2.11.12

Perjalanan Gelang



Siapa yang tidak mengenal gelang. Aksesoris yang menjadi pemanis tangan atau kaki ini kerap dikenakan oleh berbagai kalangan. Mulai dari yang bertahtakan berlian sampai gelang-gelang unik yang dibuat sedemikian rupa dengan menggunakan berbagai bahan mulai dari manik-manik sampai bebatuan. Saking populernya gelang di kalangan umat manusia sepenjuru dunia, ia bahkan telah berhasil menipu jutaan kepala. Gelang power balance yang digembar-gemborkan mampu meningkatkan daya tahan tubuh ternyata hanya isapan jempol belaka. Jikalah, power balance ini berbentuk kaus kaki, misalnya. Akankah ia tetap dapat menarik minat banyak orang? Mungkin belum tentu. Ya, gelang dan pesonanya memang sulit ditepikan, bahkan dari ribuan tahun lalu.

Sekitar 35.000 tahun yang lalu, gelang berbahan dari tulang dan rambut telah dikenakan oleh manusia purba. Banyak pendapat mengenai fungsi gelang di masa ini. Ada yang mengisahkan untuk menentukan status sosial di kelompoknya, ada pula yang berpendapat sebagai salah satu bentuk estetis paling primitif yang dimiliki oleh peradaban manusia. Evolusi yang berlangsung tanpa henti kemudian mau tak mau harus memalingkan muka pada masa Yunani dan mesir kuno. Di Yunani, ia populer baik baik bagi lelaki atau perempuan untuk menunjukkan status dan kekayaan yang dimilikinya. Awalnya, gelang ala Yunani dibuat tebal dan terbuat dari kulit dengan dihiasi batu permata. Kreativitas dalam membuat gelang di Yunani kemudian berkembang pesat. Mulailah dibuat gelang tipis yang terbuat dari logam dengan ukiran beragam motif. Agaknya, fungsi gelang sebagai penunjuk status ini pulalah yang pada perkembangannya diadopsi oleh bangsa Romawi.

Jika Yunani menekankan fungsi gelang sebagai perhiasan penunjuk status, maka Mesir menjadikan pula gelang sebagai sesuatu yang sakral. Ia menjadi bagian penting yang tak bisa terpisahkan dalam berbagai ritual keagamaan. Pada masa ini, gelang dipercaya memiliki kekuatan gaib. Tak hanya Mesir, gelang yang dianggap “sakti mandraguna’ ini pun menyebar pula di kawasan Amerika Latin, Asia, dan berbagai tempat di Eropa, meski pada abad pertengahan, gelang sempat mengalami penurunan pamor di kalangan lelaki karena dianggap terlalu feminim. Konon, penduduk Asia dan Eropa kala itu percaya bahwa siapapun yang menggunakan gelang akan terhindar dari kesialan. Adapun penduduk Amerika Latin memercayainya dalam konteks yang sedikit berbeda. Mereka memakaikan gelang untuk para bayi karena percaya gelang mampu melindungi sang bayi dari setan.


Pada akhirnya, sesuai perkembangan jaman, fungsi gelang memang terus pula mengalami transformasi. Kini, selain sebagai perhiasan, gelang kerap pula digunakan sebagai salah satu bentuk solidaritas bagi para pemakainya. Adalah Lance Armstrong pencetusnya. Pemenang balap sepeda Tour de France di tahun 1999 ini membuat gelang kuning yang dijual untuk menghimpun dana bagi yayasan kanker yang didirikanya. Sejak itu, gelang dengan warna tertentu dipergunakan sebagai tanda dukungan, seperti hitam untuk mendukung anti rasisme, biru untuk anti bullying, sampai gelang berwarna putih untuk solidaritas memerangi kemiskinan.

1 komentar:

  1. Artikle yang sangat keren, semoga sukses selalu

    Ingin Liburan Ke karimun jawa dengan aman dan nyaman di karimunjawa ? Ingin Paket Wisata Karimunjawa dan gak murahan? Hubungi Kami "Raja Karimunjawa" biro lokal asli Karimun jawa . Untuk Book Paket Karimunjawa dan Tour Karimunjawa , silahkan hubungi kami karena kami biro karimunjawa dan trevel karimunjawa terpercaya. Paket wisata karimunjawa Murah tapi mewah, murah tapi gak murahan. Kepuasan Wisata Karimunjawa anda di pulau Karimunjawa adalah kebahagia'an dan tujuan kami. Terimakasih telah mempercayakan paket wisata karimunjawa bersama kami Agen Wisata Karimunjawa dan mebel jati jepara. silahkan Untuk booking paket lebaran karimunjawa dan paket tahun baru karimunjawa

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails