10.8.12

Percakapan Penjaja Bendera

Debu dari beberapa kendaraan yang lewat sesekali mengepul menerpa wajahnya. Sorot matahari siang itu memancar dengan cukup terik, membuat wajahnya yang legam sedikit berkeringat. Satu hal yang pasti, pancaran semangat untuk terus menjalani kehidupan begitu terlihat dari wajahnya. Tak jauh dari tempatnya duduk, seutas tali darurat memajang bendera merah putih dalam beberapa ukuran. Lelaki paruh baya itu bernama Mang Ujang. Acap mendekati peringatan kemerdekaan Indonesia, ia pun beralih profesi menjadi penjual bendera. Rutinitas ini telah dilakukan Mang Ujang lima tahun lamanya. 

Perkenalan kami siang itu sebenarnya tak disengaja, hanya karena saya hendak membeli koran di seorang penjaja yang kebetulan mangkal tepat di sebelah Mang Ujang berjualan bendera. “ Benderanya, Kang, untuk di motor,” tawar Mang Ujang ramah sambil mendekati saya, senyumnya lalu mengembang. Di tangannya, sang saka merah putih dalam ukuran mini tergenggam. Tak berapa lama, bendera mungil seharga dua ribu rupiah yang ditawarkannya pun berpindah tangan dan percakapan kami lalu berlanjut.

Sehari-hari Mang Ujang sebenarnya bekerja sebagai buruh bangunan, namun ia selalu meliburkan diri dari profesinya tersebut ketika tujuhbelasan tiba. “ Ya, bandingkan saja, dengan menjadi buruh bangunan saya hanya mendapat uang sekitar lima puluh ribu rupiah sehari, itu juga tak menentu, bergantung ada tidaknya proyek. Nah, di saat-saat sekarang, dengan menjajakan bendera selama sebulan, saya bisa mendapat untung bersih sampai tiga juta rupiah,” terang Mang Ujang.

Mang Ujang mengaku bahwa ia mendapatkan bendera-bendera dagangannya dari seorang juragan yang memang telah dikenalnya sebagai distributor bendera. Tak kurang dari empat juta rupiah ia keluarkan dari kocek pribadinya sebagai modal awal. Harga bendera yang dijajakannya pun bervariasi, bergantung dari ukurannya. Mulai dari yang kecil seharga dua ribu rupiah sampai bendera berukuran besar yang biasa digunakan di perkantoran dan dihargai puluhan ribu rupiah. 

“ Ah, saya mah begini saja. Nyari rejeki sambil merayakan kemerdekaan. Lumayan untuk modal anak-anak sekolah,” seloroh Mang Ujang sambil tertawa kecil. “ Saya hanya rakyat kecil yang cari makan,” lanjutnya kemudian.

Di tengah kemeriahan dirgahayu negara ini, Mang Ujang seolah merayakan kemeriahan tersebut dengan caranya sendiri. Kemeriahan itu dimaknainya dengan memanfaatkan euphoria masyarakat dalam menyambut hari kemerdekaan atau mungkin lebih tepatnya rutinitas masyarakat setiap 17 Agustus: memasang bendera di depan rumah. “ Saya bukan orang yang senang mengeluh, apalagi menuntut,” terang Mang Ujang. Ia lalu bertutur bahwa dengan kehidupannya sekarang ia telah cukup bahagia meskipun dapat dikatakan sangat pas-pasan apalagi ia harus menghidupi seorang istri dan empat orang anaknya yang kini telah beranjak remaja. 


“Merdeka itu bagi saya minimal saya bisa berjualan dengan bebas tanpa harus takut dengan apapun. Saya bisa bebas nyari duit, meski hanya menjadi buruh bangunan atau jualan bendera. Ya, kemampuan saya mungkin memang hanya baru sebatas itu saja. Doa saya sih, semoga anak-anak saya tidak mengulang apa yang saya lakukan. Semoga saja kehidupan mereka di masa depan jauh lebih baik dan memiliki profesi yang lebih dihormati,” tutur Mang Ujang panjang lebar.

Di tengah obrolan hangat kami, sebuah mobil menepi, membeli dua buah bendera berukuran besar. Dengan cekatan ia layani sang pembeli. Senyum Mang Ujang kembali mengembang demi melihat rupiah yang disodorkan oleh pembeli tersebut. Adegan itu tersaji hanya dalam hitungan detik di depan mata saya, namun ia begitu dalam menyentuh. Bendera itu bukanlah hanya sekadar barang dagangan yang dijajakan oleh Mang Ujang, namun ia adalah sebuah simbol kebanggaan. Entah bagaimana isi hati para pembeli yang mampir ke kios dadakan Mang Ujang, namun setidaknya saya yakin, ada yang terselip di hati Mang Ujang sebagai penjaja bendera, hidup di bumi Indonesia dengan tidak hanya berpangku tangan. Merdeka!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails