13.9.12

Digurat Gelisah Preman Urban



Setiap kali saya melewati Gedung Gas Negara yang terletak tak jauh dari Braga City Walk, nuansa bumi dan langit seolah selalu tersaji di hadapan. Bangunan-bangunan di sekitar gedung tersebut yang sebagian besar telah bertranformasi menjadi restoran dan kompleks pertokoan menciptakan sepetak kerancuan yang sulit ditolerir oleh pandangan mata. Belum lagi, hal tersebut di tambah pula oleh coretan-coretan liar yang membuat tak hanya Gedung Gas Negara, namun juga berbagai bangunan tua lainnya yang berada di kitaran Braga. terlihat seperti terasing di negerinya sendiri.

Namun, sore ini berbeda dengan sore lainnya. Sekumpulan muda-mudi tampak asyik bergerombol di depan gedung tersebut. Cipratan-cipratan cat tampak merona pada pakaian-pakaian yang mereka kenakan. Tentu, gerombolan ini bukanlah hendak tawuran apalagi sekadar kongkow-kongkow di sore hari. Menamakan dirinya Preman Urban (Perkumpulan Seniman Urang Bandung). Dengan mengangkat gagasan “Bebenah Bandung” Preman Urban melakukan aksi mural pada dinding-dinding gedung tersebut. Tak hanya Gedung Gas Negara, Preman Urban pun berencana untuk melakukan mural pula pada tembok-tembok bangunan yang ada di Braga selama beberapa bulan ke depan sehingga keusangan yang selama ini tercipta berubah menjadi keindahan.

Apa yang dilakukan oleh Preman Urban sendiri sebenarnya dapat dikatakan sebagai sebentuk dialektis non verbal yang terjalin antara sekelompok manusia yang terusik dengan segala “kekacau-balauan” yang ada di Braga dengan sekelompok manusia lainnya yang sebenarnya dengan segala kemampuan yang dimilikinya memiliki kendali penuh atas jalan bersejarah tersebut.


Lepas dari segala keruwetan siapa yang memegang kendali dan siapa pula yang terpaksa mengendalikan, meski dipenuhi dengan canda tawa, sore itu saya mendadak gelisah. Mural di sekitar dinding ternyata tidak membuat saya larut dalam peristiwa megah tersebut. Jalanan berdebu, bongkahan-bongkahan batu yang berjajar di sisi jalan Braga menjelma menjadi awan abu-abu yang membuat garis-garis cat mural tersebut berubah menjadi teriakan lantang kaum minoritas yang selama ini dipaksa bersuara tanpa suara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails