7.12.12

Menghidupkan Kembali Kerajinan Kulit Garut



Garut telah beberapa minggu terakhir ini menjadi sorotan masyarakat luar bahkan sampai ke luar negeri berkat “prestasi” sang Bupati yang fenomenal sekaligus memalukan perihal keahliannya berkecimpung dalam dunia pernikahan. Tentu, Tobucihandmade tak mau ketinggalan “menggarutkan” diri. Tenang saudara-saudara, kami belum hendak menjadi blog infotainment, Garut yang satu ini jauh lebih menarik tinimbang Aceng Fikri. Dodolkah? Ah, tebakan kalian lagi-lagi salah. Adalah Sukaregang yang menjadi tujuan. Daerah yang berada di pusat Kota Garut ini merupakan sentra jaket kulit yang telah sangat dikenal bahkan sampai ke mancanegara.


Garut dan kerajinan kulit memang tak bisa dipisahkan dengan bertebarannya peternakan domba di kabupaten tersebut. Kulit domba yang melimpah kemudian menjadi kreasi-kreasi nan indah di tangan para pengrajin. Selain itu, kulit-kulit tersebut ada pula yang diperoleh dari Sumatera, Sulawesi, Jawa Timur, bahkan sampai Malaysia. Tentu saja, jaket kulit made in Garut memiliki sejarah yang panjang di masa lalu. Ia pertama kali dikembangkan pada masa penjajahan Jepang oleh para pengrajin kulit di daerah Jatayu Bandung yang berkampung halaman di Garut.

Harga yang bersaing dan juga desain yang tidak monoton pada perkembangannya menjadikan kerajinan kulit ini mulai mendapat kepopuleran. Jaket, sandal, sampai dompet, adalah beberapa dari sekian banyak kerajinan kulit yang dihasilkan. Namun demikian, awal tahun 2009, krisis ekonomi menerpa para pengrajin. Harga produksi melonjak disebabkan naiknya harga kulit dan bahan-bahan lainnya yang digunakan untuk berproduksi. Modal dan pemasukan kemudian menjadi tak berimbang sehingga menyebabkan banyak pengrajin yang kolaps dan terpaksa gulung tikar. Saat ini, tercatat hanya tersisa sekitar 300 pengrajin saja yang masih bisa bertahan di tengah segala krisis yang menerpa.

Akses dan fasilitas adalah permasalahan lainnya yang dimiliki oleh para pengrajin. Ya, akses jalan yang sempit, membuat daerah Sukaregang sebagai sentra kerajinan kulit Garut terlihat sumpek dan kumuh. Kita tentu tak perlu berandai-andai membayangkan sang pemangku kebijakan yang lebih senang mengisi pundi-pundi uang dan istri dibandingkan mengurusi sebuah sentra kerajinan kemudian menggerakkan nurani dan kekuasaannya untuk memperbaiki segala keterbatasan yang dimiliki oleh tempat penuh kreativitas tersebut. Tak ada pula yang akan pernah bisa menerka-nerka, akan sampai sejauh manakah perkembangan kerajinan itu di masa depan, hanya saja, jika berkunjung ke Garut, cobalah barang sejenak mengunjungi Sukaregang. Melihat bagaimana kulit-kulit tersebut bertransformasi menjadi keindahan yang mungkin harus kita miliki!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails