Jumat, 29 Juni 2012

Tsabita dan Boneka-Boneka Edukatif

Jika selama ini boneka seringkali hanya dijadikan pajangan atau teronggok begitu saja di pojok kamar, tidak demikian halnya dengan boneka yang satu ini. Tsabita Boneka Puppet justru anti menjadi barang pajangan semata. Mengusung gagasan tentang edukasi, Tsabita lalu menerjunkan diri dalam pembuatan boneka-boneka super unyu dengan berbagai inovasi di dalamnya.



Halo Bu Ira, apa kabarnya nih Tsabita? Sedang sibuk apakah?
Alhamdulillah baik, Tsabita Boneka sekarang sibuk mengerjakan pesanan dari pelanggan kami dari Malaysia, terutama untuk moslem softdoll,  dan  Indonesia lebih ke produk boneka tangan karena sekarang menjelang tahun ajaran baru.

Sejak kapan sebenarnya Bu Ira menekuni dunia pembuatan boneka? Gimana, tuh, cerita awal kisahnya?
Kira-kira sekitar tahun 2003. Awalnya saya ingin membuat boneka untuk anak perempuan saya sendiri, boneka yang bisa di bongkar pasang bajunya untuk melatih motorik halusnya, tapi boneka itu bahannya harus aman dan lembut karena anak saya masih balita. Dari sinilah timbul ide membuat boneka anak berjilbab dari kain karena bisa dicuci kalau kotor. Ternyata setelah jadi bukan hanya anak perempuan saya saja yang senang, anak-anak teman saya juga suka dan beberapa teman saya tertarik dan minta dibuatkan boneka yang sama untuk dipasarkan olehnya. Sejak itu saya menyadari kalau boneka buatan saya layak jual. Maka saya mencoba menitipkan ke stand kenalan saya di Islamic Book Fair (2003) di Jakarta sekitar 50 boneka yang tanpa diduga habis dalam waktu sehari. Sejak itu saya dibantu suami mantap mengalihkan fokus ke bisnis pembuatan boneka. bahkan suami saya total mendukung dan melepaskan pekerjaanya sebelumnya. Seiring masuknya pesanan yg bertubi-tubi  kami mulai mengajak beberapa tetangga dekat rumah yang mau membantu menjahit dan memotong serta finishing dan mengajarinya hingga bisa, tadinya semua kami kerjakan hanya berdua dari memotong sampai finishing.

Boneka-boneka seperti apa aja, sih, yang dibuat oleh Bu Ira?
Awalnya saya hanya membuat moslem sofdoll, saat itu anak saya yang pertama masih TK dan saya melihat sarana pendidikan yang berupa boneka tangan masih sangat susah dicari. Dari sinilah timbul ide saya membuat boneka tangan profesi untuk anak karena salah satu kurikulum TK adalah mengenalkan profesi kepada anak. Alhamdulillah boneka tangan profesi ini banyak yang menyukai sehingga mulai banyak yang mencontoh produk-produk kami ,boleh dibilang kami termasuk pionir pembuat boneka tangan profesi di Indonesia. Setelah boneka tangan profesi kami diberitakan di beberapa media waktu itu, datanglah orang yang bekerja di USAID Jakarta yang minta tolong dibuatkan boneka tangan yang seperti muppet bisa buka tutup mulut untuk kepentingan penyuluhan. Bayangkan tanpa contoh yang bisa dipegang  saya harus mengarang pola boneka muppet yang saya belum pernah sama sekali menyentuh apalagi membuatnya. Alhamdulllah setelah beberapa hari  berusaha membayangkan bonekanya secara 3 dimensi  jadilah prototipe boneka muppet cablak kami yang pertama kali yang masih sederhana, yang diterima dengan senang hati oleh pemesan kami. Oh, ya.. karena banyaknya permintaan dari ibu-ibu berupa boneka untuk mendongengi anaknya di rumah sedangkan boneka tangan profesi  terlalu memakan tempat jika beli satu set (ada 12 macam profesi) untuk pribadi maka kami mulai membuat boneka jari profesi. Lama-lama karakter yang kami buat semakin banyak dan berkembang seperti  karakter binatang dan keluarga. 


 Apa sebenarnya konsep yang diusung dari karya-karya Tsabita?
Konsep kami Educate and Entertaining, karena kebanyakan produk kami dipakai untuk sarana mengajar dan mendongeng. Kami tidak ingin boneka produk kami menjadi pajangan, bagi kami itu adalah kesalahan penggunaan produk kami, jadi produk kami harusnya  bisa dimainkan oleh anak  dan digunakan sebagai sarana bercerita bagi orang tua , pendidik, dan para pendongeng. Dari sanalah manfaat produk kami bisa dirasakan.

Menurut Bu Ira, apa keistimewaan dari sebuah boneka itu sendiri?
Bagi saya boneka itu kegunaannya sangat fleksibel utuk anak. Ia bisa melatih koordinasi mata dan tangan bahkan pendegaran juga kalau diberi bunyi-bunyian, bagi anak-anak, balita-SD, selain bisa melatih motorik halus mereka, juga bisa mengembangkan daya imajinasi mereka dan juga bisa memberikan rasa nyaman dan menjadi teman yang menyenangkan. Bagi Orang tua dan pendidik juga pendongeng dengan sarana boneka dan bercerita, karakter anak bisa kita bentuk menjadi lebih baik dan  juga untuk memperlancar komunikasi walau tidak dengan bercerita. Beberapa guru TK mengatakan  ke saya boneka tangan sangat menolong untuk menjadi ice breaker di awal kegiatan belajar mengajar di sekolah sehingga anak memiliki mood untuk terus belajar.


Apa, nih, rencana jangka panjang dan jangka pendek yang sedang dijalani oleh Tsabita?
Rencana jangka pendeknya kami ingin menambah sdm  yang tidak jauh-jauh dari rumah kami. Jangka panjangnya tentu kami ingin mempunyai workshop terpisah dari rumah karena sekarang masih jadi satu.


Hal apa yang paling menginspirasi Bu Ira dalam berkarya?
Inspirasi utama tentu anak-anak saya. Jika saya membuat desain produk yang baru saya selalu bertanya ke anak-anak saya cocok tidak dengan selera mereka? Karena tujuan utama produk saya adalah untuk anak-anak.

Google Twitter FaceBook

Digoyang Bajidoran

Ah, malam yang kian menusuk memaksa saya untuk menaikkan resleting jaket. Hampir saja saya memutuskan untuk pulang ke rumah jika saja handphone di saku tidak tiba-tiba berbunyi menyampaikan sebuah pesan singkat dari seorang teman: “Mari menyusuri pinggiran kota, ada yang menarik.”


Huff, pesan macam apa ini. Menyuruh datang tanpa ada keterangan tambahan apapun. Tapi entah mengapa, hati saya tergerak dengan kepala membuncah penasaran. Entah berapa lama saya duduk di jok penumpang. Panas rasanya bokong ini sampai kemudian di sebuah asing di sudut Cileunyi ia menghentikan motornya.

“ Sudah sampai?” saya bertanya.
“Ya,” jawabnya singkat.

Pelan saya langkahkan kaki dengan muka bodoh nan bingung. “Kita lihat Bajidoran,” ujar sang teman dengan santainya. Bajidoran? Makhluk apa lagi itu? Bertahun-tahun tinggal di kota ini, baru sekarang saya mendengar kata “bajidoran”. Setelah tanya kiri-kanan, akhirnya kata “bajidoran” itu dapat sedikit saya pahami. Bajidoran ternyata adalah semacam kesenian yang memertemukan dua atau lebih “tim” tari. Tim tersebut saling mempertunjukkan kemahirannya menari diiringi musik tradisional Sunda dengan beat cepat. Pada awalnya, bajidoran yang merupakan perkembangan dari seni tayub, ketuk tilu, banjet, dan tanji ini berasal dari budaya yang lahir di tengah-tengah masyarakat Pantura Jawa Barat, seperti di Majalengka. Waktu kemudian membuat Bajidoran mengalami akulturasi dengan ranah budaya asli Priangan dan menghasilkan bentuknya yang seperti saat ini. 

Di depan panggung, para penonton juga menari-nari dengan penuh kegembiraan. Sesekali para penonton melemparkan uang saweran ke panggung. Tua-muda tampak memenuhi arena pertunjukkan. Di tengah guyuran hujan saya jadi ikut-ikutan menari. Tertawa dengan penuh kegembiraan.

Lelah kemudian memaksa saya untuk beristirahat sejenak. Pandangan berpendar mengamati sekeliling. Anak-anak muda dengan dandanan masa kini yang bergerombol di depan stage begitu fasih menari. Para lelaki paruh baya dengan ikat kepala khas Sunda juga tak mau kalah, pun demikian pula halnya dengan kaum hawa dari berbagai kalangan usia. Bermacam generasi dari berbagai dekade itu berbaur menyatu dalam malam yang semakin larut dan ramai.

Tak ada lampu-lampu gemerlap, tak ada bebunyian sound system kelas wahid, atau raungan distorsi. Bajidoran berbagi kesepiannya yang begitu ramai menggema di tengah dekade yang kian maju ini. Besok, bisa jadi saya sudah kembali pada rutinitas hidup. Menyusuri jalanan kota, berpacu mengejar waktu, meninggalkan bajidoran yang tak akan bisa lepas dari ingatan. What a wonderful night!

Di salah satu sisi panggung, teman saya melambaikan tangannya memanggil dengan seutas senyum di bibirnya. Saya balas senyum itu sambil melangkah kembali ke tengah-tengah arena. Kembali turut menari, melarut bersama bajidoran.
Google Twitter FaceBook

Jumat, 22 Juni 2012

Perjalanan Bersama Journ(al)ey


Perjalanan, apapun itu bentuknya adalah sebuah kisah yang menarik untuk dicatat, diceritakan. Ini kali Tobucil Handmade bercakap-cakap dengan sang pejalan tangguh. Tentu saja, bukan biro travel yang menjadi tokoh utamanya. Adalah Cice sang penggagas Journ(al)ey dengan buku- bukunya yang ciamik dengan semena-mena mengajak untuk mengembara berkeliling Indonesia…

first question... apa itu Journ(al)ey 
Journ(al)ey buat saya itu merupakan tempat saya berkarya. Gabungan dari dua kata, journal dan journey. Kalau disingkat, ya, kurang lebih artinya semacam catatan perjalanan. Jadi seperti tempat untuk mencatat perjalanan-perjalanan.


Cice bikinny note-note gitu, ya? Sebenarnya, apa aja sih yg dibuat oleh dirimu..
Aku bikin custom handmade journal. Jadi semacam notebook gitu, tapi custom made karena aku bikinnya by order dan orang bisa pesen temanya apa aja terserah mereka. Di dalamnya itu aku kasih gambar-gambar ilustrasi sesuai temanya.


Nah… Kenapa  harus Indonesia? kenapa enggak internasional aja gitu, journaley internasional, hehe…
Hahaha, lho, kan cinta negara sendiri doong… Rencana kedepannya semua produknya bakal aku kasih label "made in Indonesia". Jadi nanti go internasional, tapi tetap dengan nama Indonesia, aminnnnn….

Aminnnnn, dapet persenan enggak, nih, yang ikut ngaminin hahaha…  Hmmm... menurut kamu, seberapa penting sih sebuah perjalanan sampai ia harus dicatat dalam sebuah Journ(al)ey?
Hehe… Iya, dapet persenan pahala. Seberapa pentingnya, ya, tergantung orangnya sndiri. Aku sendiri termasuk orang yang sangat menghargai kenangan dan benda-benda kecil yang mungkin org lain suka enggak peduli. Jadi awalnya emang karena diri sendiri aku bikin journal-journal sendiri yang di dalemnya aku tempelin stiker dari hadiah permen, daun yang aku temuin di jalan waktu mau nengok temen di rumah sakit, atau tiket-tiket bioskop. Semuanya aku kumpulin, terus pas aku buka lagi beberapa taun kemudian, semuanya jadi lebih berharga rupanya.‎ Nah, di situ aku dapet ide buat berbagi 'rasa' berharganya ke orang-orang. Makanya aku bela-belain bikin custom journal yang aku bikin satu-satu by order. Aku pengen orang-orang juga bisa ngerasain betapa berharganya ngumpulin kenangan, catatan, atau apapun dari perjalanan hidup mereka.

Journ(al)ey ini kan membawa-bawa nama "indonesia". Emang bentuk keindonesiaan apa sih yang ada di karya-karya Cice?
Bentuk Indonesia-nya bisa dilihat dari ke-handmade-annya itu. Semuanya dibuat di Indonesia dan emang aku juga pernah ngeluarin yang seri Jawa. Di dalamnya aku gambar penari jawa, gamelan, trus pake kain batik juga untuk covernya. Ada rencana juga untuk bikin yang seri-seri budaya Indonesia, tapi masih dalam proses, dimatengin dulu nih..

Kan, banyak banget nih yg bikin notebook. Cara Cice menjaring peminat ke notebook bikinan Journ(al)ey sndiri gmn?
Awalnya emang cuma dari mulut ke mulut via temen-temen, itu aja aku udah kewalahan, soalnya kan aku gambar sndiri. Tapi sekarang ini sudah mulai merambah via online. Aku punya blog dan page di facebook dan alhamdulillah, peminatnya enggak kurang juga, hehe... Mungkin karena notebooknya ini aku gambarin sndiri satu-satu, ya, jadi orang-orang pada penasaran kayak apa.


Apa sih sebenarnya "wildest dream" Journ(al)ey?
Pengen pameraann. Mimpi aku Journ(al)ey bisa dibikin pamerannya karena buat aku, setiap notebook yg dibikin Journ(al)ey itu bukan cuma notebook biasa, tapi juga art. Setiap gambarnya aku bikin satu-satu dan semuanya dipikirin baik-baik sesuai tema dan (terkadang) sesuai karakter org yg mesen juga. Makanya aku punya tagline buat Journ(al)ey, "It Was a Book, Now it's an Art".


 Hooo, asikkk...cepetan pamerannn, ntar aku bagian yang ngabisin konsumsinya gitu, hehehe… Oh, ya. Rencana-rencana terdekat Journ(al)ey utk mengejar mimpi-mimpinya?
Kalau gitu, jadi seksi konsumsi juga, ya, hehehe…sekarang ini Journ(al)ey lagi bikin series journal. Jadi selain yang custom, setiap dua bulannya nanti bakal dibikin satu seri notebook dengan tema yang berbeda-beda tiap season-nya. Terus lagi ngumpulin dan matengin materi juga buat pameran doongg… Pokoknya enggak ada yang enggak mungkin. Kalau kita udah bisa mimpiin sesuatu, berarti setidaknya kita juga bisa berusaha untuk wujudin itu jadi nyata.

Google Twitter FaceBook

Dicekam Sepi Mwathirika


Di sebuah desa, atau mungkin pinggiran kota di Indonesia, ketenangan dan keceriaan berubah menjadi suram. Peristiwa 1965 yang begitu berlumuran darah adalah biang penyebab dari kesemuanya. 

Adalah Mayo dan Tupu, dua kakak beradik yang hidup berbahagia dengan Baba, seorang ayah yang menyenangkan. Semua kemudian berubah. Para tertuduh yang sebagian besar tak tahu ujung pangkal bermulanya api ditangkapi. Dijadikan tumbal untuk berdirinya penguasa baru. Di sisi lain, masyarakat yang beruntung tak menjadi tertuduh kemudian seolah menjelma pula menjadi kawanan serigala yang siap membabat habis para tertuduh, meski mereka hidup bersebelahan dan para tertuduh tersebut. Kebahagiaan, kerukunan, keterbagian di antara sesama luluh lantak. Sebuah dekade gelap dalam sejarah negara yang konon menurut cerita-cerita dongeng adalah negeri yang gemah ripah loh jinawi.

Simbolisasi keluluh-lantakan itu terlihat dari bagaimana persahabatan antara kakak beradik Mayo Tupu dan Lacuna, sang tetangga, tak lagi bisa berlanjut. Kelompok yang dianggap merah, harus ditangkap. Tak ada yang berani lagi berdekatan. Untuk melanjutkan hidup, memusuhi para tertuduh adalah kewajiban mutlak yang tak perlu dipertanyakan. Simbolisasi itu pun ditampilkannya pula dalam benda-benda sekitar para tokoh. Peluit yang selalu ditiup oleh Mayo dan Tupu sebagai tanda kebersatuan mereka kemudian justru menjadi salah satu penyebab yang menyebabkan keduanya terpisah.


Merinding ditambah rasa yang menyentak-nyentak di jantung menjadi karib yang tak mau pergi ketika sepasang mata saya terpekur di pojok IFI Bandung menyaksikan teater boneka bertajuk Mwathirika garapan Papermoon tersebut. Sebagai sebuah isu, peristiwa 1965, meski telah puluhan tahun berlalu, memang selalu seksi bagi siapapun. Menilik apa yang disajikan lakon Mwathirika,  tak ada cerita baru yang sebenarnya hendak disampaikan. Penderitaan-penderitaan yang digambarkannya, kekalutan dengan suasana mencekam, kebingungan, doktrinitas penguasa, semuanya adalah kisah klasik,  namun ia menjadi efektif sebagai obat anti lupa bagi bangsa yang konon pelupa ini.  



Hal yang paling menarik bagi saya justru adalah tokoh-tokoh prajurit yang bertugas menangkap “pemberontak”. Ditampilkan dengan menggunakan topeng burung, ketegasan sekaligus kesan manusia berdarah dingin ditampilkan dengan sempurna. Bagi saya, para prajurit ini kemudian mewakili dua sisi. Pertama, ia sebagai penguasa, dan kedua, ia sebagai sang prajurit itu sendiri. Alat penguasa untuk menancapkan paham barunya. Entah saya yang terlalu melankolis, atau mungkin memang catatan sejarah kurang berpihak bagi para rakyat yang kemudian ditakdirkan untuk memakai seragam ketika peristiwa 1965 terjadi. Menjadi sang prajurit. Kegamangan itu, meski tak ditampilkan oleh Papermoon, namun kental terasa, utamanya ketika topeng-topeng menjadi muka baru para prajurit. Tak banyak yang tahu tentang apa yang ada dibalik topeng, bahkan sampai saat ini. Semuanya lalu terbungkus dalam Mwathirika. Tiap-tiap pihak adalah generasi bingung. Entah tertuduh, sang prajurit, atau sang beruntung. Generasi yang diciptakan untuk dijejali penafsiran baru. Generasi yang memang muncul untuk menjadi sebuah bagian dari revolusi anti klimaks.  
Foto : Agus Bebeng
Google Twitter FaceBook

Kamis, 14 Juni 2012

Cas Cis Cus Bareng Ciss Handmade

Sedikit tenggelamnya Semarang di kancah jagat per-handmade-an mungkin tak bisa dipungkiri. Namun yang pasti, tidak demikian halnya dengan crafter yang satu ini. Tobucil Handmade pun asyik masyuk ngalor-ngidul dengan Dya sang pemilik Ciss Handmade yang memang asli berasal dari kota lumpia tersebut.

Ciss itu asal kata dari apa? jadi inget jaman kecil, ciss kacang bunciss..
Hehe... Ciss itu panggilan sayang buat Dya dari teman-teman. Entah artinya apa, sampai sekarang juga enggak paham. Asalnya dari kata kuciss.

Hooo… begitu, toh. Apa aja sih yang dibuat oleh Ciss Handmade?
Ciss Handmade awal mula bikin macem-macem. Dari flanel, tempat handphone, gantungan kunci, bantal, laptop case, bros juga. Tapi kesininya lebih ke handmade aksesoris yang bahannya pun lebih variatif ke kain katun, lace,zipper, dan lain-lain.


Waw, tampak borongan, hehe… Emang awalnya dulu ketika hendak memulai gimana, tuh, ceritanya?
Suka aja bikin-bikin dari SMA, tapi dipakai sendri, hehe… Mulai menapak ke online sesudah lulus kuliah. Karena kebetulan kuliah padat dengan tugas, jadi enggak bisa berkutik. Semuanya dikerjain sendiri. Dari bikin, memfoto produk, edit, nge-share, sampai ngirim krim, hehe…


Hihihi… enggak karyanya doing, ya, yang borongan, kerjanya pun borongan.  Kalau kelebihan dari produk-produk Ciss Handmade apa, nih?
Hmmm, Ciss Handmade selalu pilih warna- warna ceria dan seru. Terus juga Ciss Handmade di tiap produk punya detail masing-masing yang berbeda. Perpaduan warna,bahan,yang pastinya bisa bikin “chic” penampilannya.


Oh, ya. Kamu, kan, ber-online ria. Gimana, tuh, strategi beronline ria ala Ciss?
Online ala Ciss untk tampilan yang jelas harus menarik, beda, berwarna. Foto produk, tema, properti harus oke punya, harus pas, jangan too much. Terus lain harus aktif kalo kita masih awal- awal bikin. Selanjutnya kasih update-update aja. Jangan males yang penting.

Gimana cara Ciss Handmade menjaga konsumen biat enggak pergi dan enggak bosen dengan karya-karya Ciss?
Lebih inovatif, kreatif. Jadi harus terus gali ide untuk bikin sesuatu yang beda. Yang pastinya chic dan penuh warna.

Nahhh... berkaitan dengan inovatif kreatif... Gimana cara kamu menjaga konsistensi untuk terus inovatif dan kreatif dalam berkarya?
Untuk menjaga kreativitas, buat Ciss harus berani ngemix-max bahan-bahan. Jadi kadang ada bahan-bahan recycle juga yang dipakai. Contohnya di Ciss, kaerna banyak limbah kain kaos yang dipakai untk shawl/syal. Nah,sisa-sisa dari bahan itu di bikin buat aksesoris. Kadang juga dari perca-perca sisa jahitan baju.

Apa harapan terbesar yang dimiliki oleh Ciss?
Harapan terbesar,semoga Ciss bisa terus berkarya membnggakan orang-orang di sekitar Ciss, orang yang sayang Ciss, dan pastinya semua orang!

 
 
Google Twitter FaceBook

Mengingat Penganan Sunda

Bandung adalah kota dengan kekayaan kuliner tradisional yang begitu kaya, tak kalah dengan daerah-daerah lainnya. Bila di data, boleh jadi ada ratusan jenis menu makanan dan minuman tradisional khas Sunda. Lebih jauh lagi, jika dimaknai  secara filosofis, mungkin keragaman dalam setiap komposisi kuliner etnik Sunda, akan memberi acuan perilaku pada masyarakat.

Meski demikian, perihal pendataan ini sendiri memang belum pernah dilakukan. Mungkin ini karena penganan khas Sunda umumnya lahir bukan dari kultur keraton atau bangsawan. Ia muncul di tengah kelompok masyarakat pribumi kebanyakan sehingga sangat sulit untuk ditelusuri. Akan tetapi, Satu hal yang pasti, tulisan ini hanya sekadar ingin mengingatkan beberapa penganan tradisional Sunda agar kekayaan kuliner ini tak hilang tergilas jaman. 

Cakue
penganan tradisional yang terbuat dari adonan yang berbahan dasar tepung terigu ini masih cukup populer dan sangat mudah ditemui. Pengolahannya pun cukup sederhana, adonan digoreng, biasanya berbentuk memanjang, tapi rasanya? Sudah pasti mantap! Menikmatinya pun cukup dengan mencocol sang cakue ke saus sambal. Rasanya? Gurih-gurih pedas!     

Ali Agrem
Ali agrem atau yang juga dinamai donat sunda karena bentuknya yang memang menyerupai donat sangat mudah ditemui di warung-warung. karena bentuknya yang menyerupai kue donat. Rasanya menjadi khas karena menggunakan gula merah sebagai pemanisnya. Beberapa sumber menyebutkan, bahwa Ali Agrem adalah penganan yang merupakan hasil transformasi dari dodol Garut yang sangat terkenal itu.

Misro
Pernah mendengar makanan khas sunda bernama Comro? Nah Misro adalah antitesisnya. Ia adalah singkatan dari amis di jero, dalam bahasa Indonesia berarti manis di dalam. Sama halnya seperti comro, misro menggunakan parutan singkong sebagai bahan dasarnya, hanya saja, jika comro menggunakan sambal oncom untuk isinya, maka adonan parutan singkong misro yang berbentuk oval diisi oleh  gula merah. 

Putri No’ong
Penamaan penganan yang satu ini agak ajaib. No’ong sendiri dalam bahasa Sunda bisa berarti mengintip, Putri yang mengintip? Ah, penganan ini sudah barang tentu bukanlah judul sinetron. Memang, tak ada yang bisa menerangkan asal-usul namanya.Putri No’ong sendiri merupakan adonan tepung beras dan parutan kelapa dengan pisang di bagian tengahnya. Bentuknya bundar dan cukup tebal. Biasanya, ia disajikan dengan baluran parutan kelapa.

Cireng
Penganan ini masih cukup populer dan mudah ditemui, bahkan sudah melakukan berekspansi alias banyak juga ditemukan di kota lain. Cireng sendiri merupakan singkatan dari “aci goreng”. Cireng adalah adonan tepung kanji, tepung terigu, air, merica bubuk, garam, bawang putih, kedelai, dan daun bawang yang ditengahnya diberi sambal oncom kemudian digoreng. Warna cireng umumnya putih. Perihal rasa? Gurih-gurih pedas!

Awug
Makanan ringan yang satu ini terbuat dari beras dicampur kelapa dan gula merah. Oleh karena itu, ia juga kerap disebut dengan nama awug beas (beas dalam bahasa Sunda berarti beras). Ke semuanya kemudian dikukus dan disajikan hangat-hangat.  

Colenak
Penganan Sunda memang senang menggunakan singkatan-singkatan dalam penamaannya, tak terkecuali dengan yang satu ini.  Colenak adalah singkatan dari “dicocol enak”. Singkatannya yang bernuansa humor tersebut membuat ia mudah diingat oleh siapapun. Colenak merupakan makanan yang dibuat dari peuyeum (tape singkong) yang dibakar kemudian disajikan dengan saus yang terbuat dari parutan kelapa dan gula merah.

Peuyeum
Siapa yang tak kenal peuyeum. Saking terkenalnya, namanya pun menjadi salah satu lagu sunda yang cukup terkenal. Tidak heran jika makanan ini sempat menjadi salah satu makanan primadona Jawa Barat. Peuyeum adalah sejenis makanan khas orang Bandung yang terbuat dari singkong yang direbus dan diberi ragi, sehingga hasilnya sangat manis dan berwarna putih seperti ditaburi tepung.
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails