Kamis, 26 April 2012

Berkunjung ke Desa Boneka

Saya senang berimajinasi ketika mendengar kata boneka. Mengembara ke dunia Pinokio, berkhayal mengenai jalanan macet yang dipenuhi Komodo bernama Komo, sampai merindukan sebuah desa di mana terdapat Unyil dan kawan-kawan di dalamnya yang kini sedang berkisruh ria dikarenakan permasalahan hak cipta. Nah, ngomong-ngomong masalah desa, tersebutlah sebuah desa bernama Desa Boneka di mana di dalamnya terdapat boneka-boneka super unyu yang dibuat dengan penuh kasih sayang nan penuh (eaaaaaaa… eaaaaa…) hehehe…  

Dari namanya udah keliatan jelas, nih, apa yang dibuat oleh Cindy. Nah, sebenarnya, boneka-boneka seperti apa, sih, yang dibuat oleh Cindy? Apa konsepnya?  
Desa boneka adalah tempat tinggal boneka-boneka yang penuh warna dan menyebarkan kebahagiaan, hahaha.. Sebenernya sih konsepnya apa saja yang berhubungan dengan rajutan. Untuk ke depannya pengennya produk Desa boneka enggak terbatas hanya boneka saja, bisa dompet, handphone case, dan lain sebagainya, yang penting based-nya adalah rajutan.


Teknik apa, nih, yang dipakai oleh Cindy dalam membuat boneka? Jelasin duongsss…
tekniknya namanya crochet, merajut dengan 1 jarum lalu dikombinasikan dengan bahan-bahan flanel, beads, button, dan lain lain.

Gimana awalnya Cindy kok bisa terjun ke dunia handmade dan membuat boneka-boneka unyu ini?
Aku memang suka bikin-bikin kerajinan tangan dari dulu, hehehe. Kata mami aku, dulu waktu masih TK aku udah rapi banget gunting kertas. Awal-awalnya aku kenal crochet itu gara-gara liat di internet, iseng-iseng belajar dari tutorial yang ada di internet. Coba-coba bikin, terus kecemplung deh sampe sekarang.


Apa yang membuat Cindy masih terus bersemangat mengarungi lautan handmade sampai detik ini, ahiwww bahasanya lautan, enggak nahan, hihihi…
Pada dasarnya sebenernya, kan, ini hobi aku. Jadi ya semangat donggg kalau mengerjakan sesuatu yang sesuai sama hobi kita. Apalagi kalau dari hobi itu bisa menghasilkan uang, rasanya puas banget kalau habis bikin “makhluk” baru, hahaha… Nah kalau nantinya produk itu laku dan banyak yang suka, itu jadi nilai plusnya. Dan juga sekarang sudah makin banyak orang yang menghargai produk handmade. Jadi makin semangat dehhh!

Pertanyaan iseng-iseng, kenapa kok dinamain Desa Boneka? Kenapa enggak… mmm… Kota Boneka atau Kabupaten Boneka gitu, hehehe…
enggak ada alasan khusus sih sebenernya, hehe… Waktu itu aku nyari nama yang merakyat dan gampang diinget, yang pasti, namanya sengaja dalam bahasa indonesia, supaya kalau nanti Desa Boneka sampai terkenal ke luar negeri, aminnnn, orang-orang langsung tahu kalau Desa Boneka itu karya anak Indonesia…

Pembuat boneka itu, kan, banyak.. apa yang membuat Cindy yakin bahwa Desa Boneka akan bisa eksis dengan asoy geboy? Apa sebenarnya keistimewaan dari Desa Boneka?
Eksis dengan asoy geboyyyy, hahaha….Keistimewaan dari desa boneka apa ya... Kalau aku yang jawab, jadinya subjektif dong, hihi… Aku pernah survei kecil-kecilan ke pembeli Desa Boneka, rata-rata sih mereka tertarik karena ke-unyu-an nya ya, hehehe… Tapi ada kata-kata teman aku yang paling aku ingat sampai sekarang: the little details you add to every doll is what makes them special.


“Desa Boneka” seperti apa, sih, yang dipengenin dan dimimpikan oleh Cindy?
Aku pengen ada toko “desa boneka'” beneran yang penuh dengan boneka-boneka buntel-buntel kecil imut-imut, hahaha... Pengen memperbesar produksi juga, sekarang ini, kan, hanya aku seorang yg ngerajut sampe keriting, hehe… Biar Desa Boneka bisa jadi lahan pekerjaan juga untuk orang lain...


Google Twitter FaceBook

Mengingat Kembali Kautamaan Istri

Hari Kartini baru saja berlalu. Peringatan saban tahun yang kadung dikenal dengan jargon emansipasi wanita tersebut seolah hanya menggaungkan sebuah nama namun terkadang melupakan esensi dari apa yang terjadi dan melatar belakangi gerakan kaum perempuan di Indonesia. Bermula dari diskriminasi pendidikan yang dialaminya, Kartini kemudian menjelma menjadi sosok heroik yang dianggap sangat mewakili perjuangan hak-hak kaum perempuan. Jika di Jepara muncul Kartini, maka di tatar Sunda dikenal nama Dewi Sartika, seorang pahlawan pendidikan perempuan yang pernah dimiliki Indonesia. Melalui pemikirannyalah kemudian di Bandung didirikan sebuah sekolah yang sampai saat ini masih berdiri dan tanpa kenal lelah menjadi tempat puluhan siswa menuntut ilmu.

Foto diambil dari http://id.wikipedia.org
Dewi Sartika lahir di Bandung 4 Desember tahun 1866 di tengah keluarga priyayi Sunda, Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara. Meski melanggar adat saat itu, orang tuanya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika. Sejak kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Masa kecilya dihabiskan di Cicalengka. Dahulu, sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah dan mengajari baca tulis. Aktivitasnya ini kemudian sempat menggemparkan karena seorang perempuan kecil telah membuat banyak rakyat jelata yang pada masa itu umumnya tak bisa baca tulis, memiliki kemampuan baca tulis, apalagi yang mengajarkannya ternyata seorang perempuan cilik.

 
Ketika menginjak usia remaja, ia pun tinggal di Bandung bersama Ibunya. Kondisi perempuan Indonesia yang mengenaskan sepertinya telah menggerakkan Dewi Sartika yang masih belia. Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya. pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia Belanda. Sepuluh tahun setelah berdiri, nama sekolah ini pun berganti menjadi sekolah Kautamaan Istri. Usaha yang dilakukannya ini ternyata menggerakkan para perempuan-perempuan lainnya yang bercita-cita sama sehingga bermunculanlah sekolah-sekolah istri di berbagai daerah di tanah Pasundan. Bahkan, saking kuatnya pengaruh Dewi Sartika, pada tahun 1920, seluruh kabupaten di tatar Pasundan didirikan sekolah Kautamaan Istri. Tak hanya itu saja, kisah perjuangan dan semangatnya pun sampai ke Bukittinggi sehingga di sana pun didirikan sekolah Kautamaan Istri oleh Encik Rama Saleh. 

Dewi Sartika adalah sosok luar biasa yang masih memberikan nilai-nilai perjuangannya sampai sekarang. Saat ini, sekolah tersebut masih berdiri dan aktif digunakan sebagai tempat kegiatan belajar mengajar. Setelah Dewi Sartika wafat pada 11 September 1947, para alumni sekolah Kautamaan Istri mendirikan Yayasan Dewi Sartika pada 17 April 1955. Yayasan Dewi Sartika ini menaungi TK, SD, dan SMP Dewi Sartika yang kini masih berada di Jalan Kautamaan Istri dengan luas lahan 1428 meter persegi. Terletak di jalan Keutamaan Istri, sekolah tersebut masih kokoh berdiri, bahkan semenjak 1978, ia tak hanya mengajar kaum perempuan, kaum laki-laki pun diperbolehkan pula untuk menuntut ilmu di sana. Banyak orang kemudian menyebut tempat tersebut sebagai situs Dewi Sartika atau museum Dewi Sartika. Hal tersebut memang wajar dan tidak berlebihan. Meski tak ada apapun barang peninggalan Dewi Sartika di sana, namun nafas semangat pendidikan itu masih terasa dengan demikian kuat, setidaknya di salah satu sudut kota Bandung yang kian penuh sesak ini.
(Nugraha Sugiarta)
Google Twitter FaceBook

Jumat, 20 April 2012

Kartu Cantik Kupunya Handmade

Setelah ke-hectic-an melanda sang laptop yang diserbu ratusan virus-virus super ganas, akhirnya tuntas pula percakapan dengan Dini penggagas Kupunya Handmade (upss.. jadi curcol, hehe). Melihat keahliannya, tak salah jika Tobucilhandmade mendapuk Dini sebagai ahli kartu. Eits.. jangan salah mengartikan si doi sebagai cenayang atau pembaca kartu tarot. Kupunya Handmade adalah pembuat berbagai pernak-pernik cantik dan berfokus dalam pembuatan wedding card. Ada yang mau menikah? Nah, mari bertegur sapa dengan Kupunya Handmade!


Kupunya Handmade apa aja, sih, yang dibikin?
Awalnya sih bikin wedding card, tapi kesini-kesini ada permintaan macem-macem, kayak misalnya birthday souvenir, pouch, bantal. Ya… sekalian mengasah kemampuan di bidang lain selain wedding card.

 
Asikk udah kayak piso diasah hihi... Ow, jadi bikin berjenis-jenis itu awalnya by request.. Oh, ya. Dulu kpikiran bikin wedding card emang gimana?
Dulu kan kerja di kantor. Kalau pas ga ada kerjaan suka browsing. Kayaknya bosen gitu di kantor. Pulang kantor cape tidur. Di rumah kalau weekend cuma gitu-gitu doang. Palingan jalan-jalan. Terus cari-cari pengen punya usaha, lihat-lihat kartu kreasi quilling di internet lucu-lucu. Muncul ide kayaknya kalau dibuat undangan keren, nih, belum ada..

Emang awalnya itu ada yg mesen? atau iseng pas bikin kartu-kartu itu?
Enggak… Dulu pas awal itu temen deketku mau nikah, trus aku tawarin, langsung aku todong aja, hehehe... Mau enggak undangannya aku bikinin? Harus mau... undangan handmade, sekalian jadi pilot project aku, hahaha… Nah kebetulan dia mau, dan welcome sekali... Ya sudah, dibikinlah 350 undangan handmade.


Oh, ya. Kamu bisa bikin karya begitu emang belajarnya darimanakah? Susah enggak tuh?
Otodidak Aja. Ketika memulai yang sulit ya memulainya itu... kalau udah dimulai dan suka, enggak akan ada kesulitan. Sulit itu jadi menyenangkan. Nah, ketika menjalaninya untuk jadi bisnis perlu komitmen dan kesabaran. Komitmen untuk terus maju dan kesabaran untuk sukses,

Btw, strategi pemasaran seperti apa yang dijalankan oleh Dini biar karyanya bisa terus eksis?
Sebenarnya belum ada strategi khusus, sih, cuma punya blog, flickr, sama FB. Semua serba online, blm pnya toko offline. Kalau mau ada yg lihat-lihat ya lihat di rumah koleksinya. Ini lg bikin website juga, terus mau ngajak beberapa temen-temen craft joinan sama aku.

Kalau Dini sendiri melihat antusiasme masyarakat terhadap handmade seperti apa, sih?
Kalau handmade secara umum orang itu suka karena produk handmade itu customize. Bikinnya langsung pake tangan, hahaha..  namanya aja handmade yah… Walaupun mereka bilang mahal, tapi karya handmade itu kalau udah nemu orang yg menghargai karya buatan tangan tersebut enggak akan bilang mahal…

Kamu, kan, fokusnya ke wedding card itu, dari desain ampe produksinya bikin sendirikah?
Iya semua sndiri, tapi ide kadang suka browsing-browsing dari internet dimodif sndiri gitu. Kalau urusan naik cetak aku joinan sama teman, terus sama desain draft tulisannya gitu ada temanku yang ngerjain. Aku finishing-nya yang ngerjain handmade-nya, dibantu beberapa tetangga sama orangtuaku.


Waw… program padat karya, yah?
Iya, manfaatkan orang-orang di sekeliling, makin banyak yang bantuin makin banyak yang doain aku sukses. Semoga ada pesanan terus kata mereka..amiiiiin…




Aminnnnnn, hihihi… Nah, kalau dini sendiri melihat peluang handmade di masa depan kayak gimana?
Kayaknya semakin maju jaman orang akan makin menghargai produk handmade deh menurut aku, karena orang yg pake produk handmade itu lebih bangga, lebih apa ya kalau dibilang... lebih puas kali, ya… karena itu tadi, buatan handmade itu lebih customize. Orang lebih puas dengan buatan handmade dibanding buatan mesin.



Kalau Dini dan Kupunya Handmade sendiri apa, sih, target yang ingin diraihnya?
Pengen punya galeri “Kupunya Rumah Handmade”. Maunya, sih, fokus aja di pernak pernik pernikahan, di dalamnya ada galeri wedding card, souvenir wedding dari teman-teman crafter, ada wedding gift, terus disitu ada workshop-nya juga, tempat produksi juga. Terus karena global warming smakin merajalela, targetnya sih entar undangan udah enggak pake kertas lg, maunya bikin undangan yg useable, bisa dipakai lagi, dari bahan kain misalnya. Dan tentunya pengen juga omsetnya naik… Terus pengen juga banyak memberdayakan tetangga-tetangga sekitar, ibu-ibu yang penghasilannya kurang, diberdayakan di workshop aku, makin banyak makin bagus.
p: 0856 9124 3669
pin: 27505afc

(Nugraha Sugiarta)
Google Twitter FaceBook

Menelisik Masjid di Jerman

Masjid, dimanapun itu keberadaannya, memiliki satu fungsi utama: tempat beribadah umat Islam, rumah suci yang menjadi perlambang kedekatan antara Tuhan dan para pengikutnya. Pun demikian halnya di Jerman, meski bukanlah agama utama, terdapat terdapat 206 masjid dan 2600 mushola di negara federasi tersebut. 

Saya, sendiri tak tahu persis tentang bagaimana masjid-masjid di Jerman berdiri, sampai kemudian beberapa waktu yang lalu menyempatkan diri menyambangi Galeri Soemardja yang tengah mengadakan sebuah pameran bertajuk “Masjid di Jerman” buah karya fotografer Wilfried Dechau yang semenjak 2008 silam telah mengabadikan berbagai foto masjid di kota-kota Jerman seperti Mannheim, Stuttgart, Hamburg, Aachen, dan Karlsruhe.

Foto-foto yang ditampilkan dalam pameran tersebut memerlihatkan bagaimana sisi interior dan eksterior serta bagaimana komunitas muslim di negara tersebut melakukan aktivitasnya. Bagi saya sendiri, yang jelas-jelas tak punya latar belakang seni, merupakan hal yang  cukup sulit ketika membicarakan mengenai perdesainan yang dimiliki oleh masjid-masjid tersebut, namun, mengamati foto-foto karya Dechau, saya merasakan bagaimana tiba-tiba kedamaian itu ternyata universal ketika membicarakan ruang-ruang religius yang hadir di sudut-sudut ruang peribadatan. 


Sama seperti semua masjid yang pernah saya datangi, begitu pulalah aura yang saya temui ketika melihat foto-foto masjid di Jerman, meski mungkin dengan nuansa yang berbeda. Di tengah hiruk-pikuk kesibukan dan bangunan-bangunan penanda kecerdasan umat manusia, di sana pulalah berdiri masjid-masjid itu. Kubah-kubahnya yang selalu terlihat megah itu memberi gambaran estetis yang lagi-lagi mengandung nilai universalitas.


Jikalah hanya berbicara mengenai “foto masjid”, mungkin tak ada yang menarik sama sekali dalam pameran tersebut, namun, demi mengingat bahwa foto-foto tersebut berasal dari ribuan depa dari tempat kita berpijak, apresiasi tentu harus diberikan kepada pembuatnya. Atas nama foto-foto sederhana yang ditampilkannya, ia setidaknya memberi pesan kecil tentang arti sebuah kepercayaan yang berpadu dalam kesejukan estetis. Melihat foto-foto tersebut kemudian menggugah rasa yang muncul dari alam pemikiran, betapa kesejukan dan kedamaian seperti ini sudah sepantasnya tak lagi dijadikan simbol-simbol kekerasan seperti yang akhir-akhir ini kian menggelisahkan sekaligus menggurita.
Google Twitter FaceBook

Rabu, 18 April 2012

Bergembira Bersama di Crafty Days #6, @tobucil 5-6 Mei 2012




Sekilas Mengenai Crafty Days Tobucil & Klabs

Berawal dari keinginan untuk membangun sebuah ruang berkegiatan bersama yang bertujuan mendukung gerakan literasi di tingkat local, Tobucil & Klabs memulai kegiatannya di Bandung, sejak 2 Mei 2001. Mulanya, kegiatan-kegiatan Tobucil & Klabs berfokus pada literasi dalam arti membaca, menulis dan apresiasi. Kegiatan-kegiatan seperti klab baca, klab menulis, pemutaran film, bedah buku, menjadi kegiatan yang rutin di selenggarakan oleh Tobucil & Klabs.

Kepindahan Tobucil & Klabs ke Jalan Aceh No. 56 Bandung, menjadi momentum bagi Tobucil & Klabs, untuk mengevaluasi dan mereposisi dukungannya terhadap gerakan literasi di tingkat lokal. Untuk itu, sejak tahun 2007, Tobucil & Klabs merumuskan kembali tujuannya dengan menjadikan literasi sebagai bagian dari keseharian. Bagi Tobucil & Klabs, literasi tidak hanya menyangkut persoalan keberaksaraan saja, namun terkait pula dengan  persoalan bagaimana setiap individu dapat mengaktualisasikan diri dan berkontribusi pada perubahan. Untuk mencapai tujuan barunya ini, Tobucil & Klabs menerjemahkannya melalui kegiatan-kegiatan hobi yang dapat mengembangkan kapasitas individu dalam proses aktualisasi diri. Tobucil & Klabs percaya ketika individu memahami potensi-potensi dalam dirinya dan  memiliki keberanian untuk mengaktualisasikannya, individu dapat mengambil perannya dalam perubahan sosial di sekelilingnya.

Di samping kegiatan keberaksaraan yang masih berlangsung sebagai program reguler Tobucil & Klabs, seperti: Klab filsafat, klab baca, klab klassik, serta kelas-kelas seperti kelas filsafat, kelas menulis & sastra, kelas penulisan feature, kelas public speaking, kelas, foto cerita_ Tobucil & Klabs juga mengembangkan kegiatan hobi seperti klab merajut, kelas scrapbook, kelas cat air, kelas menjahit dan kelas-kelas hobi lainnya yang melibatkan para pelaku hobi untuk saling berbagi pengetahuan di Tobucil & Klabs.

Pengembangan kegiatan hobi, mendorong Tobucil & Klabs untuk menyelenggarakan sebuah acara tahunan sebagai wadah pertukaran dan pengembangan pengetahuan, potensi, solidaritas sosial dan semangat entrepreneurship dikalangan para penggiat hobi dan craft. Untuk itu, sejak tahun 2007, Tobucil & Klabs menyelenggarakan acara tahunan yang diberi nama Crafty Days. Pada acara tersebut, para crafter dapat memasarkan kreasinya lewat bazaar handmade, berbagi ilmu dan pengalaman lewat workshop dan  craftypreneur forum dan apresiasi melalui kegiatan pameran dan musik sore.

Crafty Days # 6, 2012
Tahun 2012 menjadi tahun ke 6 penyelenggaraan Crafty Days. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini Tobucil menseleksi 15 peserta dari 35 peserta yang mendaftar, untuk mengikuti bazaar handmade di acara Crafty Days #6. Seleksi ini dilakukan untuk menampilkan karya-karya handmade dengan desain dan kreativitas yang baru setiap tahunnya. Harapannya melalui kegiatan bazaar handmade tahunan, para crafter termotivasi untuk terus melakukan eksplorasi dan inovasi dalam karya-karya handmadenya setiap tahun.

Bazaar Handmade Crafty Days # 6 2012 diikuti oleh:  

Workshop
Selain kegiatan bazaar handmade, Crafty Days setiap tahunnya di isi dengan kegiatan workshop untuk para pengunjung yang hadir. Untuk tahun ini workshop yang akan diselenggarakan adalah:

Sabtu, 5 Mei 2012
Pk. 10.00 - 12.00 modular origami . merajut bersama klab merajut
Pk. 13.00 - 15.00 WIB Scrapbooking bersama ria nirwana *)
Pk. 15.30 - 17.30 WIB Puppet lantern bersama papermoon puppet theatre *)

Minggu, 6 Mei 2012
Pk. 10.00 - 12.00 Puppet lantern bersama papermoon puppet theatre *)
merenda bersama klab merenda tobucil & Klabs

*) workshop dibatasi maksimal 20 orang peserta. setiap peserta harus mendaftar & membayar biaya pendaftaran (untuk bahan) Rp. 25.000/peserta  silahkan mendaftarkan diri ke: Tobucil & klabs jl. Aceh No. 56 Bandung teLP. 022 4261548

Craftypreneur Forum
Minggu, 6 Mei 2012, Pk. 13.00 – 15.00
Craftypreneur Forum merupakan forum berbagi pengetahuan dan pengalaman dari para crafter yang menjadi peserta bazaar, kepada para pengunjung yang mengikuti forum ini. Tema untuk tahun ini adalah “Kalau Bisa Bikin Yang Beda, Kenapa Harus Bikin Yang Sama?”
Tema ini akan mengangkat persoalan prose’s kreatif para crafter dalam menemukan karakter dan kekuatan desain dalam produk-produk handmade

Musik Sore Spesial
Minggu, 6 Mei 2012, Pk. 16.00 - 18.00
Kegiatan Crafty Days setiap tahunnya, selalu ditutup dengan pertunjukan musik dari musisi-musisi lokal, dimana pengunjung dapat  lebih mengenal bakat-bakat baru di komunitas musik Bandung dan sekaligus mengapresiasi karya-karya mereka.
Pada Musik Sore Spesial Crafty Days #6 akan menampilkan:

Seluruh rangkaian kegiatan Crafty Days diselenggarakan pada:
Sabtu & Minggu, 5 & 6 Mei 2012
Pk. 09.00 – 18.00
Bertempat di Tobucil & Klabs
Jl. Aceh No. 56 Bandung
Telp. 022 4261548

Informasi kegiatan:
twitter: @tobucil

Media Partner Crafty Days #6 : 

Google Twitter FaceBook

Jumat, 13 April 2012

Tas-Tas Raisy Tasthy

Raisy Tasthy adalah pencipta tas-tas super unik dan berbagai kreasi menakjubkan lainnya. Berawal dari sekadar membantu seorang teman, Raisy Tasthy kemudian berkembang biak dengan spektakuler (haisss bahasanyaaaa, hehehe…) menembus batas-batas yang mungkin jauh melangkahi ekspektasi awal yang dimilikinya.
                          
Haloo Raisy Tasthy, apa, nih, aktivitas teranyar yang sedang dikerjain?
Sekarang sih lagi explore aplikasi untuk Tas coba Felt, Fabric, Lace, dan lain-lain. Terus juga lagi memperbanyak Stuffed Doll, Plushies…

Oh, ya. Raisy Tasthy, kan, fokusnya ke bags ya, bags seperti apa, sih, yang dibikin?
Materialnya katun. Ada Canvas Grey, Canvas Suedding , Baby Canvas, Katun Rami, Blacu,  Canvas Terpal… Kalau modelnya ada Backpack, Tote Bag, Hobo Bag, dan Sling Bag. Untuk bags-nya Raisy Tasthy biasanya yang pake remaja, hehe…



Apa, nih, latar belakang Raisy Tasthy memilih untuk membuat bags?
Awalnya bantuin temenku namanya Gia. Dia suka bikin tas handmade, saya mayetin (menjahit payet-red). Eh saya jadi falling in love. Rasanya pas nyulam itu menenangkan, pengen cepet selesai. Ingin tau seperti apa nanti jadinya dan  bagi saya seperti meditasi juga. Nah, setelah jatuh cinta, langsung deh coba bikin sendiri. Pas udah jadi tas nawarin ke toko Stroberry waktu itu yang di Istana Plaza Bandung. Alhamdulillah di approve, jadinya sampe sekarang produksi dan titip jual Stroberry. Yang awalnya hanya di Istana Plaza. Sekarang ada di BIP , Ciwalk, dan Kuta Bali.


Apa, sih, ciri khas paling kuat yang menjadi kelebihan dari karya-karya Raisy Tasthy?
Apa ya ? seperti barang handmade lainnya tentu dibuat terbatas. Kebanyakan Bags Raisy Tasthy saat ini di hias Payet dan Motte lalu disulam tangan. Saya sih bilangnya Hand Embroidery Contemporary Style, maksudnya sulaman tangan yang bergaya kekinian. Lebih ngepop. Sulamannya lebih simple. Mempertegas garis hasil gambar tangan dengan benang rajut bukan benang sulam kecil yang biasa nya dipakai. Lalu saya mengisi bidang dengan payet doff dan motte. Wah, pokoknya proses pembuatannya sangat menyenangkan, berimajinasi dan cihuy ada yang mau beli, hehe…

Btw, ketika membuat tas-tas itu, ide-idenya dapet darimana, tuh?
Kalo model tasnya biasa lah browsing atau lihat tas yang dipake orang-orang pas jalan-jalan. Kalau iIde gambar  untuk sulaman biasanya dari Film kartun, Katalog Pameran Seni, Nature, Doll, Plushies, illustration, Photography, Paintings , Sculpture, Design Grafis, Gambar anakku, Table Ware, dan lain sebagainyaaa… Pokoknya anything in Art and Design...




Ngomongin tentang ide, gimana cara paling ampuh yang dilakukan Raisy Tasthy biar idenya terus mengalir?
Kalau saya selalu antusias dengan karya seni dan desain, apapun media yang dibuat oleh Artist atau designer itu saya amati apa yang menarik dari karya itu. Tapi hati-hati bila melihat karya yang disukai jangan sampai terjebak untuk meniru. Pantangan besar, terisnpirasi boleh tapi klo meniru It’s a BIG NO. Bagus tapi niru payah..mendingan bagus dan hasil ide sendiri….hehehe. 


Hmm, hal apa yang membuat Raisy Tasthy selalu yakin sampai detik ini untuk terus berjuang di dunia handmade?
Sesuatu yang kita kerjakan dengan passion dan enjoy menjalankannya pasti akan lebih excited dan  kita berusaha saja berkarya terus psti Alloh swt kasih jalan untuk lebih maju. Dan barang Handmade itu kereeenn karena keren masa sih orang ga mau beli ? Jadi pasarnya pasti akan selalu ada kan, kan? Hehehe…setuju?  Go handmade go!!!

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails