20.7.12

Mencumbu Balaikota

Minggu pagi adalah sebuah hari yang selalu saya nanti-nantikan. Entah bagaimana menurut orang lain, tapi bagi saya, ia adalah sebuah hari yang mampu memuaskan dahaga saya akan petualangan dan melihat kegiatan manusia-manusia lainnya. Dan ini adalah cerita tentang sebuah minggu ketika saya menelusuri sebuah keramaian Bandung di minggu pagi. Balaikota yang terletak di daerah Wastu Kencana menjadi tujuan saya hari itu.

Jam di tangan menunjukkan pukul sembilan pagi ketika kaki saya melangkah ke kompleks perkantoran yang sehari-harinya digunakan untuk kegiatan adminsitratif pemerintah kota Bandung tersebut. Di akhir minggu, tempat tersebut pun kerap mengubah dirinya menjadi sebuah ruang publik yang banyak digunakan oleh warga Bandung untuk sekadar mencari udara segar. Atas dasar itu pulalah kemudian hari ini saya mencoba untuk sedikit menilik sambil sekalian “cuci mata”. Balaikota (Balkot) sudah sangat ramai pagi itu. Ujaran seorang teman yang mengatakan bahwa tempat ini adalah salah satu tempat favoritnya di akhir minggu mau tak mau harus saya akui kebenarannya. 

Melihat Balkot di pagi hari sebenarnya cukup membuat saya terperangah. Bandung mungkin tidak memiliki kompleks olahraga yang lengkap seperti halnya Jakarta. Namun ternyata keterbatasan tersebut tak menjadi halangan bagi warganya yang hendak menyegarkan diri di pagi hari. Seolah tak peduli dengan lalu lalang kendaran yang begitu penuh di setiap sisi kompleks Balaikota, mereka melakukan aktifitasnya dengan begitu riang gembira.

Bagi saya sendiri, Balkot adalah sebuah tempat bersejarah. Ketika masih menginjak bangku SMP, saya acap mengunjunginya bersama teman-teman untuk sekadar bermain roller blade. Tempatnya yang cukup luas, belum lagi ditambah dengan kenyamanan yang ditawarkannya membuat saya betah berlama-lama meluncur. Usai mengeluarkan keringat bersama roller blade, saya dan teman-teman biasanya akan duduk-duduk di bawah salah satu pohon-pohon besar yang banyak terdapat di Balkot sambil melihat para skater berlatih beberapa trik skateboard. Itu dahulu, kini para skater itu tak terlihat batang hidungnya. Sebagian besar dari mereka memilih untuk berlatih di tempat lainnya.

Kembali pada kisah saya di minggu pagi. Kenangan masa lalu membuat saya memilih salah satu pojokan Balkot dengan ditemani sebotol teh kemasan. Mata saya berpendar ke seentaro Balkot. Seorang lelaki yang mengaku pengunjung setia Balkot tiba-tiba mengambil posisi duduk tepat di samping saya. Perkenalan pun dimulai, dan obrolan terjalin. “Sudah dua tahun belakangan ini saya senang main ke Balkot setiap minggu pagi,” ujarnya ringan memulai ceritanya.

Andi, demikian ia akrab disapa, bertutur bahwa kecintaannya terhadap tempat ini sebenarnya lahir karena keasrian dan juga keluasan yang dimilikinya. “Bandung adalah kota yang memiliki tingkat pembangunan cukup cepat. Ruang terbuka untuk menghirup udara segar pun jadi terus-terusan berkurang karenanya. Nah, bagi saya, Balkot adalah satu alternatif yang  pas untuk menumpahkan kerinduan terhadap ruang terbuka yang masih memiliki udara segar,” ungkapnya ringan.

Obrolan kami berlangsung cukup singkat, tak sampai 10 menit, namun dari obrolan tersebut, setidaknya saya menangkap sebuah pesan penting. Rindu akan udara bersih, kegembiraan melihat sesamanya untuk terus berusaha bugar, dan menjalin persahabatan dengan banyak orang adalah hal-hal yang mungkin menjadi alas an utama para pengunjung Balkot.

Ah, saya jadi merasa rugi jika terlalu lama duduk-duduk tanpa menjelajahinya. Usai menyeruput teh botol, saya segera kembali mengelilinginya. Sebentar saya mengamati sekelompok muda-mudi yang tengah asyik bermain voli. Senyum mereka kemudian mengembang, anggukan kecil saya berikan. Tawaran bermain voli tak saya sia-siakan. Tawa kami pun lalu berkejaran menyusuri pagi. Kini saya memiliki teman baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails