12.10.12

Kelompen Sunda A.K.A Kelom Geulis



Pernah menembus jalur perjalanan menuju Priangan Timur? Berkendara selama kurang lebih tiga jam dari Bandung atau sekitar lima jam dari Ibukota, kita akan menemui sebuah kota yang cukup dikenal dengan berbagai bentuk kerajinan yang dimilikinya, Tasikmalaya. Kota yang satu ini memang cukup populer dikenal sebagai salah satu kota di Jawa Barat yang banyak menghasilkan beragam jenis kerajinan semisal payung, anyam-anyaman, dan mungkin yang paling masyur di antara meski kini mulai jarang ditemui adalah sandal yang akrab dinamai kelom geulis dan mulai populer beredar dari kaki ke kaki semenjak tahun tiga puluhan. Pada masanya, kelom geulis menjadi ikon perempuan berkelas dan banyak dipakai oleh kelompok aristokrat serta noni-noni Belanda. Konon, kata kelom berasal dari bahasa belanda kelompen yang memiliki arti alas kaki yang digunakan pada musim dingin. Adapun geulis sendiri diambil dari bahasa Sunda yang berarti cantik. Ya, secara harfiah, kelom geulis memanglah sandal yang dibuat dengan sedemikian rupa sehingga memiliki penampakan yang sangat menarik. 

Popularitas sandal yang satu ini kemudian sempat mendunia ketika seorang fotografer London memfoto putri duta besar Indonesia untuk Inggris pada tahun lima puluhan yang tengah merayakan hari kemerdekaan 17 Agustus lalu memajang foto tumit sang pemakai pada harian Evening Standard. Gara-gara foto tersebut, seluruh London mengenal kelom geulis.   

Kelom Geulis sendiri dibuat dari kayu mahoni atau albasia yang dipotong sesuai dengan bentuk alas kaki dan kemudian dirapikan serta diserut dengan menggunakan golok atau pisau. Agar ia dapat tahan lama, kayu yang telah dibentuk tersebut dijemur sehingga kadar air yang dimilikinya berkurang. Selesai? Tentu saja belum. Usai dikeringkan, sandal yang keseluruhan proses pembuatannya ini nyaris manual tersebut dihaluskan dengan gerinda dan diberi cat dasar. Pada bagian atasnya lalu diberi tali yang biasanya berupa tali beludru atau tali kulit. Untuk memercantik penampilannya, kelom geulis kemudian dihias dengan diberi ukiran yang biasanya berupa ukir-ukiran bunga. Namun, seiring perkembangan jaman, teknik air brush pun mulai digunakan untuk menghiasinya. 


Pada masa kini, kelom geulis cenderung diproduksi secara rumahan. Serangan mode yang yang cukup membabi-buta menerjang dari segala penjuru membuat kelom geulis mungkin tak lagi sepopuler dahulu seperti pada masa kejayaannya. Meski demikian, nilai ekslusif yang dimilikinya membuat ia masih dapat bertahan, bahkan telah pula menyeberang ke berbagai negara di Asia dan Eropa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails