2.8.12

Riwayat Sang Bedug

Setiap ramadhan tiba, benda yang satu ini sangat dirindukan kehadirannya. Yes… Bedug adalah solusi perut yang merinding disko di bulan puasa. Benda yang berbahan dasar kulit binatang yang disamak ini sebenarnya tak hanya berfungsi sebagai penanda adzan semata, meski pada perkembangan kekinian, fungsi penanda tersebut menjadi menonjol dan begitu melekat pada kegiatan peribadatan umat Islam.

Bedug sendiri sebenarnya merupakan salah satu alat musik tradisional dari ribuan tahun lalu dan digunakan sebagai alat komunikasi, baik untuk ritual keagamaan ataupun untuk masalah politik. Bahkan ia diduga kuat telah ada dari jaman pra sejarah. Kala itu, dikenal alat yang dinamakan “nekara” dan “moko”, semacam genderang yang terbuat dari perunggu dan berfungsi sebagai alat untuk melakukan ritual meminta hujan. Lebih jauh lagi, pesona bedug pun termaktub pula dalam kisah susastra pada abad 14-16 Masehi. Dalam karya Kidung Malat, bedug digambarkan sebagai alat komunikasi yang bertujuan untuk mewartakan berita penting seperti bencana alam atau pun perang. Bedug pada masa itu pun digunakan sebagai alat yang memberi penanda waktu. Secara lebih terperinci, Cornelis De Houtman, seorang komandan ekspedisi Belanda mengisahkan tentang bedug ini pada jurnal yang ditulisnya. Houtman menuliskan bahwa di setiap perempatan jalan terdapat genderang yang digantungkan serta digunakan untuk menyampaikan bahaya dan juga sebagai penunjuk waktu.

Lalu, bagaimana bedug dapat menelusup masuk ke nusantara? Ia diduga kuat berasal dari Cina dan India. Konon, masuknya bedug ke nusantara dibawa oleh Cheng Ho, seorang laksmana Cina. Ketika Cheng Ho hendak pergi, seorang raja yang berasal dari Semarang mengatakan bahwa dirinya ingin mendengarkan suara bedug dari masjid. Sejak itulah, alat musik yang umumnya terbuat dari kulit kerbau ini kemudian menjadi bagian dari masjid, seperti halnya di negara Cina, Korea, dan Jepang, yang memosisikan bedug di kuil-kuil sebagai alat komunikasi ritual keagamaan. Pada perkembangannya, bedug kemudian memang menjadi bagian yang terpisahkan dari penyebaran syiar Islam di tanah air.

Bagi masyarakat Jawa Barat sendiri, seni menabuh bedug, di samping sebuah ciri unik penanda adzan di Indonesia, ia sebenarnya merupakan sebuah tradisi permainan di waktu senggang yang kerap dilakukan saat menunggu buka puasa. Pada masa lampau, biasanya permainan itu kerap dilakukan kaum remaja dan dewasa. Mereka sering bermain bersama-sama menabuh lima bedug sekaligus untuk memperdengarkan keindahan dan perpaduan bunyi alat tabuh itu. Sebuah kegiatan yang sampai saat ini masih kerap dilakukan.

1 komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails