31.8.12

Mengenal Tenun -Menenun

Beberapa waktu lalu, ketika lebaran hendak menjelang, seorang kawan meminta saya untuk menemaninya menjadi bagian dari budaya popular lokal khas negeri ini, berbelanja baju lebaran! Jadilah kami yang selalu merasa muda ini iseng menelusuri pertokoan dan distro yang berserak di tengah kota Bandung. Perburuan yang melelahkan plus sulitnya menemukan baju idaman memaksa kami terdiam di emperan trotoar dan mulai ngalor-ngidul bercakap-cakap untuk sekadar mengumpulkan energi. Saya yang awam mengenai dunia perbajuan lalu mencoba menelisik dunia kain dan perbajuan kepada sang kawan yang kebetulan lulusan desain tekstil tersebut. Mulai dari batik sampai sablon ia jelaskan dengan panjang lebar dan cukup ilmiah sampai percakapan itu berhenti di dunia tenun menenun. Sayang, ia tak terlalu banyak mengerti tentang dunia yang satu ini meski sempat mendalaminya di bangku kuliah. Apa itu sebenarnya menenun? Pertanyaan itu mengawang sampai kaki menjejak ke rumah dan memaksa saya untuk kembali mencari tahu mengenai makhluk tersebut.

taken from http://id.wikipedia.org
Setelah oprak-oprek ke sana kemari, definisi menenun itu sendiri saya temukan. Menenun adalah proses persilangan dua kain dari helaian benang pakan dan benang lungsin yang sebelumnya diikat dan dicelupkan kedalam zat pewarna alami. Menenun sendiri ditengarai telah ada dari masa berabad-abad lampau, bahkan sejak jaman paleolitikum alias jaman batu. Pada masa itu, karya-karya tenunan yang dibuat banyak terinspirasi dari bentuk jaring laba-laba dan juga sarang burung. Pada perkembangannya, di masa masehi, kebutuhan manusia akan sandang membuat tenun-menenun pun tersebar luas, mulai dari dataran Eropa sampai menelusup ke wilayah Asia dan tentu saja masuk pula ke pulau-pulau yang kini dikenal dengan nama Indonesia.

Mesin Tenun Power Loom
Tentu saja kegiatan menenun ini sangat mengandalkan tangan nan terampil dalam pengerjaannya, sehingga pada masa-masa awal perkembangannya, ia hanya dapat diproduksi dalam jumlah yang sangat terbatas. Perubahan besar kemudian terjadi pada abad ke-18. Lahirnya berbagai penemuan baru mendorong terjadinya revolusi industri di berbagai wilayah di Eropa yang dimulai dari London,Inggris. Pada tahun 1733 John Kay menemukan mesin tenun bertenaga manusia yang dinamainya dengan flying shuttle. Permasalahan baru kemudian muncul, kecepatan menenun dengan mesin tersebut tak berimbang dengan kemampuan memintal benang sampai kemudian pada tahun 1764 menemukan mesin pintal yang dinamai spinning jenny. Penemuan ini kemudian disusul pula dengan ditemukannya mesin pintal bertenaga air pada tahun 1769 oleh Richard Right. Kondisi kemudian berbalik, gulungan benang menjadi banyak sehingga terjadi kekurangan tenaga penenun. Pada akhirnya, Edmun Cartwright menemukan mesin tenun bertenaga uap yang dinamai power loom. Karyanya ini menyeimbangkan antara jumlah penenun dan pemintal. Mesin tenun kemudian terus bergerak maju, salah satu yang cukup spektakuler di masa modern adalah mesin tenun sistem otomatis bernama Jidoka yang dibuat oleh Sachiki Toyoda dari Jepang.

Lalu bagaimana dengan ranah tenun menenun di tanah air? Karya-karya tenun di Indonesia, utamanya tenunan buatan tangan seperti kain ulos atau songket sangat terkenal hingga saat ini. Bahkan, tenun ikat dari Sumba kini tengah diusulkan kepada Unesco untuk menjadi warisan dunia. Di samping itu, karya tenun-menenun ini banyak pula berkembang di daerah-daerah lainnya seperti Kalimantan dengan tenun sambas dan tenun doyo serta di Sulawesi dengan tenun buton dan tenun donggala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails