26.10.12

Keroncong, Milik Siapakah?

Pernah mendengar nama Tugu atau Merah Putih? Keduanya adalah beberapa dari grup keroncong yang cukup terkemuka di tanah air. Keroncong Tugu bahkan telah lama berdiri dan merupakan salah satu bagian penting dari tonggak sejarah perkembangan musik keroncong di tanah air. Musik yang satu ini memang kerap hangat dalam tataran wacana namun sepi dari segi peminat. Perkembangan musik memang kerap cukup kejam. Ia dapat dengan secepat kilat menggusur sebuah genre yang dianggap telah usang dan layak untuk disingkirkan. Pun demikian halnya dengan musik keroncong. Setelah sempat mengalami masa keemasannya paruh waktu abad ke-20, ia seakan kandas ditelan kencangnya distorsi dan raungan gitar ala musik masa kini. Eksodus besar-besaran seni budaya barat di masa Orde Baru turut pula membawa keroncong jatuh ke titik nadir.  

Berbicara mengenai keroncong adalah berbicara mengenai persentuhan budaya Indonesia dengan musik Eropa. Banyak pihak mengatakan bahwa cikal bakal musik keroncong dikenal dengan Moresco, sebuah lagu yang menurut hikayat dibawa oleh buruh imigran Portugis yang bekerja di beberapa perkebunan nusantara. Musik yang bernuansa sendu dan rindu itu kemudian mengalami akulturasi musik lokal secara intens sehingga dikenal sampai saat ini dengan istilah musik keroncong. Genre musik yang satu ini umumnya menggunakan alat musik biola, flute, cak (banjo), cuk (ukulele), gitar, cello, dan bas. Penjaga irama dipegang oleh cak, cuk, dan bas. Gitar dan cello mengatur peralihan akord, biola berfungsi sebagai penuntun melodi, serta Flute yang melayang-layang mengisi ruang melodi yang kosong.

Pertanyaan besar lalu mengemuka, benarkah keroncong merupakan musik yang diwariskan oleh bangsa Portugis kepada Indonesia? Perjalanan sejarah sendiri mencatat bahwa tidak terdapat musik yang sejenis dengan keroncong pada negara yang dijajahnya kecuali Indonesia. Yang lebih menarik lagi, di Portugis sendiri ternyata tidak ada satupun musisi di sana yang memainkan alat musik seperti yang dimainkan oleh pemusik keroncong di Indonesia, dan yang cukup mengagetkan, ternyata di Portugis tak ada musisi yang mampu memainkan irama keroncong. Jika ditilik lebih jauh lagi, ternyata terdapat kemiripan antara pakem-pakem yang terdapat di dalam keroncong dengan bentuk lagu dari daerah Jawa, seperti tembang Dangdanggulo atau Sinom Pangkur.

Tentu paparan ini perlu mendapat tanggapan dan penelitian lebih lanjut, namun satu hal yang pasti, sebagai sebuah aset berharga, sudah sepatutnya keroncong mendapat perhatian serius agar ia tidak hanya sekadar “hidup segan mati tak mau”, dan yang terpenting, jangan hanya karena kurangnya perhatian dari pihak terkait, akan ada masa dimana keroncong mendapat klaim dari negara yang justru tak memiliki akar budayanya sama sekali, sebuah kemungkinan yang bisa jadi menjadi nyata jika keroncong terus terpinggirkan dan menjadi tamu di rumah sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails