Jumat, 27 Januari 2012

Myurbey dan Sajian Spesial Bagi Para Buyer

Jika selama ini nama sebuah brand muncul dari filosofi individu pembuatnya tidak demikian dengan Myurbey. Istilah klasik pembeli adalah raja sepertinya menjadi hal yang dipegang teguh oleh Mybuyer, eh, urbey, hehehe.. Di suatu hari yang penuh keceriaan, Belinda Regina alias Abel sang penggagas Myurbey kemudian berchit-chat ria dengan Tobucilhandmade.

Ini namanya agak-agak aneh, Myurbey, semacam keluarga arbey atau gimana ini artinya, hihihi…
Bukannn ... Myurbey itu base nya dari U R B E Y .. ayo coba itu kalau di kotak katik jadi kata apa, hehe.. jadi kata BUYER , My Urbey, pembeliku. Karena pembeli adalah kompetitor kita bila ingin berbisnis dan aku wanna give all my best to my urbey





Hihihi myurbey sendiri sejak kapan, sih, berkecimpung di dunia handmade? kok bisa? dan kenapa pilihannya handmade?
semenjak tahun 2009. Pertamanya sih karena iseng buat kalung dari flanel yang di jahit sendiri karena sering lihat di majalah cara-caranya jadi belajar sendiri ,karena aku pun suka menjahit atau kegiatan menempel sejak SMP – SMA.

Itu belajar menjahit, tempel-tempelan dan prakarya lainnya gimanakah? belajar sendiri atau...?
Iya, setiap kali ada tugas prakarya aku selalu semangat dan hasilnya pun diakui guru di sekolah.  Belajarnya sendiri. Semenjak ada internet aku semakin menjadi-jadi belajarnya.

Nah... sampai detik ini, apa aja, sih, yang dibuat ama Myurbey?
Kalung, bando, gelang, bag, pouch, sarung hp, kaos lukis, bantal, dan bantal bantal bantal bantal bantal bantal…

Ahahaha tampak serius di bantallllll. Emang produk andalannya apa nih kalau sekarang?
Sekarang masih si bantal itu sendiri dan tote bag.

Ngomong-ngomong soal buyer, nih... Gimana menurut kamu cara yang tepat dan efektif untuk menjaring para pembeli biar tetep mencari hasil karya kita?
Kalau menurut aku adalah anggap si buyer adalah temanmu sendiri, .jangan di jutekin atau bicara sekadarnya (kecuali kalau emang lagi sibuk) dan jujur dengan kemampuan kita  gitu… Jangan memaksakan untuk maksimal mendapatnya uangnya, tapi pentingkan untuk mendapatkan relasi ,karena dari satu bisa jadi dua, dua jadi empat dan seterusnya…


Kalau menurut abel nih... strategi pemasaran produk-produk handmade itu seharusnya seperti apa? Apalagi, kan, produk lokal cenderung tidak terlalu dikenal dan harus berjibaku ngelawan produk pabrikan?
Mmm .. aktif di jejaring sosial, sih, paling mujarab, ya, sejauh ini. Selain itu, jika ada kesempatan ikutan bazar itu juga salah satu peluang. Kalau aku, sih, sejauh ini marketing jalan seiring waktu.

Gimana cara Myurbey menonjolkan keunikan yg dimilikinya sehingga dilirik oleh "buyer"?
Mempertahankan aja yang menjadi basenya Myurbey tanpa harus ikut-ikutan trend craft yang suka timbul, jadi buyer pun akan tetap menengok blogku. 

Apa, tuh, gerangan yang menjadi basenya Myurbey?
Mmm… Myurbey itu punya ciri khas dari bentuk, model, dan motif yang enggak jauh beda setiap modelnya. Misalnya, hampir semua bantalku itu 4D. Depan belakang kanan dan kiri. Selain itu ,aku selalu memilih motif bunga-bunga soft atau semacamnya.dan berpola vintage things and fashionable cushion. Begitu pula Tote Bag yang aku buat rata-rata enggak menggunakan zipper...

Kalau Abel sendiri melihat peluang handmade di masa depan kayak apa nih?
Menurut Myurbey, handmade akan makin besar peluang untuk bisa tembus di pasaran lokal. Akan makin banyak crafter baru yang mau mencoba mencari passion-nya di dunia handmade karena handmade yang berkualitas tidak lepas dari unsur bisnis yang ada. Namun bagi kami para crafter, mungkin bisnis adalah hal kedua karena hal terpenting yaitu bisa memproduktifkan diri sendiri sekaligus orang lain...


Hal yang ingin disampaikan kepada buyer dan crafter?
For my urbey, keep love Myurbey stuff tentunya dan menghargai produk kami. Untuk pencinta handmade mari tetap dukung crafter local karena banyak banget orang orang berbakat yang bisa meningkatkan kualitas produk negeri sendiri. Sedikit konsumtif dengan handmade itu lebih baik hihihi…


Google Twitter FaceBook

Chapter I -Akhir Kisah Penantian Mogus-

Beberapa bulan yang lalu, siang yang membakar terusik oleh sepenggal pesan singkat pada telepon selular. Moelyana a.k.a Moel adalah biang keladi sang pengusik  siang maha durjana tersebut. “Nu, pangeditin buku Mogus Koloni, lah…”, demikian pesan singkat itu berujar. Beberapa kertas maya pun meluncur ke email. Sedikit demi sedikit, meski dengan intensitas yang tak terlalu berlebih, dunia permogusan yang digagas Moel lagi-lagi menelusup begitu saja dalam keseharian saya yang cukup rumit ini.

Moel, sang penggagas Mogus, adalah kreator paling gigih yang jarang saya temui di dunia serba instan seperti sekarang. Setiap pertemuan dengan Moel adalah pertemuan dengan jari jemari padat bergizinya menari-nari di antara tumpukan benang rajutan. Pemandangan yang selalu saya temui semenjak mengenal Moel bertahun silam. Sepemahaman saya, sekumpulan monster gurita yang dinamainya Mogus itu memang obsesi terbesar Moel.



Penantian bertahun lamanya itu pun kemudian pecah. 21 Januari 2012 lalu, bertempat di Galeri Gerilya, kegigihan Moel itu menampakkan sosok yang sebenar-benarnya. Hamparan gurita dengan pernak-pernik lelautan lainnya dengan penuh semangat membara menampilkan keutuhan dari konsistensi Moel selama ini. Sudah barang tentu bukanlah perdebatan panjang jikalah berbicara mengenai pameran bertajuk “Mogus World” yang digagasnya tersebut. Secara keseluruhan konsep dan secara karya nyaris tak ada cacat dalam pameran tersebut. Ya, 2 thumbs up untuk Moel!

Kekaguman terbesar saya pada Moel justru bukan terletak pada karya-karya yang dibuatnya. Namun, laksana sekolah, pun demikian pula halnya dengan Mogus. Ini adalah pameran dengan persiapan terlama yang saya ketahui dan pameran dengan pra-event (jikalah segala aktivitas Moel untuk mengenalkan sosok Mogus kepada para khalayak dalam berbagai kesempatan dapat disebut pra-event) terbanyak pula yang saya saksikan.

Konsistensi untuk menciptakan Mogus adalah konsistensi tergila yang pernah saya temui. Seorang Moel, dengan segala keterbatasan dan kemampuan yang dimilikinya seorang diri tekun merangkai satu demi satu benang-benang tersebut sampai menciptakan berbagai jenis karakter Mogus yang baru saja kita nikmati dalam “Mogus World”. Sebenar-benarnya seniman, Moel dijamin dua juta persen adalah salah satunya. Seniman dalam pengertian menciptakan karya sendiri dalam bentukan estetis yang dimilikinya maupun selipan pesan yang terdapat di dalamnya. Jika pada masa kini sebagian pelaku seni menghambakan diri pada galeri dan menjadikan karya seni layaknya deadline berita pada koran harian tidak demikian halnya dengan Moel. Atas dasar itu pula, Moel tak memerlukan artisan alias “teknisi pribadi” yang kini praktik-praktiknya kerap menyerupai pekerjaan seorang ghost writer dalam khazanah tulis-menulis.

Pada akhirnya, keluarga Mogus yang diciptakan oleh lelaki bertubuh subur ini menjadi sebuah karya seni yang utuh. Tak ada kongkalikong para tukang dan penadah di dalamnya. Moel adalah Mogus. Mogus adalah Moel. Tabik Moel! Long  live Mogus!
Google Twitter FaceBook

Jumat, 20 Januari 2012

Kisah Sang Ilustrator

Dunia ilustrasi adalah dunia yang sudah cukup uzur di Indonesia. Komik-komik lawas semacam Gundala Putra Petir sempat mewarnai pula khazanah perilustrasian di dalam negeri. Lalu, apa kabar ilustrasi di era serba teknologi sekarang? Tobucilhandmade lalu menemui Syarifah Tika Irmasari, seorang ilustrator lepas yang menguak keseruan-keseruan ilustrasi masa kini.

Apa, sih, sebenarnya yang menarik dari membuat ilustrasi?
ilustrasi bagi saya adalah hobi. Ilustrasi menarik saya untuk mengekspresikan suasana hati dan uneg-uneg tentang apa yang sedang saya pikirkan karena dalam dunia nyata saya ini orang pendiam. Jadi ilustrasi udah kayak pengobat hati.

Nah, loh. Jadi ilustrasi smacam cerita terpendam yang sulit terungkap di kenyataan, ya? Hehe…
Hihihi, iya…


Oh, ya. Kamu sendiri selama ini biasanya membuat ilustrasi buat apa?
Semenjak ngejalanin kerja Profesi di mizan saya baru, deh, mulai aktif ilustrasiin buat penerbit. Tapi kebanyakan ilustrasi yang saya bikin itu, selain pengekspresian hati, saya juga senang bikin ilustrasi untuk komunitas muslim di deviantart.

Nah... klo kata tika nih... apa sih permasalahan terbesar yang kerap dialami oleh seorang ilustrator?
Permasalahan terbesar adalah MALAS, hahaha… Untuk para profesional, sih, pastinya harus tetap bisa melawan rasa malas karena kalau sudah malas memulai mencoret di kertas, pekerjaan enggak akan mulai. Tapi, kalau sudah mulai mencoret-coret di kertas justru malah enggak bisa berhenti..

Selain jangan malasssss, mental seperti apa, sih, yang sebenarnya harus dipersiapkan oleh manusia-manusia yang berminat jadi ilustrator…
Enggak boleh menyerah, rajin berlatih, kembangkan kreatifitas karena ada aja ilustrator berpotensi, tapi justru langsung down ketika ngelihat karya ilustrator yang lebih keren…

Ilustrator kalau dikaitin dengan kesejahteraan gimana, tuh?
Aku juga ngalamin hal itu. Hal itu bisa terjadi karena mereka melihat kalau menggambar semua anak TK juga bisa. Jadi mereka enggak melihat dari sisi pengalaman yang sudah ilustrator alami sampai ilustrasinya bisa dilihat semua orang. Jadi ada aja penerbit yg ngasih harga lima ribu untuk satu gambar, itu pernah saya liat di forum kaskus. Saya sendiri juga pernah ditawarin sepulurh ribu untuk satu ilustrasi.

Lalu, apa langkah terbaik yang sharusnya dilakukan ilustrator dalam mengatasinya?
Kalau menurut saya, langkah terbaik adalah mencari koneksi yang baik. Bergabunglah dengan komunitas ilustrator/komikus karena dengan adanya suatu perkumpulan justru bisa menarik tawaran yang luar biasa, malah bisa langsung go internasional. Jadi kayak ada rame-rame di tengah jalan, pasti mau enggak mau orang yang lewat jadi berhenti buat ngeliat ada apa disitu.


Sekarang balik lagi, nih... kalau kamu sendiri gimana biar enggak mati ide ketika hendak membuat ilustrasi...
Aku biasanya browsing di internet, nonton film atau mampir ke gramedia buat lihat-lihat buku lain. Bisa juga dengan tidur karena biasanya ada aja ide yang muncul sesaat sebelum tidur.

Asal tidurnya jangan keterusan, ya, hihihi.. Eh, eh… kan tadi kamu ngomong masalah koneksi. Kalau Tika ngeliat jejaring ilustrator di Indonesia gimana? Bagus atau sebenarnya kayak yang jalan masing-masing aja?
Hihi... Menurut saya jejaring ilustrator di indonesia bagus kok karena mereka semua suka sharing. kalau lihat di Facebook pasti seliweran karya-karya mereka dan di tag ke ilustrator lain untuk sekedar minta kritik dan saran. Ada juga yang senang bikin kolaborasi dengan ilustrator lain.


Trivia quiz… Apa sebenarnya hal yang kamu pengen banget lakukan di dunia ilustrasi?
Aku pernah ikutan foto-foto di loker mimpi, aku nulis disitu pengen jadi ilustrator buku anak yang sukses dan terkenal di seluruh dunia.  Itu buat goalnya, untuk prosesnya aku pengen bisa sumbangsih buat anak-anak muslim. Ngasih pengetahuan dan pembelajaran islam buat anak.. Aku masih punya mimpi yg belum terealisasi, bikin buku sendiri. Mungkin suatu hari nanti kalau konsep pembelajarannya udah mateng udah bisa aku realisasikan.

Google Twitter FaceBook

Sebuah Cerita dari Lipatan

Siapa yang tidak mengetahui Origami. Ya, seni melipat kertas yang telah dikenal sejak ratusan tahun lalu dan sangat populer di negeri sakura ini, merujuk pada seni melipat kertas menjadi suatu bentuk atau gambaran tertentu. Bentuk yang dimaksud bisa berupa hewan, tumbuhan, ataupun benda tertentu.



Lalu, dari mana sebenarnya asal-muasal origami? Sejarah menyebutkan bahwa seni melipat kertas ini ternyata diperkenalkan pada abad pertama di China (105) oleh Ts’ai Lun. Bentuk awal origami yang berasal dari Cina adalah tongkang (perahu) Cina dan kotak. Selanjutnya, pada abad ke-6 origami diperkenalkan di Spanyol oleh orang-orang Arab dan pada tahun 610 M di Jepang oleh seorang pendeta Buddha bernama Dokyo. Sejak saat itu origami menjadi popular di kalangan orang-orang Jepang secara turun-temurun. Origami menjadi salah satu kebudayaan orang jepang dalam upacara keagamaan Shinto. Umumnya, ia digunakan untuk digantung di kota Jingu (Kuil Agung Imperial) di Ise sebagai bahan sembahan.


Pada perkembangannya, Origami di Jepang turut pula terasuki oleh sistem feodalisme. Kaum samurai memelajari Origami berdasarkan aliran ajaran Ise, sedangkan kaum masyarakat kelas bawah menggunakan aliran ajaran Ogasawara dalam memelajari origami. Nama origami yang berasal dari kata ori (lipat) dan gami (kertas) baru digunakan semenjak akhir abad ke -18 setelah sebelumnya seni melipat kertas ini lebih dikenal dengan nama orikata, orisui, ataupun orimono.

Origami mengalami perkembangan pesat pada jaman Edo (1600-1868). Hal ini disebabkan karena produksi kertas yang berlimpah. Pada akhir jaman Edo, hampir 70 bentuk dihasilkan termasuk burung jenjang (Orizuru), katak, kapal dan balon yang masih tetap dikenal hingga sekarang.

Berbicara tentang origami tentu kurang afdol rasanya jika tidak menyebut nama Akira Yoshizawa. Ia memopulerkan bentuk-bentuk origami baru yang berbeda dengan bentuk origami tradisional. Ia pula yang turut memperkenalkan bentuk awal hewan berkaki empat dengan menggabungkan dua keping kertas yang berlipat. Lebih dari 50.000 bentuk origami telah diperkenalkan oleh lelaki yang satu ini. Atas jasanya pula, melalui pameran-pameran yang kerap dilakukannya di dekade 60-an, origami mulai dikenal luas di dunia barat. Hingga detik ini, origami tidak hanya berkembang di kalangan orang Jepang, tetapi sudah meluas sampai Amerika, Eropa, dan Asia termasuk Indonesia.  
Google Twitter FaceBook

Kamis, 12 Januari 2012

Ketika Semoet Bisa Eksis

Kota Gudeg Yogyakarta kembali menjadi persinggahan Tobucilhandmade kali ini. Bermula dari hobi membaca, Kartika Yuswadi dengan super isengnya mencoba menekuni bakatnya. Hasilnya, lahirlah Semoet Ketjil yang konon tidak ada hubungannya dengan Semut Merah milik Obie Mesakh tersebut. Lalu apa, sih, sebenarnya yang dibuat oleh Semoet Ketjil? Nah, itu juga saya bingung karena saking banyaknya. Daripada bingung bareng-bareng, mending langsung saja kita simak percakapan maha asik dengan Semoet Ketjil. Mari…

Apa aja, nih, produk yang dibuat oleh Semoet Ketjil? Tampak berjenis-jenis, nih.. hehe…
Hehe, iya banyak banget macemnya soalnya aku suka gatel pengen ini itu, hehehe… Jadi aku kerjanya juga serabutan, ya di rumah, ya di kampus aku suka sambil motong-motong kertas. Dari pernak-pernik kertas kayak card, bookmark, ampe paper quilling aku tekunin. Paper quiling itu trnyata kala dijadiin gantungan kunci atau hp dan kalung trnyata bagus dan diminati. Sampe aku merembet ke aksesoris. Dalam produksi sekarang dibantu tiga orang temen yang kerja parttime ama aku. Tapi dalam pembuatan master masih bergantung mood, hehehe…


Apa, sih, hal yang paling menggugah sampai Semoet Ketjil akhirnya terjun ke dunia handmade?
Pas kemarin lulus lulus D3 lanjut S1, banyak waktu luang. Tiba-tiba di rumah keluar celetukan "mbok kalo baca buku yg bisa bermanfaat". Lahhh...sebagai mahasiswa pengangguran aku kepecut dari situ. Mulai deh bongkar-bongkar  ruangan buku..aku buka-buka. Di sana banyak banget inspirasinya, tapi kayaknya semua pake modal..hehe. Jadinya pas main ke gramedia untungnya lg musim buku2 ttg kerajinan. Pada dasarnya memang aku suka agak iseng sih buat-buat sesuatu. Dari situ aku mulai bikin kerajinan kertas yang sama sekali enggak pake modal, eh trnyata laku karena Jogja kota pariwisata. Terus aku niatin buat bookmark dan aneka bentuk lainnya untuk aku titipin d toko-toko kerajinan.

Oh, ya. Namanya rada-rada unik. Kok dinamain Semoet Ketjil? Terpinsirasi dari semut-semut merah Obie Mesakh kah? Hihihi…
Ahahaha, yang ini juga ketidaksengajaan yang aku temuin filosofinya. Waktu lagi mempraktekkan card dari buku yg aku punya ada bentuk semut yang lucu banget. Begitu bentuk cardnya jadi langsung aku gambar pake bolpen di belakang cardnya. Pas dilihat kok bagus, langsung deh aku jadiin merek aja karena menurutku....semut kecil itu kan di mana-mana. Walaupun kecil tapi eksis dimana-mana ada, hahaha.


Rada-rada serius, nih… Kartika, kan, kuliahnya Ekonomi Manajemen, ya? Nah… Gimana, sih, Kartika ngeliat posisi crafter dalam geliat UKM di Indonesia?
Wah, sekarang di Jogja sudah lumayan banget. Waktu aku dateng ke dinas kota di sana ternyata juga sudah banyak dipajang karya-karya crafter muda dan dinas pun memperhatikan dengan mengadakan penyuluhan ataupun bantuan stand-stand gratis jika ada pameran. Mudah-mudahan sih dkota lain juga sepert itu karena kan enggak semua pengarajin muda bisa punya modal untuk mendirikan usaha. Ibaratnya "langsung mak pyarrr besarr" gitu. Dan sekarang kayaknya banyak pihak yang memudahkan utk orang-orang seperti aku dalam hal permodalan... 


Oh, ya. Strategi Semoet Ketjil sendiri apa, nih, biar bisa terus eksis dan hadir di tengah pemirsa handmade, hehehe…
Nah, ini yang aku pakai untuk stategi pasar sebenarnya hanya satu, "selera pasar pada umumnya", itu kunciku untuk cari nafkah karena kan pasar yang akan menhidupi aku. Tapi untuk sisi idealisme tetep juga aku buat. Jadi dua-duanya tetep aku jalanin.


Hmmm… kata kunci rahasia penyemangat Semoet Ketjil untuk terus berkarya?
Hmm...apa yo? Hahaha. Oiya......"Jalanin dengan sungguh-sungguh apapun yg kita mau lakukan", soalnya biasanya kalo org serius Tuhan kasih jalan…

Google Twitter FaceBook

Uniknya Jalanan Kota Kembang

Bandung adalah kota yang memiliki seribu pesona plus keunikan, tak terkecuali dengan nama-nama jalan yang dimilikinya. Banyak kisah, sejarah, sekaligus pula mitos yang ada di balik nama yang dimilikinya. Meski sebagian telah berganti nama, namun masih ada yang menggunakan nama pertama yang diberikan padanya. Tak percaya? Coba saja tengok beberapa nama-nama jalan unik yang ada di Kota Bandung dan makna yang terkandung di dalamnya berikut ini.

Jalan Braga Masa Lalu
Braga
Ini adalah salah satu jalan yang paling terkenal di kota Bandung. Bahkan, saking terkenalnya, tiap tahunnya selalu diadakan sebuah festival bertajuk “Braga Festival” di jalan ini. Pada masa Hindia Belanda, kawasan Braga sangat tersohor dan terkenal. Jalan Braga dijadikan ajang pertemuan untuk bertemu dengan handai taulan. Ngabaraga kemudian diartikan pula menjadi ngabar raga yang kurang lebih artinya adalah pamer tubuh atau pasang aksi alias dalam bahasa saat ini lazim disebut hangout!


Cikapundung
Terletak tak jauh dari Braga, jalan Cikapundung berada tepat di sisi sebuah sungai yang memiliki nama sama. Cikapundung menjadi menarik jika ditilik dari makna sejarah yang mengikutinya. Ya, jalan ini memiliki nama sama dengan sungai yang berada di sampingnya. Di tempat inilah bupati Bandung Wiranata Kusumah II memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung pada tahun 1809.
 
Banceuy nan Sarat Sejarah
Banceuy
Saat ini Banceuy terkenal sebagai salah satu sentra elektronik di Kota Bandung. Keadaannya yang kini begitu ramai seolah menghapus catatan sejarah penting yang terdapat di dalamnya. Di sinilah dahulu berdiri penjara Banceuy yang salah satu selnya pernah dihuni oleh presiden Indonesia pertama, Soekarno dan di sini pulalah Soekarno muda menyusun sebuah pledoi-nya yang sangat terkenal berjudul “Indonesia Menggugat”.
  
Dalem Kaum
Semenjak dahulu, Jalan Dalem Kaum dan sekitarnya merupakan pusat ekonomi Kota Bandung yang cukup termasyur. Penamaan jalan ini sendiri konon untuk memberi penghargaan kepada bupati Wiranakusumah II yang dianggap sebagai founding father Kota Bandung dan dijuluki atau akrab dipanggil dengan sebutan Dalem Kaum.

Keramaian Cihampelas Saat ini
Cihampelas
Jalan yang satu ini terkenal sebagai pusat celana jeans di Bandung. Alkisah, nama Cihampelas diambil dari nama sebuah kolam pemandian yang ada di daerah ini, yakni kolam pemandian Cihampelas. Pada saat pembuatan kolam, disekitar tempat tersebut banyak terdapat pohon Hampelas. Menurut riwayat pula, sumber air yang digunakan untuk kolam tersebut berasal dari air yang berada di sekitar pohon Hampelas.

Wastu Kencana
Wastu Kencana adalah sebuah jalan yang terletak tak begitu jauh dari Braga. Di jalan ini pula terletak kantor Walikota Bandung. Mungkin tak banyak yang tahu apa dan siapa sebenarnya Wastu Kencana, padahal ia adalah anak dari seorang raja berjuluk Prabu Siliwangi (Prabu Linggabuana) yang sangat terkenal dan gugur di medan perang legendaris di masa lampau, perang Bubat. Wastu Kencana adalah raja di tatar Padjadjaran yang sangat arif dan bijaksana dan konon ia adalah raja yang mendapat pujian-pujian melebihi semua raja yang ada pada cerita-cerita parahyangan.

Tokoh Legenda Menjelma Jalan    
Tentu saja, masih banyak nama-nama jalan yang sangat unik lainnya di Bandung. Sebut saja Cikudapateuh, Cipeundeuy, atau Cileunyi. Namun, dari kesemuanya, ada satu lagi yang paling unik, yakni nama-nama jalan yang menggunakan nama tokoh dalam legenda di tanah Sunda. Tak percaya? Coba tengok beberapa nama jalan berikut ini: Sawunggaling, Mundinglaya, Ranggagading, Ranggamalela, Suryakancana, Ariajipang, Bahureksa, Gajah Lumantung, Sulanjana dan lain sebagainya. Tahukah Anda berasal dari legenda apakah nama-nama jalan tersebut? Hmm… supaya lebih seru, mengapa tidak mulai mencari data-data sejarah dan berbagi tentang uniknya jejalan di Bandung bersama Tobucilhandmade!
Google Twitter FaceBook

Jumat, 06 Januari 2012

Duo Super Handmade

Siapa bilang duo super hanya boleh di klaim oleh Batman dan Robin atau oleh Duo Maia. Kali ini tentu bukanlah pahlawan super atau penyanyi papan atas yang hendak dibahas oleh Tobucilhandmade. Ini adalah Flanella Pernik, penggiat handmade yang asyik membuat boneka-boneka lucu dan menyebarkannya dengan penuh kehangatan bagi para pecintanya. Penasaran? Mari disimak...




Hellow Flanella Pernikkkk… siapa ajakah gerangan, nih, manusia di balik Flanella Pernik?
Hello juga, dari awal januari 2007,kita hanya berdua saja, Tedy dan Niar. Kami suka dengan design,craft, dan handmade dari flanel. Sampai akhirnya tahun 2010,baru kita dibantu dua orang teman dalam pengerjaannya. Tedy sebagai creator design dan polanya, serta potong pola ke bahan, saya yang mengcreatenya menjadi sebuah wujud handmade yang sesuai dengan polanya. Lebih tepatnya menjahitnya, hehehe. Bagian finishing juga Tedy. 


Mau tahu, nih… Ketika menggagas Flanella Pernik, hal apa, sih, yang terlintas di benak, hehe.. apa hal yang membuat Flanella Pernik memilih untuk terjun ke dunia handmade? kenapa pilihannya jatuh ke boneka?
Saya suka dengan kerajinan tangan, sesuatu yang lucu,cantik bahkan karakter yang seram pun kalau dibuat boneka sepertinya keren. Dimulai dari hobi serta coba-coba buat berbagai karakter, ada beberapa teman di Bali yg beli dan ternyata ada juga yg pesan boneka kita di onlineshop mll Multiply. Dan boneka pertama yg dibeli oleh konsumen pertama saya adalah boneka tangan George Si Naga. Kenapa boneka? Karena kebetulan yg pesan kebanyakan berupa boneka (custome order), sehingga kebanyakan disukai remaja putri dan ibu rumah tangga. Mulai tahun 2011,kita sudah punya satu reseller dari Malang dari mylittle turtle.

Gimana, sih, cara paling jitu menurut Flanella Pernik agar mendapat ide yang maknyus ketika hendak berkarya?
Ya, paling dengan searching di google, jalan-jalan, dan ke toko buku.

Oh, ya. Flanella Pernik, kan, dari Bali… Gimana, nih, gegap gempita pelaku handmade di pulau dewata? Mau tahu ceritanya dong….
Awalnya kita bingung cari alat dan bahannya di Bali, akhirnya  setelah hunting nemu juga tokonya hehehe… Di bali banyak juga peminatnya, bahkan komunitas kaskus di Bali, pernah mengadakan donor darah dan memesan icon boneka gantungan kunci. Terus banyak juga yang pesan boneka jari muslim untuk putrinya..


Flanella Pernik sendiri melihat semangat handmade yang ada di saat ini seperti apa? Apakah sekadar musiman atau justru bakal lebih besar dan menggila di masa depan?
Senang,karena semakin banyak orang Indonesia yang kreatif dan cinta produk buatan sendiri,,saya yakin perkembangannya akan terus meningkat seiring dengan banyaknya juga peminat handmade.


Terakhir… coba gambarkan Flanella Pernik dalam 5 kata hihihi….
Fresh, Unik, Cute, Handmade, Memorable/remarkable…

Google Twitter FaceBook

Berguru Pada Perpustakaan

Barisan rak yang berjajar rapi itu memajang ratusan buku. Sebagian diantaranya terlihat agak kumal dan berdebu. Meski demikian, beberapa kepala seolah tidak peduli dengan kekusaman tersebut. Dengan tekun mereka yang umumnya berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa tersebut membaca halaman demi halaman buku yang berada di genggamannya. Raut itulah setidaknya yang nyaris selalu terlihat pada keseharian Perpustakaan Daerah Jawa Barat yang berada di salah satu sisi jalan Bypass Soekarno Hatta.   

Lengang, mungkin demikianlah satu kata yang dapat mewakili keberadaan perpustakaan yang seharusnya menjadi kebanggaan warga Jawa Barat tersebut. Padahal, sebagai sumber informasi, perpustakaan adalah surga. “Mungkin minat baca masyarakat kini tidak terlalu tinggi, sehingga keberadaan perpustakaan pun agak terpinggirkan,” ungkap Maman Suhaery, salah seorang petugas, mencoba memberikan analisa ringan. 



Rendahnya minat baca ini telah banyak dikemukan oleh para ahli di antaranya oleh budayawan ternama Ajip Rosidi dan Taufik Ismail. Menurut Ajip Rosidi penerbi­tan buku di Indonesia saat int sekitar 12 ribu judul buku setiap tahun dengan oplah hanya dua sampai tiga ribu setiap judul bagi bangsa dengan penduduk 225 juta niscaya tidak berarti apa-apa. Sedangkan menurut Taufik Ismail di Indonesia telah terjadi defisiensi budaya yang sudah luar biasa parah dan sudah berlangsung 55 tahun lamanya. Berdasarkan penelitian beliau terhadap buku-buku sastra wajib di sekolah menengah atas untuk melihat tingkat minat baca siswa maka disimpulkan bahwa telah terjadi sebuah ”tragedi nol buku” di Indonesia.

Kembali ke perpustakaan. Sebenarnya, apa yang terbayang di benak ketika mendengar kata “perpustakaan”? Dalam arti tradisional, perpustakaan adalah sebuah koleksi buku dan majalah. Walaupun dapat diartikan sebagai koleksi pribadi perseorangan, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku atas biaya sendiri. Ironisnya, Badan Perpustakaan Daerah (BAPUSDA) sendiri, sebagai Perpustakaan yang membina seluru perpustakaan yang ada di wilayah Jawa Barat, keberadaannya cukup memprihatinkan dan kurang layak untuk dijadikan model pengelolaan perpustakaan. Sampai hari ini pelayanannya bahkan masih dilakukan secara manual alias belum terkomputerisasi. Padahal, dengan koleksi dan penemuan media baru selain buku untuk menyimpan informasi, banyak perpustakaan kini juga menggunakan teknologi digital dalam penyimpanan buku serta data yang dimilikinya.



Meski fasilitas yang ada belumlah cukup memadai, namun bagi para pecintanya, perpustakaan, bagaimanapun bentuk dan rupanya, betul-betul memberikan jasanya dalam memberikan ilmu dan informasi. Tengok saja perkataan Diana Maryana, seorang pengunjung yang mengaku setia bertandang ke perpustakaan Jawa Barat tersebut. Perempuan yang tengah berusaha mendapatkan gelar magisternya ini berucap bahwa perpustakaan membantunya untuk menambah wawasan tanpa perlu biaya tambahan. “Saya merasa, perpustakaan daerah yang satu ini, mesti ala kadarnya, namun sudah memberikan kontribusi yang cukup besar bagi saya pribadi. Buku-buku bacaan dari hari ke hari harganya kian merangkak naik, dan perpustakaan adalah penolong utama bagi para penggemar buku seperti saya,” jelasnya panjang lebar.



Di samping minat baca dan minimnya fasilitas, bisa jadi, kesadaran untuk berkunjung ke perpustakaan adalah hal yang sudah semestinya menjadi perhatian. Paradigma berpikir yang cenderung mengatakan bahwa perpustakaan adalah menara gading yang tak memberikan implikasi praktis dalam kehidupan nyata haruslah disingkirkan jauh-jauh. Mengapa? Karena budaya literasi informasi sebenarnya sangat menentukan tingkat kemajuan suatu masyarakat. Literasi informasi sendiri adalah kemampuan seseorang dalam mengakses, mengolah, dan menggunakan informasi. Maha pentingnya literasi informasi ini salah satunya dikemukakan oleh Hartoonian, seorang politikus AS yang mengatakan bahwa “ if we want to be a superpower we must have individuals with much higher levels of literacy”. Atas dasar itu pula, Negara maju seperti Jepang mengupayakan budaya literasi kepada masyarakatannya sejak dimulainya Restorasi Meiji satu abad yang lalu, dan sekarang kita saksikan, negara ini menjadi raksasa ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Nah, menilik sekelumit singkat tentang perpustakaan di atas setidaknya memberikan gambaran nyata tentang penuh manfaatnya sebuah tempat dengan tumpukan-tumpukan buku tersebut. Ingin menambah wawasan? Yuk, berguru pada perpustakaan!

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails