Follow by Email

Jumat, 14 Desember 2012

Menemui Pasir Angin


Sebuah kesalahan besar ketika membaca judul di atas dan berpikir bawah tulisan ini adalah semacam cerita tentang pendekar bernama Pasir Angin.  Ini adalah cerita napak tilas tentang masa ribuan tahun lalu ketika sejarah belum lagi tercatat dalam tulisan-tulisan. Situs Pasir Angin, demikian ia kini dinamai. Situs ini terletak di Bogor, tepatnya di Kecamatan Cibungbulang, tak begitu jauh dari sejuknya aliran sungai Cianten. Memang, Bogor sedari dulu telah terkenal dengan peninggalan artefaktual yang diilikinya, mulai dari peninggalan masa pra sejarah sampai pada peninggalan masa kolonial. Pasir Angin sendiri berasal dari kata pasir yang berarti bukit. Dalam terjemahan bebas, Pasir Angin dapat diartikan sebagai bukin yang banyak angin atau bukit berangin.

Situs ini sendiri berbentuk sebuah batu monolit  setinggi 1,2 meter yang konon dahulu digunakan sebagai alat pemujaan. Sekilas, tak ada yang aneh dengan penampakan sang batu yang di atasnya berbidang datar tersebut, namun para ahli justru menemukan hal menarik dari bentuk datar dan posisinya yang berada tak jauh dari sungai. Berdasarkan penelitian, situs ini merupakan salah satu tempat utama di masanya untuk melakukan ritual pemujaan terhadap arwah leluhur. 

Pada penelitian yang dilakukan di medio 1970-1975 silam, di sekitar batu tersebut, ditemukan beragam artefak yang terbuat dari besi, perunggu, tanah liat, kaca, serta obsidian. Benda-benda purbakala yang ditemukan di tempat ini antara lain kapak (corong, besi, perunggu), beliung persegi, tongkat persegi, manik-manik batu dan kaca, tombak, gerabah, dan alat-alat obsidian. Berdasarkan temuan tersebut, diperkirakan situs ini sendiri dibuat pada masa logam awal alias pada masa perunggu sekitar tahun 600-200 sebelum masehi.

Keberadaan perunggu sendiri di Indonesia berdasarkan pendapat seorang peneliti Belanda, Van Hekern, berasal dari Asia Tenggara daratan. Perunggu pada masa itu merupakan barang berharga yang hanya dimiliki oleh para penguasa dan tokoh masyarakat. Adapun kelompok rakyat biasa umumnya hanya menggunakan peralatan-peralatan yang terbuat dari batu-batuan.

Satu hal yang unik, segala peralatan yang ditemukan itu kesemuanya berada dalam posisi membujur dari barat ke timur. Hal ini pulalah yang kemudian memberikan asumsi bahwa Pasir Angin merupakan situs yang dipergunakan sebagai tempat pemujaan. Konon, posisi barat-timur yang sedemikian teratur itu adalah simbol yang digunakan untuk menunjukkan bahwa hidup adalah seperti matahari. Timur sebagai tempat matahari terbit adalah simbol dari awal mulanya kehidupan, sedangkan barat sebagai tempat matahari tenggelam merupakan simbol dari kematian. Sebuah akhir dari kehidupan.

Berdasarkan tingginya nilai sejarah yang dimiliki oleh situs Pasir Angin, pemerintah setempat kemudian pada tahun 1972 mendirikan kompleks museum purbakala yang berada tak jauh dari tempat keberadaan situs tersebut. Hanya saja, museum terbesar yang ada di Bogor tersebut, seperti halnya benda-benda bersejarah di Indonesia, kurang mendapat perhatian serius. Meski demikian, tentu tak ada salahnya jika sesekali jika tengah berada di Bogor, datanglah ke situs Pasir Angin untuk sekadar menemui sang mesin waktu yang dapat kembali membawa kita ke masa silam.
Google Twitter FaceBook

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails