14.6.12

Mengingat Penganan Sunda

Bandung adalah kota dengan kekayaan kuliner tradisional yang begitu kaya, tak kalah dengan daerah-daerah lainnya. Bila di data, boleh jadi ada ratusan jenis menu makanan dan minuman tradisional khas Sunda. Lebih jauh lagi, jika dimaknai  secara filosofis, mungkin keragaman dalam setiap komposisi kuliner etnik Sunda, akan memberi acuan perilaku pada masyarakat.

Meski demikian, perihal pendataan ini sendiri memang belum pernah dilakukan. Mungkin ini karena penganan khas Sunda umumnya lahir bukan dari kultur keraton atau bangsawan. Ia muncul di tengah kelompok masyarakat pribumi kebanyakan sehingga sangat sulit untuk ditelusuri. Akan tetapi, Satu hal yang pasti, tulisan ini hanya sekadar ingin mengingatkan beberapa penganan tradisional Sunda agar kekayaan kuliner ini tak hilang tergilas jaman. 

Cakue
penganan tradisional yang terbuat dari adonan yang berbahan dasar tepung terigu ini masih cukup populer dan sangat mudah ditemui. Pengolahannya pun cukup sederhana, adonan digoreng, biasanya berbentuk memanjang, tapi rasanya? Sudah pasti mantap! Menikmatinya pun cukup dengan mencocol sang cakue ke saus sambal. Rasanya? Gurih-gurih pedas!     

Ali Agrem
Ali agrem atau yang juga dinamai donat sunda karena bentuknya yang memang menyerupai donat sangat mudah ditemui di warung-warung. karena bentuknya yang menyerupai kue donat. Rasanya menjadi khas karena menggunakan gula merah sebagai pemanisnya. Beberapa sumber menyebutkan, bahwa Ali Agrem adalah penganan yang merupakan hasil transformasi dari dodol Garut yang sangat terkenal itu.

Misro
Pernah mendengar makanan khas sunda bernama Comro? Nah Misro adalah antitesisnya. Ia adalah singkatan dari amis di jero, dalam bahasa Indonesia berarti manis di dalam. Sama halnya seperti comro, misro menggunakan parutan singkong sebagai bahan dasarnya, hanya saja, jika comro menggunakan sambal oncom untuk isinya, maka adonan parutan singkong misro yang berbentuk oval diisi oleh  gula merah. 

Putri No’ong
Penamaan penganan yang satu ini agak ajaib. No’ong sendiri dalam bahasa Sunda bisa berarti mengintip, Putri yang mengintip? Ah, penganan ini sudah barang tentu bukanlah judul sinetron. Memang, tak ada yang bisa menerangkan asal-usul namanya.Putri No’ong sendiri merupakan adonan tepung beras dan parutan kelapa dengan pisang di bagian tengahnya. Bentuknya bundar dan cukup tebal. Biasanya, ia disajikan dengan baluran parutan kelapa.

Cireng
Penganan ini masih cukup populer dan mudah ditemui, bahkan sudah melakukan berekspansi alias banyak juga ditemukan di kota lain. Cireng sendiri merupakan singkatan dari “aci goreng”. Cireng adalah adonan tepung kanji, tepung terigu, air, merica bubuk, garam, bawang putih, kedelai, dan daun bawang yang ditengahnya diberi sambal oncom kemudian digoreng. Warna cireng umumnya putih. Perihal rasa? Gurih-gurih pedas!

Awug
Makanan ringan yang satu ini terbuat dari beras dicampur kelapa dan gula merah. Oleh karena itu, ia juga kerap disebut dengan nama awug beas (beas dalam bahasa Sunda berarti beras). Ke semuanya kemudian dikukus dan disajikan hangat-hangat.  

Colenak
Penganan Sunda memang senang menggunakan singkatan-singkatan dalam penamaannya, tak terkecuali dengan yang satu ini.  Colenak adalah singkatan dari “dicocol enak”. Singkatannya yang bernuansa humor tersebut membuat ia mudah diingat oleh siapapun. Colenak merupakan makanan yang dibuat dari peuyeum (tape singkong) yang dibakar kemudian disajikan dengan saus yang terbuat dari parutan kelapa dan gula merah.

Peuyeum
Siapa yang tak kenal peuyeum. Saking terkenalnya, namanya pun menjadi salah satu lagu sunda yang cukup terkenal. Tidak heran jika makanan ini sempat menjadi salah satu makanan primadona Jawa Barat. Peuyeum adalah sejenis makanan khas orang Bandung yang terbuat dari singkong yang direbus dan diberi ragi, sehingga hasilnya sangat manis dan berwarna putih seperti ditaburi tepung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails