6.7.12

Bermalam di Pasar Malam

Seumur hidup saya, hanya tiga kali saya sempat mendatangi keramaian pasar malam tradisional. Pertama adalah ketika saya masih bau kencur. Masih lugu nan polos. Hanya sekelebat dan samar-samar ingatan saya tentang kenangan itu. Di satu malam, entah dalam rangka apa, kami sekeluarga mendatangi sebuah pasar malam. Rumah hantu adalah wahana yang saya ingat jelas ketika itu. Seru, meski beberapa jam kemudian mata saya urung terpejam dan kepala dipenuhi imajinasi-imajinasi menyeramkan. 


Pengalaman kedua lalu terjadi secara tak disengaja. Di sebuah malam minggu paling durjana yang pernah saya miliki ketika berstatus mahasiswa baru dan tentulah mahasiswa, dimanapun ia berada, dilegalkan barkantung tipis serta tanpa sebiji pun kekasih. Raungan motor pinjaman menjadi hal paling realistis untuk membunuh malam dan -seperti yang telah saya bilang- tanpa sengaja saya menemukan pasar malam. Kali ini tak hanya rumah hantu yang saya ingat. Tong setan, komidi putar, sampai roda gila saya jelajahi dengan biasa-biasa saja. Maklum, ketika itu galau memang tengah membumi di hati.

Dan, perjumpaan terakhir saya dengan pasar malam terjadi beberapa minggu yang lalu. Sama-sama tak disengaja, hanya saja kali ini saya tak sedang galau. Seusai mengunjungi seorang kawan, sebuah pasar malam dengan semena-mena hadir begitu saja di tengah lapang di daerah Geger kalong. Pun kini saya khatamkan dan resapi betul semua wahana yang ada. Jadilah saya bergerilya kian kemari seolah melewati lorong waktu dan menembus masa kanak-kanak.

Tentu semua sepemahaman dengan saya. Pasar malam, apapun itu bentuknya, tak bisa sama sekali disamakan dengan Dufan atau Trans Studio Bandung yang tarif masuknya super mahal itu. Namun, inilah sesungguh-sungguhnya pesta rakyat. Pengunjung, sampai dengan penghibur, semua menjadi bagian dalam pesta ini. Dalam imajinasi paling melankolis yang saya miliki, pasar malam adalah penyelamat hiburan sebagian besar manusia yang biasa-biasa saja, common people. Manusia-manusia yang tak bisa seenaknya saja setiap hari mengunjungi mall yang kian hari kian kapitalis itu. Ini adalah penyakit kota besar yang memang sulit dihindari. Semakin besar ia, semakin besar pula pundi-pundi rupiah yang harus dimiliki, apalagi jika ia berkaitan dengan hiburan. Ya, dalam kondisi sosial seperti itu, masyarakat kerah biru pun semakin kesulitan untuk menemui sesuatu yang dapat dinikmati untuk membunuh penat.

Jadi, di lapangan yang tak terlalu luas ini, semua berpesta-pora. Bayang-bayang ketakutan setidaknya sirna untuk beberapa saat, meski ia terkadang hinggap tak disengaja melalui percakapan-percakapan yang hinggap sekelebat di telinga saya.

“ Isuk mah tiasa yeuh urang dahar, teuing bulan hareup mah, da asa beuki sepi beuki kadieu mah. Bosen meureun batur, leuwih resep ka BIP (Bandung Indah Plaza, salah satu Mall di Bandung)".
(Besok sih masih bisa minum, enggak tahu kalau bulan depan. Makin kesini makin sepi. Mungkin orang-orang sudah bosan dan lebih senang mengunjungi BIP).

Sang pemain tong setan itu berujar sambil menghisap dalam-dalam rokok kereteknya seolah-olah itu adalah batang terakhir yang ia miliki di sisa hidupnya. Tak sampai 10 menit kemudian lelaki muda itu menuju motor yang mungkin telah bertahun-tahun menjadi sahabatnya. Matanya berubah. Menyala. Kobaran api itu lalu melesat di tengah teriakan-teriakan bocah yang demikian kagum pada aksinya, meski mungkin hanya sedikit yang mampu memahami bahwa aksi hidupnya lambat laun mulai meredup tergilas modernitas kejam yang tak mengenal lelah mencari mangsa. Mengubah warna menjadi hitam putih. Abu-abu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails