21.9.12

Situs Gunung Padang


Dulu sekali, saya pernah menyaksikan sekilas sebuah film dokumenter berjudul “Situs Gunung Padang” garapan sutradara Yogi Margana. Perjalanan kecil itu nyari saya lupakan sampai seorang kawan di suatu hari yang tidak terlalu istimewa tiba-tiba menyodorkan film yang dahulu hanya sekilas saya tonton itu. Kali ini saya mencoba menontont detik-demi detik yang disajikan dalam film tersebut. Jujur saja, film dokumenter sebenarnya bukanlah hal yang menarik minat saya. Namun sang situslah yang membuat saya mau menonton ulang film tersebut.


Ya, sebuah film dokumenter yang menceritakan tentang situs yang berada di desa Gunung Padang dan desa Panggulan, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Ia merupakan situs megalitik bangunan batu terbesar di Asia Tenggara. Luas bangunan purbakalanya kurang lebih 900 m² dan juga luas areal situs ini sendiri kurang lebih 3 hektar. Bangunan berundak itu terletak di atas sebuah bukit yang memanjang ke arah tenggara dan barat laut pada ketinggian 885 m di atas permukaan laut dari perhitungan altimeter. Situs itu dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat dalam.

Adegan demi adegan kemudian tersaji. Dimulai dari perjalanan sang pembawa acara yang menempuh perjalanan menuju situs tersebut. Meski hanya melihatnya melalui film, ketakjuban tetap tak bisa saya sembunyikan. Melihat batu-batu peninggalan jaman pra sejarah yang memerlihatkan betapa sebuah peradaban pernah ada dan telah muncul semenjak ribuan tahun lampau.

Situs Gunung Padang. Apakah itu? Rasa penasaran dan keingintahuan saya lalu seakan muncul dengan menggebu-gebu, mengajak untuk menelusuri Gunung Padang secara lebih mendalam. Bangunan berundak Gunung Padang muncul dalam percaturan di bidang prasejarah sekitar tahun 1979 setelah tiga orang penduduk menemukan misteri yang terkandung dalam semak belukar di bukit Gunung Padang. Penduduk setempat yang bernama Endi, Soma, dan Abidin ketika bekerja di tempat tersebut dikejutkan oleh adanya dinding tinggi dan susunan batu-batu berbentuk balok yang oleh mereka tidak diketahui peninggalan apakah sebenarnya. 


Di sebuah lokasi sempit di dalam lokasi ini, terdapat sekumpulan batu, ada beberapa di sana yang tergeletak sedemikian dengan panjang lebih dari 1,5 meter dan lebar serta ketebalan lebih dari 25 cm. Ketika batu-batu itu dipukul-pukulkan sedemikian rupa, maka diperoleh spektrum nada-nada yang unik sekali. Terdapat kecenderungan, satu batu menghasilkan satu frekuensi yang sama seolah tiap batu merepresentasikan satu nada. Ini tentu merupakan penemuan yang mengejutkan! Ada instrumentasi musik dari zaman megalitikum! Seiring perjalanan detik yang terus melaju, pada waktu-waktu yang telah ditentukan, situs ini lalu seringkali digunakan pula untuk bertemunya semua ketua dari dataran sunda kuno. 

Pertanyaan cukup mengganggu lalu muncul di benak saya. Sudah sedemikian tinggikah kultur bermusik pada masa-masa pra-sejarah? Ya, semuanya sangatlah mungkin. Musik paling tua yang pernah diketahui adalah musik tulang yang ditiup (bone whistles) di kawasan Hemudu, Cina yang diduga telah ada semenjak 5000-4500 SM, kemudian ada pula temuan instrumentasi mirip harpa dan lira di kawasan Mesopotamia, Irak yang diduga telah berusia 5000 tahun. Dengan umurnya yang “baru” menginjak usia 2500 tahun, Gunung Padang bisa jadi merupakan satu-satunya kehidupan musik purbakala yang pernah ada di wilayah nusantara. Dari sisi ukurannya, jika ini adalah benar alat musik kuno, maka ini merupakan alat musik yang sangat besar dan sulit dibayangkan jika dimainkan oleh satu orang. Sangat mungkin pemainnya adalah sekelompok orang yang secara bergantian memainkan lagu-lagu secara monofonik. Menakjubkan, pada sebuah peradaban yang belum mengenal tulisan, sudah terdapat konsep kerja sama dalam menghasilkan bentuk-bentuk estetika suara.


Sayang, sebagaimana halnya cerita klasik yang kerap terdengar di tanah Nusantara, pun demikian pula halnya dengan Situs Gunung Padang. Ketika masyarakat dan para arkeolog begitu tertarik padanya, pemerintah seolah setengah hati memperhatikannya. Masalah dana menjadi kambing hitam yang lalu dimunculkan ketika ia seolah dibiarkan terbengkalai.

Usai menyaksikan film berdurasi hampir dua jam itu, saya melangkah pulang. Seorang pengamen yang tengah mengaso di pinggir jalan tiba-tiba mengagetkan saya. Ditimpali gitar di tangannya, mulutnya menyanyikan sepenggal lagu wajib berjudul Rayuan Pulau Kelapa. Indonesia sejak dulu kala, tetap di puja-puja bangsa...  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails