7.12.12

Karya Limited Spesial Ndutyke



Kali ini mari kita menjumpai Tyka, seorang guru yang senang ber-limit dalam berkarya. Tentu, bukan “limit” dalam arti membatasi ide, namun karya-karyanya selalu menjadi spesial karena selalu dibuat dalam edisi terbatas. Mengandalkan manik-manik, beragam akesoris lahir dari Tyka sang penggagas Ndutyke.

Apa kabar, nih Mbak Tyka… Aksesoris-aksesoris seperti apa saja sebenarnya yang dibuat oleh Ndutykehandmade?
Halo… Kabar baik, alhamdulillah. Ndutykehandmade atau yang biasa disebut dengan “Ndutyke” saja, berkreasi membuat aksesoris dari bahan manik-manik. Ada peniti jilbab splewonan alias peniti berharga sepuluhribuan, hehehe… charm bracelet, kalung, sampai gantungan HP dan gantungan kunci.


Ndutyke, kan, karya-karyanya limited edition. Gimana, tuh, cara Mbak Tyka biar bisa terus berkarya dengan produk-produk yang beragam dan enggak pernah kehabisan ide?
Jujur aja, saya banyak melihat-lihat karya dari crafter luar negeri.Rujukan utama saat mencari ide atau sekedar cuci mata sih, ya, etsy.com, walaupun tentunya tidak mencontek habis-habisan karena pada akhirnya semua tergantung pada manik apa yang saya punya. Selain itu, saya juga rajin mengecek dan berbelanja koleksi manik dan bandul model terbaru yang disediakan oleh suplier langganan. Dan tentunya rajin browsing dan mencari suplier-suplier baru yang memiliki beragam jenis manik dengan harga yang kompetitif. Mostly suplier manik dan perlengkapan saya dapatnya dari Facebook dan saya kembangkan model sesuai stok manik yang sudah saya beli.

Apa, sih, yang menjadi kunci utama Ndutyke di samping produknya yang limited edition sehingga karya-karyanya menjadi spesial?
Ndutyke menerima pesanan aksesori yang custom-made. Pelanggan bisa mengirimkan contoh model yang mereka mau, lalu saya sesuaikan dengan manik yang saya miliki. Namun yang lebih sering terjadi, mereka hanya menyebutkan warna favorit saja, lalu model diserahkan kepada saya, atau mereka minta dibuatkan mirip dengan karya saya yang terdahulu. Mereka juga bisa merevisi desain yang sudah jadi. Tidak ada paksaan mereka harus menerima desain yang saya buat. Pembayaran dilakukan saat barang sudah jadi, sehingga ya.... totally no pressure for them. Saya toh menginginkan, pelanggan yang membeli produk saya bener-bener menyukai apa yang mereka beli, kecuali jika pesanannya dalam jumlah besar, biasanya saya minta DP 50 persen. Alhamdulillah selama hampir 3 tahun ini, baru satu kali mengalami hit and run. Aksesoris sudah saya selesaikan sesuai pesanan, namun akhirnya pelanggan enggak bayar dan enggak ada kepastian batal. Ya sudahlah, namanya juga dagang, hehehe. Selain itu, saya juga senantiasa berusaha menjadikan pelanggan, lebih dari sekedar hubungan bisnis. Alhamdulillah kalo pada akhirnya bisa berteman diluar urusan jual-beli. Kunci lainnya juga, jangan pelit memberi bonus untuk pelanggan. Semakin besar nominal belanja, semakin banyak dan cihuy pula bonusnya, hehe…

Apa, nih, yang melatarbelakangi Mbak Tyka sampai bisa jatuh cinta dan terjun di dunia handmade?
Awalnya sih sederhana, butuh duit jajan, hehehe. Pertama terjun di dunia handmade pas masih kuliah tahun ke tiga. Waktu itu saya menjahit tangan, kain jeans dari celana jeans bekas. Dijadikan pouch untuk HP dan dihiasi dengan sulaman. Motif sesuai pilihan teman-teman dan tetangga yang saat itu menjadi pelanggan saya. Sayangnya karya-karya saya waktu itu satupun tidak ada yang terdokumentasikan dalam bentuk foto. Lalu vakum enam tahun dan akhirnya kembali berkarya. Membuat produk handmade namun tidak lagi dalam bentuk menjahit pouch HP. Kali ini fokus ke aksesoris. Comeback-nya saya ke dunia handmade dengan alasan lain yang tak kalah simpelnya, beli manik dan digarap menjadi aksesoris untuk dipakai sendiri, hehehe… Tapi kok maniknya sisa banyak banget, jadilah akhirnya saya garap saja sisanya menjadi aksesoris dan lalu saya jual secara online.

 

Kepuasan seperti apa, sih yang didapat Mbak Tyka dengan membuat karya-karya handmade?
Puas sekali kalo jadinya bagus. Lalu saat pelanggan melihat foto yang saya kirimkan, mereka bilang "Bagus!". Dan saat barang sudah mereka terima, alhamdulillah mereka tidak berubah pikiran dan tetap bilang: "Bagus! Aku suka!". Kepuasan batin yang luar biasa. Sungguh senang rasanya bisa menyenangkan hati pembeli.


Menurut Mbak Tyka, apa pelajaran paling berharga yang sebenarnya bisa didapatkan oleh crafter dengan aktivitasnya menekuni handmade?
Belajar untuk menerima masukan dan perbedaan selera. Apa yang menurut saya bagus, belum tentu pelanggan suka. Enggak mungkin saya memaksakan kehendak. Sebaliknya, apa yang menurut saya kurang cantik, mungkin pelanggan malah suka dan puas.


Mbak Tyka sendiri ingin mengembangkan Ndutyke menjadi seperti apa, nih?
Pengennya sih bisa lebih fokus dan total mengembangkan Ndutykehandmade Shop. Bukan hanya untuk menaikkan omset, ya. Tapi lebih kepada ketepatan memenuhi deadline, sehingga otomatis bisa menyelesaikan order tepat waktu dan bisa menerima order lebih banyak. Karena untuk saat ini, saya masih bekerja sendirian dan masih part-time karena pekerjaan utama saya adalah sebagai guru di sekolah. Inginnya, kedepannya bisa menjual produk dalam jumlah grosir, untuk souvenir pernikahan, misalnya. Atau menerima tawaran dari teman yang ingin menjadi reseller. Untuk saat ini kan belum bisa. Mostly masih mengerjakan pesanan custom-made. Ke depannya ingin bisa merekrut tenaga tambahan. Yah, membuka lapangan pekerjaan juga. 


 

1 komentar:

  1. Thank you mas Nugraha. Thank you Tobucil :)

    http://www.facebook.com/ndutykehandmade

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails