1.6.12

Riwayat Gedung Sate

Siapa yang tak kenal Gedung Sate. Bangunan yang terletak tepat di depan Gasibu dengan ciri berupa tusuk sate pada bagian atas menara. Ciri tusuk sate yang dimiliki oleh Gedung ini memiliki cerita tersendiri yang cukup unik. Ornamen enam tiang dengan bulatan berbetuk mirip tusuk sate yang ditempatkan pada puncak atap tumpak merupakan perlambang biaya pembangunan gedung yang kala itu menghabiskan biaya enam juta Gulden. Gedung ini pun beberapa waktu yang lalu sempat dibikin heboh dengan pernyataan seorang Calon Gubernur yang berkeinginan untuk mengganti nama Gedung Sate karena dianggap tak memiliki makna dan seolah hanya tempat dagang sate atau warung sate.

Betulkah demikian? Gedung Sate bukanlah hanya bangunan bersejarah yang menjadi ciri Bandung, namun lebih dari itu, ia adalah “bukti sejarah” bagaimana pesona tatar pasundan telah membuatnya sempat terwacanakan menjadi kota utama di Indonesia yang kala itu masih bernama Hindia Belanda. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum (1916-1921), tercetuslah gagasan untuk memindahkan Ibukota Hindia Belanda dari Batavia ke Kota Bandung. Satu demi satu, gedung-gedung pemerintahan di bangun, termasuk Gedung Sate. Sayang, rencana tersebut putus di tengah jalan menyusul resesi ekonomi yang melanda dunia pada dekade 1930-an.

Pada masanya, gedung sate dikenal dengan nama Gouvernements Bedrijven (pusat pemerintahan). Dimulai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 27 Juli 1920, di tahun 1924, selesailah pembangunan Gedung Sate dan perpustakaan teknik yang paling lengkap di Asia Tenggara. Hal ini membuat -pada masanya- Gedung Sate menjadi bangunan bertaraf internasional yang dimiliki oleh Bandung. Bahkan, Bahkan, D Ruhl, dalam bukunya Bandoeng en haar Hoogvlakte yang terbit pada tahun 1952 menuliskan bahwa Gedung Sate adalah bangunan terindah di Indonesia.

Meski mendapat pengaruh dari arsitektur gaya eropa, dapat dikatakan bahwa Gedung Sate merupakan bangunan dengan Perpaduan gaya timur dan barat. Selain mengungkapkan kesan anggun, indah, megah, dan monumental, penantaan bangunan pada umumnya berbentuk simetris. Di samping itu, adanya pemakaian elemen lengkungan yang ritmis, berulang-ulang menciptakan "irama arsitektur" indah dan unik. Ornamen berciri tradisional seperti pada candi Hindu terdapat di bagian bawah dinding gedung, sedangkan pada bagian tengahnya ditempatkan menara beratap tumpak seperti meru di Bali, sesuatu yang lazim pada gaya arsitektur Islam. 

 
Jika harus berbicara lebih, memang, mengungkap Sate bukan hanya mengungkap tentang sisi historikal Bandung semata. Mengungkap Gedung Sate berarti pula mengungkap tentang begitu hebatnya sebuah pendirian bangunan di kota ini. Sebuah bangunan yang menjadi salah satu poin utama ketika berbicara tentang Landmark yang ada di Bandung.  Tentang lelaki yang berminat menjadi Gubernur Jabar itu? Ah, ya, sebaiknya ia belajar sejarah terlebih dahulu.

1 komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails