28.9.12

Pagi Di Tepi Pajajaran



Pagi masih sedikit berkabut ketika saya melangkah ringan. Udara dingin sisa-sisa subuh membekas menjadi embun pada tepian-tepian daun. Hari minggu memang selalu menyenangkan. Sebuah gor di bilangan Pajajaran yang bernama sama dengan sang jalan menjadi tujuan saya memulai hari. Awalnya tak ada maksud khusus, sekadar hanya ingin mencari bubur ayam atau nasi kuning untuk sarapan. 


Perjalanan itu hanya menghabiskan waktu 30 menit. Segerombol muda-mudi bercampur dengan tiga pasangan paruh baya tampak tengah asyik berjoging, seolah menyambut kedatangan saya. Deretan penjaja makanan lalu menjadi begitu menggoda, dan akhirnya sepiring kupat tahu khas Bandung pun saya nikmati dengan lahap sembari melihat sekeliling. Awalnya tak ada yang istimewa dengan Gor Pajajaran, nyaris sama dengan tempat berolahraga yang seringkali saya jumpai. Namun, semua menjadi sedikit berubah ketika sekumpulan remaja dengan kostum basket melintas di hadapan. Tepat di belakang mereka, dua bocah berbaju silat tampak tertawa-tawa membicarakan sesuatu yang tak terlalu tertangkap oleh telinga. Entah mengapa, mata saya memendar melihat sekeliling. Tak kurang dari papan perkumpulan Judo, Aikido, Silat, dan olahraga lainnya tertangkap oleh mata. Pandangan saya berganti-ganti, menjalarkan sesuatu di kepala. “Ini bukan sekadar tempat berolahraga!” kalimat itu melintas begitu saja di kepala.

Rasa penasaran saya yang kian besar pada tempat yang berkesan biasa-biasa ini kini teralih ke sebuah bangunan berlantai dua yang terletak di sisi kiri bangunan utama. Pemandangan cukup mencengangkan yang jarang saya lihat dalam keseharian tersaji di sana. Di lantai pertama, sebuah kejuaraan angkat besi tengah digelar. Atlit-atlit muda potensial tampak tengah berjuang menoreh prestasi dengan tumpahan peluh yang tak henti mengucur. Di lantai atasnya, kompetisi gulat pun tengah digelar. Hampir sama dengan lantai satu, ia juga menampilkan atlit-atlit junior. Teknik-teknik bantingan dan kuncian diperagakan dengan sempurna dengan hasrat dan semangat besar yang mencuat di tengah-tengahnya.

Sesaat nafas saya seolah berhenti. Pikiran saya melayang pada berita-berita olahraga yang kerap berseliweran di media cetak maupun elektronik. Kisah heroik Tentang perjuangan atlit. Kisah dunia olahraga yang sedikit terpinggirkan di tengah deru dan laju krisis yang juga seakan tak kenal lelah menghantam negeri ini. Lalu, melihat aktivitas pagi di gor ini, seolah menyadarkan saya tentang perjuangan di tengah keterbatasan. Mereka, para pelaku olahraga itu, seakan tak pernah patah semangat bergerak maju meski mungkin apa yang nantinya mereka perjuangkan tak sepadan dengan penghargaan yang didapatnya.

Lamat tapi pasti, saya yakin telah mendapat pelajaran yang sangat berharga dalam perjalanan kali ini. Rasa haus yang tiba-tiba menerpa membuat saya melangkah Pelan menuju pintu keluar. Sebotol teh manis dalam kemasannya menemani. Para pebasket muda yang tadi sempat berpapasan dengan saya kini tengah asyik terlihat menikmati sarapan paginya, sepiring batagor panas yang tampak begitu nikmat. 

Mungkin ini terkesan agak sepele, tapi, sesekali, jika punya waktu luang di pagi hari, cobalah untuk mengunjungi tempat yang satu ini. Belajar tentang sebuah semangat besar tak kenal lelah di tengah segala keadaan yang terbatas. Mengamati tentang suatu kebanggaan yang mungkin tak pernah melintas dalam keseharian kita yang penat oleh rutinitas mengejar hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails