13.7.12

Catatan Kecil Pembukaan Helarfest : Lightchestra

Beberapa hari lalu, dengan gegap gempita saya dan dua orang paling absurd yang pernah saya kenal iseng-iseng mendatangi Babakan Siliwangi (Baksil), sebuah hutan kota yang tersisa di Kota Bandung. Lightchestra, demikian event yang merupakan bagian sekaligus pembukaan Helar Fest 2012 itu dinamakan. Sebuah acara yang konon hendak merespon empat hal penting : hutan, kampung, sungai, dan taman. Menengok tempat pembukaan itu diselenggarakan, sudah barang tentu di benak meluncur bayangan-bayangan segar penuh tanda tanya mengenai bagaimana hutan di respon oleh para penggiat kreatif.

Malam semakin beranjak. Kesalahpahaman bodoh membuat kami agak sedikit terlambat. Namun, tentu saja semangat masih menggebu-gebu. Memasuki kawasan Baksil, petunjuk jalan dengan lampu di tanah cukup menarik dan menambah rasa penasaran. Sayang, rasa penasaran itu berbuah sedikit kecewa. Pertunjukan laser yang dijanjikan hanyalah berupa sorotan laser yang tak terlalu ramai berwarna hijau. Beruntung, seorang teman dengan kamera murahan dan skill fotografi amatirnya mampu mengabadikan beberapa foto nan absurd yang setidaknya jauh lebih bisa dinikmati dibanding realitas yang dihadirkan oleh Lightchestra. Di tengah arena, silih berganti penampil dari berbagai band mengisi malam plus ditambah dengan kerlap-kerlip lampu dari sebuah komunitas pecinta Star Wars.

Merespon hutan pun kemudian berubah menjadi memindahkan keramaian urban ke tengah hutan. Akhirnya, hanya dua hal yang setidaknya mampu membuat saya bertahan di tengah kebingungan, menikmati dua band favorit saya, Homogenic dan Teman Sebangku. Selebihnya, sebagai awam, tak terasa sama sekali responisasi terhadap hutan dan juga “lightchestra” seperti yang saya bayangkan.

Tentu saya harus berpikir sedikit lebih positif tinimbang mendadak sakit kepala memikirkan apa sebenarnya konsep dari Lightchestra sendiri jika dikaitkan dengan proses merespon sebuah hutan. Isu penggusuran Baksil memang selama ini sudah santer terdengar. Apapun bentuknya, kegiatan yang diselenggarakan oleh Helar Fest kemudian seolah mencoba memberi pernyataan paling trengginas bahwa Baksil masih diperlukan untuk berbagai aktivitas bagi warga Bandung. Ini kota kami dan ini hutan kami, biarkan ia menjadi seperti itu! Mungkin jika harus diverbalkan kalimat itulah yang cukup menantang untuk diteriakkan.

Atas dasar alasan itu pula, meski sedikit dikecewakan, mungkin esok hari saya akan mencoba kembali menyambangi kegiatan Helarfest lainnya. Setidaknya, jika memang hendak mengaktifkan hutan, sungai, kampung, dan taman yang ada di Bandung, maka responisasi dari kesemuanya itu bukan terletak pada siapa dan bagaimana ia diselenggarakan. Ia ada karena ada yang mau mengakuinya, sesederhana itu.
Foto : Dian Mayangsari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails