itu! Mungkin jika harus diverbalkan kalimat itulah yang cukup menantang untuk diteriakkan.

Atas dasar alasan itu pula, meski sedikit dikecewakan, mungkin esok hari saya akan mencoba kembali menyambangi kegiatan Helarfest lainnya. Setidaknya, jika memang hendak mengaktifkan hutan, sungai, kampung, dan taman yang ada di Bandung, maka responisasi dari kesemuanya itu bukan terletak pada siapa dan bagaimana ia diselenggarakan. Ia ada karena ada yang mau mengakuinya, sesederhana itu.
Foto : Dian Mayangsari
Google Twitter FaceBook

Jumat, 06 Juli 2012

MicaWork : Jangan Khawatir, Crafter Itu Bisa Makan!

Kali ini Tobucilhandmade menghadirkan percakapan super hangat dengan Oom muda yang berdarah arsitek namun tertarik produk furnitur dan bermimpi memiliki warung kopi. Dikenal dengan bantal-bantalnya yang super unyu, MicaWork adalah satu dari tak banyak orang yang intens dan percaya dengan dunia kreatif. Bahwa dengan craft hidup pasti terjamin, plus satu lagi, bisa eksisssss, hehehe…

Karya-karya MicaWork sepertinya banyak berhubungan dengan perbantalan, nih, hehe. Sebenarnya apa saja yang dibuat oleh MicaWork?
Sebenarnya MicaWork hanya sub-brand. Masih ada sub-brand lain yang produknya lampu, rak buku, dan lain sebagainya. Saya dulu berprofesi sebagai arsitek, yang sesungguhnya lebih tertarik pada produk furnitur. Hanya saja ketika bersentuhan dengan dunia “jualan”, produk plush seperti bantal dan boneka lebih banyak dipesan orang. Jadilah aneka bantal dan boneka itulah yang terekspos. Saya pada dasarnya juga senang merintis sesuatu yang baru. Misalnya saja saya suka biskuit coklat, trus jadi pengen banget bikin usaha biskuit coklat. Bukan nyari duitnya; tapi rasanya asyik bisa mempelajari dan menguasai suatu metode. Eh, bikin warung kopi menarik juga. Gimana kalau saya dan Nunuw ngajak mbak Tarlen bikin cafĂ© di Tobucil? Kita beri nama “warkocil” alias Warung Kopi Kecil. Huhuhuu…


Hahaha, ide bagusss…. Oh, ya.. Di Facebook MicaWork tertulis “Hasta Karya Unik Produk Indonesia”. Artinya?
Label ‘hasta karya unik produk Indonesia’ adalah target karakter yang ingin dicapai oleh MicaWork melalui desain, pengenaan aspek fungsi, dan nilai pada tiap karya. Saya selalu berusaha agar, misalnya, sebuah boneka selain sebagai pajangan atau koleksi, juga memiliki  fungsi, misal pengharum lemari, tas, dan lain sebagainya sehingga memiliki nilai lebih. Saat ini saya sedang mengembangkan produk bantal yang dapat ditulis atau dilukis, sehingga menjadi media alternatif.


MicaWork, kan, sudah cukup lama ya eksis. Gimana, tuh, cerita pergulatan MicaWork dalam mengarungi dunia craft dan handmade?
MicaWork mulai di rintis sejak tahun 2006. Nama MicaWork berasal dari nama keponakan saya: Michayla, gadis cilik yang pintar dan cantik.  Antara waktu itu sampai saat ini ada masa-masa vakum dan jatuh-bangunnya. Kalau dibikin sinetron bisa sampai 14 seasons. Hehe… Seriusnya sih mulai tahun 2011. Jadi sebenarnya juga belum lama-lama amat. Apalagi bila dibandingkan teman-teman lain yang sudah masuk tv dan lain-lain, rasanya MicaWork belum cukup eksis.

Bentar lagi kayaknya giliran Mica Work, hihi… Hmm…  Apa, sih, yang membuat MicaWork mau bergulat ria di dunia handmade?
Karena saya bisa menyalurkan pasion saya yakni mendesain sesuatu, dan bisa dapat duit untuk bayar ini  setumpuk tagihan kartu kredit, daftar cicilan panci, surat gadai mesin jahit, Tunggakan PLN, rencana keliling eropa tiga bulan, beli rumah di jalan Menteng di Jakarta, beli helikopter, ehmm…apalagi ya…

Nraktir saya mas, ahahahaha… Menurut Mas Paulus, apa permasalahan utama yang seringkali dihadapi oleh para crafter? Gimana cara mengatasinya?
Sangat sedikit referensi yang bisa dimanfaatkan seorang crafter pemula untuk mengembangkan dirinya. Coba Nunuw lihat buku tentang flanel di toko buku, jumlahnya banyak sekali tapi isinya itu-itu saja. Padahal kita punya banyak sekali tekstil dan serat khas Indonesia yang bisa dikembangkan sebagai alternatif. Sedihnya, tidak banyak komunitas yang bisa menjadi wadah bagi crafter menumbuhkan ketrampilan, wawasan, serta mentalitas seorang crafter. Banyak komunitas yang hanya berfungsi sebagai akuarium, jadilah para crafter itu sebagai “crafter akuarium”. Untuk itu crafter harus mandiri serta percaya diri. Banyak membaca dan melihat untuk mengembangkan wawasan. Selain bidang craft yang diminati, seorang crafter juga kudu memiliki pengetahuan tentang trend desain, teknologi, pranata hukum, etika bisnis, dan lain sebagainya. Tentu saja tidak semua crafter  harus membisniskan karyanya, tapi itu cara paling realistis dan praktis mendapatkan penilaian secara obyektif.

Nah, sekarang, menurut Mas Paulus, apa keuntungan terbesar ketika seseorang memilih jalan menjadi seorang crafter?
Ehm.... karena saya sudah oom-oom, jawaban saya pragmatis saja ya. Seorang crafter yang memiliki ketrampilan, selama dia mau bekerja tidak perlu khawatir ga bisa makan. Hehe… Dia memiliki aset yakni ketrampilannya untuk membuat sesuatu karya yang bisa dijual dan menghasilkan uang. Melalui karyanya, seorang crafter juga bisa menyatakan harkat dirinya, perasaan, serta aspirasinya. Misalnya saja seorang crafter yang peduli lingkungan pasti akan membuat karya yang mendukung pelestarian lingkungan.


Apa hal terpenting yang harus dimiliki oleh seorang crafter?
Selain kudu kreatif dan inovatif, seorang crafter kudu bisa menekan ego-nya. Dengan demikian, seorang crafter akan bisa membuka diri terhadap hal-hal baru, sehingga karyanya semakin baik dan bermakna.
Email : paulusphoek@gmail.com
Twitter  @micawork
Ph. 0857 2500 5599
Jl. Yos Sudarso 102 – Surakarta 57151


Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails