Jumat, 30 Maret 2012

Mengunjungi Sarang Handmade Nest

Dari Bogor yang entah masih dijuluki kota hujan atau tidak, kali ini Tobucilhandmade menjumpai Dita Maulani sang penggagas Handmade Nest. Bak seorang pendekar pengelana di komik-komik, pun demikian halnya dengan perempuan yang satu ini. Ketika kebosanan melanda, perjalanan menembus jalanan sampai ke kota gudeg pun ditempuh. Dan di sana pulalah semangat berhandmade muncul tanpa permisi… Hoho.. mari kita nikmati Handmade Nest!

Ada apa aja, nih, di sarangnya Handmade Nest?
Ada handmade inspiration, kreasi handmade aku dan juga orang lain dari dalam dan luar negeri, lalu ada juga giveaway sharing...

Apa aja gerangan karya-karya yg dibuat oleh Handmade Nest?
Kalau aku si macem-macem. Ada headband, tas, plushie. Tapi kebanyakan, sih, kalung. Aku sendiri suka pake kalung soalnya, dan hasil-hasilnya dijual kalau nggak di Etsy, di Yellow Pony (Online Shop Handmade Nest di Facebook-red).


Owww. Btw, dita sudah sejak kapan  ber-handmade ria? Awalnya gimana?
Jadi tahun 2009 tuh bete sama skripsi yang enggak kelar-kelar, terus jalan-jalan ke Jogjakarta. Di sana  coba bikin kalung-kalung dan di upload di fb, eh, dipesen temen… Pas balik ke bogor langsung lanjut lagi deh bikin aksesoris handmade gitu. Jadi semuanya enggak sengaja, ketika jalan di Jogja itu ide meluncurrrr….

Kalau kamu sendiri ktika membuat karya idenya biasanya dari mana, tuh?
Dari yang aku lihat, internet, hasil ngobrol sama temen-temen, dan pas liat pacar gambar biasanya ide jg muncul.

Nah, apa, sih, spesialnya karya-karya handmade nest menurut Dita?
Something special deh pokoknya, hehe… Ya, aku sih share handmade yang dreamy, feminine gitu…

Oh, ya. kamu banyak jualnya, kan, di online. Menurut Dita, apa, sih, kesulitan utama dari jualan di online? ada kiat khususkah?
Nggak puas aja karena enggak punya display. Kesulitannya si sejauh ini, sih, tidak banyak. Nah, kalau kiat khususnya harus punya ciri khas yang bisa bikin kesan dan terus diinget ama orang. Terus jgn bosen foto dan meng-uploadnya.


Kalau kesulitan utama kamu yang Dita rasakan ketika mulai mencoba menjual karya? Kesulitan utamanya itu ketika hendak membangun jaringan atau link. Karena online enggak langsung berhadapan sama orang makanya sulit. Ya, kalau aku, sih cara membangun jaringannya dengan bantu-bantu promosi link orang lain, follow-follow twitter, dan dari sana terbentuk deh jaringannya.

Deskripsikan Handmade Nest dengan singkat, dong...
Sweet and fun, creative, escape, curation.

Google Twitter FaceBook

Menanam Obat di Pekarangan

Sebut saja namanya Alfred. Sudah satu bulan terakhir  ini lelaki paruh baya tersebut uring-uringan. Pasalnya, adalah kadar kolesterolnya yang tiba-tiba dan tanpa permisi meningkat tajam, mengancam penyakit darah tinggi yang dideritanya. Beberapa obat antikolesterol yang diasupnya tak cepat menurunkan kolesterol hingga batas normal yang dianjurkan. Sampai suatu hari, secara tak sengaja ia berkunjung ke rumah salah satu koleganya yang kemudian memberikan saran agar Alfred meminum rebusan akar seledri secara rutin. Kolesterolnya pun, hanya dalam jangka waktu sekitar dua bulan, langsung menjadi normal kembali.

Alfred bisa jadi terkagum-kagum dengan khasiat seledri, namun sebenarnya, tak hanya akar seledri saja, banyak dari tumbuhan-tumbuhan yang berada di sekitar kita memiliki khasiat sebagai obat-obatan alami, bahkan tetumbuhan tersebut dapat dengan mudah pula kita tanam di pekarangan rumah tanpa perlu merawatnya dengan repot. 


Ada beberapa tanaman yang sangat berguna ketika kita berbicara tentang pembuatan apotik hidup di pekarangan. Jahe adalah salah satunya. Tanaman berakar rimpang ini memiliki bahan yang berkhasiat pada akarnya. Sari jahe dipercaya dapat mengembalikan kesegaran tubuh yang hilang. Di samping itu, Jahe memiliki khasiat pula untuk mengatasi masalah impotensi bagi kaum pria. Hal ini dikarenakan akar jahe memang menyimpan khasiat antiradang, sebagai tonik, antihipertensi, penguat jantung, perangsang (stimulan), dan penguat lemah syahwat (afrodisiak). Cara pengolahannya pun cukup gampang, hanya dengan mengempengkan jahe tersebut dan menyeduhnya dengan air hangat. Jahe dapat pula dimodifikasikan dengan tambahan bahan-bahan lainnya seperti gula, teh, atau kopi.

Kunyit dan Kencur adalah tanaman berikutnya yang selalu masuk ke dalam daftar jika berbicara tentang apotik hidup. Jika kunyit bermanfaat untuk mencegah sariawan, panas dalam, serta baik untuk wanita hamil dan menyusui, maka kencur sangat berguna untuk mengobati batuk, menghilangkan nafas tidak sedap, menghilangkan kembung, dan karena mual masuk angin. Cara mengkonsumsi keduanya pun sangat mudah. Untuk kunyit, kita dapat memarut dan memeras sari parutannya lalu merebusnya dengan air panas sebelum diminum, sedang kencur, selain diseduh sarinya setelah diperas, ia juga dapat dimakan mentah-mentah.

Jangan lupakan pula tanaman Temulawak. Tanaman asli Indonesia ini sangat populer di masyarakat. Temulawak yang memiliki nama latin Curcuma ini biasanya diberikan kepada anak anak untuk menambah nafsu makan mereka. Temulawak juga dapat menghilangkan flek-flek hitam pada wajah dan kandungan minyak atsirinya dapat membersihkan isi perut serta memperlancar ASI pada wanita yang menyusui, bahkan sebuah penelitian mengungkapkan pula bahwa temulawak sangat ampuh untuk mengobati penyakit hati atau penyakit liver dan menurunkan kadar kolesterol dalam darah karena dalam temulawak terdapat kandungan kurkumin yang dapat menyehatkan hati. Sama seperti jahe, kunyit, dan kencur, cara mengkonsumsi temulawak adalah dengan diparut dan diambil sari airnya.

Selain tanaman-tanaman yang telah disebutkan di atas, masih banyak tanaman obat yang memiliki khasiat menakjubkan, seperti Lidah Buaya yang memiliki manfaat bermanfaat untuk melindungi kulit dari kekeringan dan dehidrasi, merangsang tumbuhnya sel sel kulit yang baru, serta dapat menyuburkan rambut; Lengkuas Merah yang berguna untuk menyembuhkan beragam penyakit mulai dari perut kembung, panu, kurap, eksema, bercak-bercak kulit dan tahi lalat (sproeten), demam dan pembengkakan limpa, pembersih usai bersalin, radang telinga, bronchitis, masuk angin, diare, sakit gigi karena angin dingin, sampai obat kuat; Kayu Ules yang mampu meredakan keluhan-keluhan di sekitar perut, dan masih banyak lagi. 

Kesemua itu merupakan tumbuhan yang dapat dijadikan pilihan ketika kita hendak menjadikan pekarangan sebagai apotik hidup. Memang, membuat apotik hidup adalah sebuah hal berguna yang mungkin dapat menjadi alternatif pilihan positif ketika kita hendak memanfaatkan halaman rumah. Dengan menanam tanaman obat di pekarangan, maka kita berarti telah pula menjaga kelangsungan keanekaragaman hayati Indonesia, dan yang terpenting, kita dapat mendapatkan sumber obat-obatan terdekat dari rumah dan tentunya membantu mengurangi belanja obat-obatan keluarga sekaligus menerapkan gaya hidup ramah lingkungan dan Menambah nilai dari keberadaan pekarangan rumah. Jadi, tunggu apa lagi? Mari membuat apotik hidup dan mulai meningkatkan kualitas kesehatan dengan cara yang mudah!
Google Twitter FaceBook

Jumat, 23 Maret 2012

Calyx dan Konsistensi dalam Balutan Cinta

Yap, saatnya kembali ke Kota Kembang setelah sebelumnya lebih senang berputar-putar mengitari negeri. Kali ini Calyx dan karya-karyanya yang menakjubkan dengan super seru dan agak-agak serius menjawab pertanyaan demi pertanyaan Tobucilhanmade yang juga (pengennya) serius, hehehe.. Calyx, dengan jam terbangnya yang cukup tinggi, adalah salah satu crafter yang cukup baik menjaga konsistensinya di dunia handmade. Penasaran? Yuk langsung disimak…

Halo Mbak Lia.. kapan, nih, main ke Tobucil lagi hehe.. sedang disibukkan dengan apa, nih, Calyx?
Halo jugaa...penginnya sering-sering ya, karena Tobucil itu tempatnya homy dan asik banget, sayangnya saat ini kita sedang sibuk produksi stok untuk Inacraft selain pesanan-pesanan yang reguler. Juga insya Allah, Calyx ingin mengembangkan diri ke bidang children apparel, tapi semuanya masih dalam tahap perencanaan.

Awal terbentuk Calyx sendiri gimana, nih?
Calyx sendiri sebenarnya adalah second line dari brand yang lebih dahulu saya buat, yaitu Primula. Berawal sekitar empat tahun yg lalu, dua tahun lebih muda dari Primula, Calyx adalah sebuah jawaban bagi para pelanggan dengan budget menengah dan selera yang lebih “muda” dan dinamis, juga wadah bagi saya menyalurkan ide “kekanak-kanakan” saya, yang mungkin tidak bisa saya wujudkan di Primula.


Kalau aku lihat, Calyx, kan, banyak bikin produknya bags. Bags seperti apa sih yang dibuat oleh Calyx? Kenapa lebih memilih tas-tasan dalam membuat karya? Oh, ya. Selain bags, apa lagi yang dibuat oleh Calyx?
Sebenarnya saya tidak sepenuhnya menentukan dari awal bahwa produk Calyx harus lebih banyak bags, tetapi permintaannya memang demikian. Bags awal yang saya design sifatnya multi fungsi karena bisa memberikan nilai lebih dari pada hanya sebuah tas dengan satu gaya. Selain bags, Calyx juga memproduksi aksesori dalam jumlah terbatas dan jilbab.


Calyx sendiri kan udah cukup lama menggeluti dunia handmade, gimana, tuh, cara Calyx menjaga konsistensi biar bisa terus kreatif dan bergerak?
Semuanya karena rasa cinta sih ya, selain juga terus memantau perkembangan dan permintaan pasar, jangan pernah berhenti untuk belajar hal2 baru. Disaat terasa “mandek”, saya lebih suka mencari inspirasi dari hal-hal yang sebenarnya kurang berhubungan, misalnya cerita rakyat atau lagu.


Menurut Mbak Lia, gimana, nih, kondisi dan perkembangan handmade lokal saat ini?
Alhamdulillah, saya pikir terus membaik dari waktu ke waktu, baik dari segi apresiasi pembeli maupun kreatifitas pengrajin itu sendiri. Mungkin dari segi pembeli masih ada yang belum menghargai handmade ya, apalagi kalo dibanding barang pabrikan impor, tapi sudah lebih baik dari tahun sebelumnya.

Apa, sih, kendala utama yang sebenarnya sering dihadapi oleh para crafter? Lalu cara mengatasinya gimanakah?
Saya mungkin bisa menjawab dari sudut pandang pribadi ya, bahwa kendala utama adalah di pricing. Sebagaimana seniman pada umumnya, crafter ingin puas menghasilkan karya semaksimal keinginan, tapi pasar menuntut harga rendah. Cara mengatasinya ya, kalau saya, dengan membagi dua produksi. Ada yang sesuai pasar, ada juga yang idealis. Walaupun istilahnya yang idealis ini terbatas dan mungkin tidak terjual, setidaknya ada kepuasan seorang seniman disitu.

Hal apa yang membuat Calyx yakin akan mampu bertahan dan terus membesar di masa depan?
Rasa cinta. Cinta pada handmade, cinta pada teknik2 craft, cinta pada pelanggan J. Juga  berusaha untuk terus menghadirkan kreatifitas, bukan Cuma dalam berkarya, tapi juga kreatif dalam segala hal.

Google Twitter FaceBook

Manisnya Gulali yang Kian Langka

Amir, demikian ia kerap disapa, dengan tekun memilin-milin cairan gula berwarna merah di tangannya tersebut. Cetakan beragam bentuk tersaji di kitaran kompor pemanas gula. Salah satu kotak tersebut ia ambil, lalu dengan cekatan ia masukkan gula panas tersebut ke dalam cetakan. Beberapa kali ia tiup sang cetakan, lalu, holaaa… gulali berbentuk mobil pun tercipta. Tak hanya mobil, berbagai jenis bentuk cetakan pun lengkap ia bawa, bahkan sampai bentuk-bentuk binatang pun tersedia, komplit, tinggal pilih sesuai pesanan!


Jajanan tradisional yang kian langka ditemui ini memang pernah populer di masanya ketika dahulu saya masih menggunakan celana pendek berwarna merah dalam menuntut ilmu, tapi tidak untuk hari ini. Adalah suatu hal yang cukup sulit menemuinya di tengah derap laju perkotaan yang kini makin menyisihkan penganan-penganan tradisional. Gulali sendiri terbuat dari gula pasir yang dipanaskan hingga mencair dan diberi pewarna makanan. Meski sangat sedergana, gulali merupakan favorit bagi banyak orang, namun, karena ia adalah jajanan jalanan, lambat laun popularitasnya merosot.

Harus diakui, pembuat gulali yang kian hari makin menipis itu, memang tak bisa sembarang orang. Diperlukan keahlian khusus, apalagi, adapula gulali yang dibuat dengan cara membentuknya dengan menggunakan tangan. Gulali berbentuk bunga contohnya, kreativitas sang pembuat sangat diperlukan ketika tangan-tangan terampil yang dimilikinya menarik-narik dan membentuk sang gula cair tersebut. 

Amir sendiri mengaku bahwa keahliannya membuat gulali itu didapatnya dari sang ayah yang sudah terlebih dahulu menghabiskan hari-harinya berdagang gulali. “Ya, ada yang turun-temurun, tapi ada juga yang belajar sendiri dengan bertanya ke temannya yang sudah terlebih dahulu berjualan, enggak susah, sih, sebenarnya, cuman ya… siapa, sih, yang mau berjualan gini kalau ada kesempatan lain,” lanjut lelaki muda ini kemudian menerangkan sembari mengelap bulir-bulir keringat di wajahnya yang tengah sengit bertarung dengan matahari.

Percakapan kami lalu terhenti karena serombongan bocah kemudian menghampirinya dan dengan asyik merecoki sang penjual muda tersebut dengan berbagai macam permintaan. Dengan cekatan ia ladeni beragam permintaan tersebut. Beberapa lembar uang ribuan kini telah berpindah ke tangannya. Lembaran-lembaran yang akan terus membuat gulali terus hadir meski dengan sedikit susah payah, melangkah dengan segenap keterbatasan yang dimilikinya,.
Google Twitter FaceBook

Jumat, 16 Maret 2012

Berkunjung ke Kerajaan JumbaJamba

Mendengar kata JumbaJamba, bisa jadi khayalan kita melayang menikmati alam bebas bersama satwa-satwa unyu nun jauh di belantara Afrika. Hoo, tapi tenang dulu saudara-saudara, kali ini Tobucilhandmade  bukan sedang hendak membahas kebun binatang atau sejenisnya. JumbaJamba adalah sebuah kerajaan dengan kreativitas penuh di dalamnya. Nah, daripada makin penasaran, mari kita nikmati saja sajian khas JumbaJamba…

Mendengar nama JumbaJamba, aura satwa-satwa begitu terasa, hehehe.. Apa, sih, sebenarnya yang digeluti dan dibuat oleh JumbaJamba?
Saat ini JumbaJamba menciptakan teman tidur (bantal berbentuk binatang) yang dapat dimanfaatkan juga sebagai asesoris atau hiasan ruangan.


Apa sebenarnya konsep berkarya dari JumbaJamba? Kok dinamainnya JumbaJamba?
JumbaJamba adalah sebuah kerajaan bantal berbentuk binatang. Setiap warga kerajaan ini memiliki nama dan keperibadian yang unik, seperti yang tertera di kartu identitas mereka (kartu adopsi). Nama JumbaJamba sendiri diambil dari lyric lagu “Hakuna Matata” yang merupakan soundtrack dari film “The Lion King”.

Sejak kapan, nih JumbaJamba terjun ke dunia handmade? Apa, nih, latar belakangnya?
Kerajaan JumbaJamba terbentuk pertengahan Januari 2011. Awalnya saya meninggalkan pekerjaan kantoran saya untuk berbisnis toko buku anak-anak bersama teman-teman, tapi karena beberapa alasan ide berbisnis bareng itu tidak terwujudkan. Kebetulan iseng-iseng mencoba menjahit bantal berbentuk burung hantu, dan ternyata hasilnya diminati teman-teman. Begitu kiranya awal dari JumbaJamba.

Menurut JumbaJamba, apa, sih, hal paling menantang dari dunia handmade?
Dari kata “handmade” itu sendiri diperlukan suatu ketrampilan dan kreatifitas dalam berkarya. Terkadang suatu ide tidak mudah diwujudkan dan justru itu menjadi tantangannya.


Siapa gerangan patron paling asoy geboy yang menjadi inspirasi The JumbaJamba dalam berkarya? Kenapa?
Kalo denger kata craft sih yang terbayang Martha Stewart, the queen of crafts. Inspirasi untuk terciptanya  JumbaJamba sendiri datang dari puteri-puteri dalam dongeng Hans Christian Andersen dan Disney.

Rada-rada berkhayal ketinggian, nih, sekarang… menurut JumbaJamba, seberapa hebat handmade bisa mengubah dunia.. hehe..
Handmade membawa suatu energi positif ke dunia ini karena berawal dari passion sang crafter. Creative passion leads to great work of arts that ultimately leads to big money, hehehe…

hal apa yang palingggg berpengaruh sehingga JumbaJamba tetap bersuka cita nyemplung di dunia handmade?
Kepuasan berkarya dan juga apresiasi akan hasil karya itu, baik emosional maupun finansial.


Google Twitter FaceBook

Topeng Monyet Penghibur Jutaan Anak

Seringkali ketika melintas di jalan Djuanda, tepat di bawah jalan layang, saya selalu melihat sebuah pertunjukan sederhana tengah digelar. Pertunjukan yang dikenal dengan nama topeng monyet itu selalu begitu menggoda untuk dilirik. Sepintas, untuk beberapa detik, diantara deru dan debu kendaraan, saya selalu menyempatkan diri untuk menengok ke arah mereka. Namun kesibukan selalu menepikan hasrat untuk melihat pertunjukan itu berlama-lama. Sampai hari itu pun tiba. Ketika tengah mengaso di rumah seorang kerabat, sayup terdengar suara “tang ting tong” menyusup ke gendang telinga.


“ Ah, biasa. Paling juga topeng monyet,” ucap sang kerabat ketika saya menanyainya. “ Topeng monyet?!” ulang saya dengan cepat sedikit tergagap. Tanpa banyak bicara saya segera bergegas meninggalkan kerabat yang hanya bisa terlongo-longo itu.

Di salah satu sisi jalan tak jauh dari tempat saya mengaso tadi, segerombolan anak kecil tampak mengerubuti sesuatu.  Tepuk tangan ramai terdengar riuh-rendah. Benar adanya ucapan sang kerabat tadi. Pemandangan ajaib itu kini tersaji di hadapan saya, sebuah pertunjukan topeng monyet keliling tengah berlangsung. Kedatangan si topeng monyet memang tak dapat diduga. Ia kerap muncul di mana saja. Biasanya topeng monyet ini lewat dan diorder oleh warga untuk menghibur anaknya yang masih kecil.

Monyet yang menjadi pemeran utama dalam atraksi ini pasti dilatih terlebih dahulu sebelum pentas. Setiap atraksinya selalu diiringi gendang dari pawangnya. Rasa kasihan sempat muncul melihat monyet yang dirantai dalam atraksi topeng monyet tersebut, tapi setidaknya monyet itu sekarang tak perlu bersusah-susah untuk mencari makan meski kebebasan hidupnya kini dibatasi oleh sebuah rantai besi. Pertunjukan topeng monyet yang saya lihat hari itu sangat klasik, tak jauh beda dengan pertunjukan topeng monyet yang pernah saya lihat semasa kecil: monyet pergi ke pasar, naik motor-motoran, memikul dagangan, sampai atraksinya yang paling terkenal; pergi ke sawah sambil membawa pacul.

Entah mengapa, melihat keceriaan anak kecil yang tengah asyik melihat sang monyet beraksi, saya merasa seperti disuguhkan tawa lepas kesederhanaan penuh sahaja. Usai pertunjukan saya dekati pawang topeng monyet itu. Senyum mengembang ketika saya menyodorkan selembar lima ribuan. “ Sudah hampir empat tahun saya berkeliling,” jawabnya santai sembari membereskan peralatan pentas ketika ditanyai tentang profesi yang digelutinya itu.

Anto, pawang topeng monyet itu berkisah pula tentang bagaimana ia melatih sang monyet. Ia juga lalu menuturkan bahwa tak setiap pawang memiliki monyet. “Ya, ada juga yang menyewa. Kan, memang ada monyet-monyet yang disewakan untuk topeng monyet. Biasanya sih sehari sewanya sekitar tiga puluh ribu perak,” jelasnya kemudian.

“Kang Anto senang menjadi pawang topeng monyet?” Tanya saya perlahan. Lelaki muda itu terdiam sesaat.  “Ya, jaman sekarang mencari pekerjaan susah, jika memang hidup saya hanya bisa menjadi sebatas pawang, saya sih bersyukur saja,” ucapnya agak tertahan, “minimal saya bisa menghibur anak-anak,” ia lalu melanjutkan perkataannya.

Menghibur anak-anak. Ucapan Kang Anto terus terngiang, meminta untuk dipikirkan. Di sela kepasrahan nasibnya, pawang itu mungkin tak sadar berapa banyak jumlah anak-anak yang telah dihiburnya. Anak-anak yang orangtuanya mungkin tak mampu membelikan mainan-mainan mahal. Anak-abak yang tinggal di rumah-rumah mewah. Anak-anak yang belum paham benar tentang kerasnya hidup dan perjuangan yang menyelimutinya. Topeng monyet ternyata memang masih menjanjikan tawa bagi mereka yang hendak terhibur seperti yang telah saya lihat sore itu. Sebagai sebuah tradisi, topeng monyet telah berpuluh tahun berjalan, menyapa setiap anak yang dijumpainya. Pada wajah polos anak-anak yang tadi saya lihat, ada pancaran kegembiraan penuh ketulusan. Topeng monyet. Ya, ia adalah sebuah tradisi yang bisa jadi akan terus lestari di tengah anak-anak dan keceriaan yang melingkupinya.
Google Twitter FaceBook

Jumat, 09 Maret 2012

Merenda dengan Imajinasi

Galuh adalah sang mentor baru kelas merenda Tobucil yang tak pernah absen membagi ilmunya saban sabtu. Ibarat sekolah, pun demikian halnya dengan Galuh. Bermula dari rumpi sang nenek di kala SD, petualangan merenda dan amigurumi terus berlari sampai akhirnya kemudian Galuh berlabuh di kota Bandung, hehehe… Nah, mari kita kenalan dengan Galuh sang pemilik Deluniq, keluarga baru Tobucil!

Dari kapan, nih, Galuh mulai bercrochet dan beramirugumi ria?
Mulai senengnya dari kelas 6 SD. Gara-garanya ngelihat teman nenek yang kalau lagi ngerumpi tangannya merenda. Akhirnya belajar, tapi waktu itu belum bisa buat pola, pokoknya cuman bisa ngerenda aja. Nah, terus pas aku kerja di Jakarta, ada temen di mess yang pinter banget merenda. Di sana baru tahu merenda ada polanya, dari sana mulai, deh, belajar lagi. Terus aku belajar merajut ke Upi di Tobucil. Kalau untuk amigurumi aku belajar sendiri.

Ketika dulu sudah bisa merenda, Galuh cuman hobi aja atau gimana, tuh, ceritanya?
Awalnya, sih, iseng. Jadi buat sendiri. Nah, terus kan guru merenda di Tobucil keluar, terus aku ditawarin untuk ngegantiin oleh Mbak Tarlen. Ya, karena aku bisa jadi enggak masalah dan pada dasarnya aku seneng men-explore, ya. Jadi bisa menggunakan benang apapun, enggak terpaku ke satu benang aja.


Gimana, nih, metode Galuh dalam mengajar? Apa yang diajarin?
Kalau aku, sih, pertamanya mengajarkan untuk menstabilkan tusukan. Jadi diajarin pola-pola yang simple-simpel dulu. Jadi awalnya bikin syal dulu, misalnya.


Apa, sih, hal paling susah yang ditemui ketika orang baru mau mulai belajar?
Kalau merenda itu awalnya mereka kesulitannya mengeluarkan benang dari kaitannya dan mereka merasa kurang rapi. Padahal itu tergantung orangnya juga, ya. Kalau masalah waktu belajarnya berapa lama, sih, bergantung dari daya tangkap mereka.

Kenapa merenda dan merenda amigurumi harus terpisah cara belajarnya?
Pertama, kalau yang merenda itu, kan, polanya banyak banget dan beda-beda.  Kalau amirugumi cuman itu-itu aja polanya, kebanyakan make single crochet. Kenapa dipisahkan? Karena kalau merenda biasa itu kan 2D, sedang kalau amigurumi itu 3D.

Oh, ya. Galuh baru bikin blog, ya? Untuk apa nih rencananya si blog itu,hehehe…
Blog aku itu untuk nampilin karya-karya aku dan juga menunjukkan bahwa crochet itu bisa banyak banget yang bisa digali. Enggak cuman bisa bikin tas gitu. Jadi merenda itu bisa membuat apapun yang kita imajinasikan. Bisa diulik sendiri. Nah, hal-hal gini yang suka enggak kepikiran ama itu. Semua orang sudah terpola bahwa kalau merenda harus begini-begini. Padahal cakupan merenda itu sangat luas.


Nah, pendapat Galuh sendiri tentang Tobucil?
Aku udah kenal Tobucil itu dari semenjak di Jakarta. Jadi Tobucil itu banyak orang yang berhubungan dengan seni, pokoknya banyak banget yang bisa di explore di dalem Tobucil. Di sini juga memberikan banyak kesempatan sekaligus membuka banyak jaringan dan orang-orangnya saling men-support. 

Google Twitter FaceBook

Kisah Dari Gurat Pepohonan

Hitam adalah bukan putih namun keduanya kerap disandingkan dalam perbedaan yang dimilikinya. Tak akan ada hitam tanpa adanya putih, demikian mungkin sekelebat tangkapan visual yang berhasil saya cerna dalam pameran “Hikayat Sang Pohon” karya Risca Nogalesa Pratiwi (Icha) yang tengah digelar di IFI Bandung. Hal tersebut seolah ditegaskan dengan penggunaan media kertas berwarna putih dengan guratan bolpoin hitam di atasnya.


Pun demikian halnya dengan drawing yang disajikan oleh sang seniman, lengkak-lengkuk juntaian pepohonan menjadi tema tunggal yang diangkatnya. Sama seperti hitam dan putih pun demikian pula pohon, juntaian bagian tubuh yang dimilikinya saling berseberangan, satu menjuntai langit, dan satu lainnya menghujam tanah. Lalu, seperti yang dituangkan dalam kuratorial pameran, pohon kemudian menjadi penyeimbang dari kekontrasan yang terjadi pada tubuh sang pohon tersebut, sama seperti halnya sang seniman yang kemudian menjadi penyeimbang antara hitam dan putih.

Unsur-unsur kehidupan menjadi kuat manakala menilik Hikayat Sang Pohon. Tak bisa dimungkiri, scara klasik, pohon adalah ibu dari segala kehidupan yang ada dan hadir di muka bumi. Bagi saya, pohon adalah Androgyn, penyatuan dua gender kuat berada di dalamnya. Bagi saya apakah ia perlambang perempuan atau laki-laki memang tidak menjadi urgensi dalam karya-karyanya.

Sebagai perlambang kehidupan, pohon-pohon yang dihadirkan oleh Icha seolah hendak mengetengahkan bagaimana manusia pada dasarnya tak terbatas pada gender yang dimilikinya semata. Kehadiran keduanya justru menjadi penyeimbang paling mujarab yang semakin mengokohkan eksistensi dari diri manusia itu sendiri. Hal paling terlihat di dalamnya kemudian adalah bagaimana manusia dan lingkungannya, dalam hal ini alam, memiliki keterkaitan yang sangat kental.


Aura magis tentu kerap mengikuti percakapan-percakapan yang berkenaan dengan alam dan manusia. Pada dasarnya, ketika membicarakan mengenai alam dan manusia, ia berbicara mengenai pandangan dunia bahwa penghayatan terhadap masyarakat, alam, dan alam adikodrati sebagai kesatuan yang tidak terpecah belah di mana di dalamnya berbicara mengenai pengetahuan, asal-usul, dan juga tujuan. Dalam kerangka yang lebih jauh lagi, ia hakikinya berujar mengenai alam numinus dan keakuan. Manusia harus sampai pada sumber air hidupnya apabila ia mau mencapai kesempurnaan dan dengan demikian sampai pada realitasnya yang paling mendalam. Dalam pandangan paling realistis, Hikayat Sang Pohon adalah cerita yang mencoba menggugah kesadaran mengenai realitas tersebut.
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails