8.6.12

Geliat Tari Kaum Urban

Awal juni lalu, udara dingin Bandung Utara tepatnya di kawasan Teater Tertutup Taman Budaya Bandung sedikit terpanaskan dengan penampilan delapan penari berbakat nan bertubuh indah (oh, damn, kapan saya bisa memiliki belukar tubuh seindah itu!) yang menampilkan pertunjukan tari karya koreografer kelahiran Spanyol Blanca Li bertajuk “Elektro KIF”. 


Dibuka dengan latar bangku beserta meja layaknya sebuah ruang kelas, satu demi satu ke delapan penari tersebut mengenalkan diri dengan caranya masing-masing di depan panggung. Ow, permulaan yang seakan mengingatkan kita pada  film-film musikal ala SMA seperti di film Glee atau Step Up. Tentu saja, bukan unsur cerita yang hendak diangkat oleh Blanca Li pada pertunjukannya kali ini. Mengangkat latar belakang cerita keseharian pelajar yang diselipi oleh bumbu humor di berbagai bagian pertunjukan, gerakan tarian yang bertumpu pada kecepatan gerakan tangan yang diperagakannya menjadi satu hal yang sangat menarik.

Tectonic atau electro dance. Demikian jenis tari yang diperagakan itu dikenal. Kerap pula dinamai dengan gaya tarian urban, tari ini memang lahir dari jalanan Perancis yang memang tak pernah mati menawarkan kreativitas-kreativitas baru. Gerakan tangan yang cepat dan begitu mendominasi menjadi ciri utamanya. Sekilas, tarian ini seolah menggabungkan antara tarian hip-hop dan breakdance yang digabungkan dengan music techno yang begitu kental. Dimulai pada awal tahun 2000-an, perkembangan tari ini tak bisa lepas dari jaringan internet yang dengan cepat menularkan virus melalui jejaring video Youtube dan Daily Motion. Beat-beat cepat music techno yang menjadi pengiring tarian pun menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan tarian ini menjadi sangat dimintati.

Namun, seperti yang telah diutarakan sebelumnya, unsur cerita bukanlah hal utama yang hendak diangkat oleh “Elektro KIF”. Hal itulah yang kemudian justru menjadi kelemahan utama dari pertunjukan yang berlangsung selama satu jam tersebut. Alur cerita yang hanya menggambarkan suasana sekolah mulai dari belajar, mengetik, ujian, sampai bermain basket ini kerap terasa agak membosankan karena hanya menampilkan tarian tectonic yang terlalu panjang di sela-sela cerita yang tak memiliki kekuatan bertutur. 


Meski demikian, tentu sebagai satu jeni tarian kontemporer yang tengah digandrungi banyak kaum muda, “Elektro KIF” memiliki pesona tersendiri yang setidaknya membuat penonton memilih untuk tetap duduk di bangkunya masing-masing. Ya, bukankah sesuatu yang baru itu kerap kali terasa begitu menyegarkan meski ia ditampilkan dengan cerita yang biasa-biasa saja? Setidaknya, sebagai satu gerakan budaya, “Elektro KIF” malam itu cukup berhasil menyebarkan virus-virus ke dalam kepala saya yang tak memiliki bakat tari ini, virus yang mengatakan bahwa gerakan budaya tak perlu lahir dari gedung-gedung tinggi. Dari jalanan paling kacau balau sekalipun, kita bisa membuat satu gebrakan, satu pembaharuan yang menakjubkan untuk dicermati dan dinikmati.

Foto : Agus Bebeng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails