27.7.12

Menelisik Sejarah Masjid Raya

Keberadaannya pernah begitu terpinggirkan. Di bagian belakangnya bahkan dahulu pernah menjelma menjadi sebuah tempat lokalisasi yang dapat dibilang lebih populer dibandingkan dirinya. Sempat tenggelam di antara bangunan-bangunan megah bertingkat yang dijadikan pusat perdagangan paling ramai di Kota Bandung, Masjid Raya Bandung yang lebih dikenal dengan nama Masjid Agung ini kini tampil sebagai sosok meyakinkan. Dua menaranya yang dibalut marmer dari Yunani menjulang setinggi 81 meter. Dari atas menara tersebut, semua orang dapat dengan leluasa menyaksikan kota Bandung yang kian penuh dengan bangunannya yang saling silang sengkarut.

Sebagai bangunan bersejarah, Masjid Agung pada awal keberadaannya memiliki makna  pragmatis, sintaksis, dan simbolik berdasarkan fungsi, letak dan nilai yang diwakilinya. Makna simbolik masjid ini tidak bisa dilepaskan dari posisinya sebagai masjid utama di Bandung dan karakter yang menyertai atribut “Agung” yang tidak bisa secara sederhana diartikan sebagai kemegahan tampilan semata melainkan juga dengan ikatan nilai tertentu dengan pengamatnya. Sejak awal dibangun dilakukan, Masjid Agung telah mengalami lima kali perombakan. Dalam rentang waktu tersebut lingkungan sekitar Masjid juga mengalami perubahan karena perkembangan tata kota dan pertumbuhan masyarakat. Renovasi tahun 2002 ini merupakan renovasi terbesar yang mengubah tampilan dan luas Masjid Agung. 

Masjid Agung Bandung dibangun bersama pendopo kabupaten tidak lama setelah Gubernur Jenderal Daendels memerintahkan pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung dari Krapyak ke lokasi sekarang. Krapyak terletak sekitar 11 kilometer sebelah selatan dari pusat Kota Bandung. Waktu pembangunannya sendiri sebenarnya memiliki beberapa versi. Namun beberapa sumber mengatakan bahwa masjid ini mulai dibangun pada tahun 1810. Pada awal berdirinya, Masjid Agung hanyalah masjid tradisional biasa berbentuk bangunan panggung yang terbuat dari bilik bambu dan atapnya dari rumbia dengan kolam tempat mengambil wudhu yang cukup luas dihalaman depannya.

Bila menilik dari sisi religiusitas, sebenarnya Masjid Agung merupakan cerminan dari kultur religius masyarakat Bandung pada masanya. Hal ini terlihat dari dijadikannya Masjid Agung sebagai sumber pembangunan kota di wilayah alun-alun. Masjid Agung yang berada di sebelah barat alun-alun merupakan satu kesatuan yang utuh dengan bangunan lain di sekitarnya. Di sebelah selatan terletak pendopo dan di sebelah timur terdapat bangunan Bale Bandung, yang kemudian berubah jadi bioskop dan akhirnya menjadi pusat perbelanjaan. Agak ke utara dari simpang empat Jalan Alun-alun Barat dengan Jalan Banceuy terdapat bangunan Penjara Banceuy, tempat Soekarno pernah ditahan dan mempersiapkan pembelaannya bertajuk Indonesia Menggugat.

Namun, itu semua dahulu. Kini masjid tertua di Bandung ini mungkin tak akan lagi menemui masa-masa keemasannya. Kiri kanannya telah dijelmakan lahan-lahan komersil sehingga tak menyisakan secuil pun kemegahannya. Belum lagi serakan pedagang kaki lima yang begitu semrawut tak tertata yang selalu datang dan pergi setiap saat semakin menggerus keagungannya. Jikalah harus berujar, kemegahan itu mungkin hanya tersisa dari sembulan dua menaranya yang tampak begitu kokoh memesona. Tanpa disadari, hari demi hari tampilan masjid semakin seperti tenggelam dalam lautan hiruk pikuk segala macam aktifitas tersebut di atas. Apalagi setelah dibangunnya pagar yang tinggi di sebelah timur bangunan masjid, maka Masjid Agung seperti hendak menghindar dari tekanan-tekanan dari luar yang boleh jadi memang mengganggu.

Tentu, meski kondisi kemajuan jaman terus mendesak keberadaannya, setidaknya, Masjid Agung masih berdiri di tempat yang sama dengan pada awal pendiriannya. Ia tetap menjadi salah satu ikon religius yang dimiliki oleh Bandung. Hanya saja, satu hal yang kurang mungkin adalah kurangnya daya integrasi keberadaannya dengan hiruk-pikuknya aktifitas komersial. Tentu bukan berarti digabung, tetapi diintegrasikan secara serasi, harmoni dan seirama. Apabila hal tersebut dapat tercapai, maka dapat dipastikan ciri religius dalam ruang dan bentuk arsitektur serta ruang kota di wilayah tersebut dapat semakin menonjolkan fungsinya sebagai pusat ibadah dan juga sekaligus sebagai wahana sosial penduduk Kota Kembang. Tapi satu hal yang pasti, kumandang adzan ketika sore merambat akan selalu menjadi hal terindah yang dimiliki oleh Masjid Agung. Tak pernah luntur meski tercabik masa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails