6.9.12

Bersahabat dengan Samudera

Kendaraan yang membawa saya akhirnya tiba di tujuan ketika sore menyajikan senja keemasan di sisi barat. Riak ombak yang menderu seolah menyambut kedatangan saya. Batu Karas, sebuah pantai yang terletak di salah satu ujung Kabupaten Ciamis, tepatnya di Desa Batukaras, Kecamatan Cijulang dengan jarak ± 34 km dari Pangandaran. Selama ini, pesona Batu Karas seakan tenggelam oleh besarnya nama Pangandaran, padahal, eksotitas yang dimilikinya tak kalah hebat dengan Pangandaran. Objek wisata yang satu ini merupakan perpaduan nuansa alam antara objek wisata Pangandaran dan Batu Hiu dengan suasana alam yang tenang serta gelombang laut yang bersahabat dengan pantainya yang landai membuat pengunjung kerasan tinggal di kawasan ini. 

Debur ombak di pagi hari seolah membangunkan saya dengan lembut seusai beristirahat semalaman. Amboi! Saya seolah tak memercayai apa yang saya lihat. Pantai nan bersih dengan airnya yang mengharu biru. Puluhan lelaki dengan santai terlihat menenteng papan surfing di tangannya.  Batu Karas memang bak surga kecil bagi para surfer. Meski tak terlalu ramai, namun jangan salah, turis manca negara lebih banyak berkunjung ke lokasi ini dibandingkan dengan pantai Pangandaran. Memang, kebanyakan dari mereka adalah turis yang berkelana untuk mencoba kemantapan kakinya untuk berdiri dan meliuk bersama ombak di atas surfboard.

Ada tiga lokasi yang sering digunakan para surfer untuk menantang ombak. Karang, begitu sering disebutnya. Lokasi ini hanya digunakan pada saat air laut sedang pasang. Legokpari, tempat ini adalah tempat paling favorit karena di sini para pemula pun bisa mencoba keberaniannya untuk berselancar. Lalu ada Bulben (Bulak Bendak) yang diminati oleh surfer-surfer yang memiliki kemampuan mumpuni. Untuk menuju Bulben kita harus menggunakan perahu dengan biaya sekitar 200 ribu rupiah dan yang unik, kapal ini tidak merapat ke pantai jadi para surfer akan mulai mencari point ombak dengan meloncat dari perahu.


Wah, sebenarnya saya ingin sekali ke Bulben, tapi, saya sepertinya tidak dilahirkan sebagai surfer. Jadilah saya memilih untuk menyusuri Batu Karas dengan berjalan kaki. Pemandangannya kini agak berbeda. Usai dihantam Tsunami beberapa tahun yang lalu, Batu Karas seolah mencoba untuk kembali bangkit. Beberapa bangunan seperti resto dan tempat cindera mata yang kabarnya hancur luluh lantak kini telah kembali berdiri. Yang cukup menarik, bangunan-bangunan di Batu Karas didirikan dengan sedemikian rupa sehingga ia tidak membuat pantai menjadi terlihat kumuh. Bangunan-bangunan didirikan di seberang pantai sehingga para turis dapat menginjakkan kaki di pasir dengan bebas tanpa perlu berbagi dengan para pedagang. Sebuah keramaian kemudian mencuri perhatian. Papan besar bertuliskan “Tempat Pelelangan Ikan” menyembul di tengah keramaian itu. Tumpukan ikan-ikan segar yang baru saja datang terlihat di sana. Beberapa nelayan terlihat pula hilir mudik dengan membawa keranjang-keranjang berisi ikan segar. Warga lokal dan wisatawan pun berbaur. Berburu tangkapan laut nusantara. 


Berbicara tentang ikan, maka tentu berbicara tentang memancing. Selain pantainya yang indah, Batu Karas pun ternyata menawarkan pesonanya yang lain. Ya, wisata mancing. Bagi para “mancing mania”, hasrat berburu ikan dapat terpenuhi di Batu Karas. Terdapat perahu-perahu yang memang disewakan untuk memenuhi hobi yang satu ini. Jika hanya ingin sekadar iseng, kita bisa memancing di areal yang terletak tak jauh dari pantai, namun, jika ingin serius memancing, cobalah meminta perahu yang kita sewa untuk mengantar ke lokasi yang bernama Batu Payung. Jaraknya sekitar 40 menit berperahu. Selama perjalanan, kita akan menyisir sisi barat dari Batu Karas, menyusuri indahnya laut selatan dengan lautnya yang fantastis. Gelora memancing pun akan bangkit karena sepanjang perjalanan kita akan melihat orang yang melakukan "Rock Fishing" (memancing di sela-sela batu).


Mengunjungi Batu Karas memang seolah mendatangi sebuah pesisir yang memiliki citarasa eksotis alami. Karena ini pula mungkin dahulu ia seringkali dinamai “Bali dua”. Apalagi ditambah lokasinya yang hanya berjarak 10 menit dari kawasan wisata Green Canyon yang menawarkan petualangan mendebarkan bagi para pecinta alam atau pecinta olahraga ekstrem. Goa dengan bebatuan stalaktit yang disusuri sambil sedikit berenang dalam suasana sedikit gelap nan remang.

Kencangnya deburan angin ditambah gelombang yang begitu menggoda, lelaki dengan papan surfing itu masih memenuhi bibir pantai meski sunset mulai hadir menyembul perlahan. Laut itu begitu menggelora, dan saya masih betah berlama-lama berdiri di pinggirnya, mencoba bersahabat dengan samudera.
(Nugraha Sugiarta)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails