29.6.12

Digoyang Bajidoran

Ah, malam yang kian menusuk memaksa saya untuk menaikkan resleting jaket. Hampir saja saya memutuskan untuk pulang ke rumah jika saja handphone di saku tidak tiba-tiba berbunyi menyampaikan sebuah pesan singkat dari seorang teman: “Mari menyusuri pinggiran kota, ada yang menarik.”


Huff, pesan macam apa ini. Menyuruh datang tanpa ada keterangan tambahan apapun. Tapi entah mengapa, hati saya tergerak dengan kepala membuncah penasaran. Entah berapa lama saya duduk di jok penumpang. Panas rasanya bokong ini sampai kemudian di sebuah asing di sudut Cileunyi ia menghentikan motornya.

“ Sudah sampai?” saya bertanya.
“Ya,” jawabnya singkat.

Pelan saya langkahkan kaki dengan muka bodoh nan bingung. “Kita lihat Bajidoran,” ujar sang teman dengan santainya. Bajidoran? Makhluk apa lagi itu? Bertahun-tahun tinggal di kota ini, baru sekarang saya mendengar kata “bajidoran”. Setelah tanya kiri-kanan, akhirnya kata “bajidoran” itu dapat sedikit saya pahami. Bajidoran ternyata adalah semacam kesenian yang memertemukan dua atau lebih “tim” tari. Tim tersebut saling mempertunjukkan kemahirannya menari diiringi musik tradisional Sunda dengan beat cepat. Pada awalnya, bajidoran yang merupakan perkembangan dari seni tayub, ketuk tilu, banjet, dan tanji ini berasal dari budaya yang lahir di tengah-tengah masyarakat Pantura Jawa Barat, seperti di Majalengka. Waktu kemudian membuat Bajidoran mengalami akulturasi dengan ranah budaya asli Priangan dan menghasilkan bentuknya yang seperti saat ini. 

Di depan panggung, para penonton juga menari-nari dengan penuh kegembiraan. Sesekali para penonton melemparkan uang saweran ke panggung. Tua-muda tampak memenuhi arena pertunjukkan. Di tengah guyuran hujan saya jadi ikut-ikutan menari. Tertawa dengan penuh kegembiraan.

Lelah kemudian memaksa saya untuk beristirahat sejenak. Pandangan berpendar mengamati sekeliling. Anak-anak muda dengan dandanan masa kini yang bergerombol di depan stage begitu fasih menari. Para lelaki paruh baya dengan ikat kepala khas Sunda juga tak mau kalah, pun demikian pula halnya dengan kaum hawa dari berbagai kalangan usia. Bermacam generasi dari berbagai dekade itu berbaur menyatu dalam malam yang semakin larut dan ramai.

Tak ada lampu-lampu gemerlap, tak ada bebunyian sound system kelas wahid, atau raungan distorsi. Bajidoran berbagi kesepiannya yang begitu ramai menggema di tengah dekade yang kian maju ini. Besok, bisa jadi saya sudah kembali pada rutinitas hidup. Menyusuri jalanan kota, berpacu mengejar waktu, meninggalkan bajidoran yang tak akan bisa lepas dari ingatan. What a wonderful night!

Di salah satu sisi panggung, teman saya melambaikan tangannya memanggil dengan seutas senyum di bibirnya. Saya balas senyum itu sambil melangkah kembali ke tengah-tengah arena. Kembali turut menari, melarut bersama bajidoran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails